Ayatollah Ali Khamenei, rahbar Iran yang meninggal pada 1 Maret 2026, memang mengejutkan dunia, setidaknya bagi banyak pengamat militer. Peristiwa itu membangkitkan gairah perjuangan rakyat Iran alih-alih menihilkannya. Iran menepati janjinya bahwa ketika mereka diserang maka sah untuk mereka membalas serangan tersebut.
Balasan pertama itu ditujukan kepada pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah. Sangat disayangkan karena sebenarnya pada saat penyerangan terjadi perundingan sedang berlangsung. Saya kemudian teringat pada kisah pembantaian di Karbala sebuah noktah, yang seharusnya dapat terhindarkan di atas kertas putih.
Karbala menyiratkan perebutan kekuasaan, ada pihak yang merasa berhak menjadi khalifah sementara ada penduduk yang merasa orang lain lebih berhak. Pembantaian di Karbala itu terjadi pada siang hari, dan tokoh utama yang meninggal dengan kondisi mengenaskan adalah cucu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, bernama Husein. Husein pada saat itu dalam kondisi sedang berpuasa dan ia dengan sekelompok kecil kafilahnya tidak mungkin melawan ribuan pasukan yang diutus oleh Ubaidillah bin Ziyad. Husein sebenarnya ingin berbincang dengan khalifah untuk menyelesaikan sengketa. Naas, kondisi dilapangan berbeda 180 derajat. Tragedi itu tidak hanya menghilangkan nyawa Husein, tetapi juga putranya, kerabatnya, dan kafilah yang loyal padanya.
Apa yang terjadi 767 tahun yang lalu, meski tidak sama persis beberapa kondisinya mirip dengan yang terjadi pada Ayatollah Ali Khamenei. Ia sedang berpuasa dan serangan itu berlangsung pada siang hari. Ia dikabarkan sedang mengadakan rapat dengan kelompok kecil para petinggi Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), sementara konon bom dijatuhkan dari pesawat siluman Bomber B2 Spirit, beratnya mencapai 13 ton. Operasi itu bukan hanya tertutup melainkan sangat tak seimbang dan jantan, sekaligus mencederai proses perundingan.
Parahnya selain Imam Khamenei & petinggi IRGC, ada putri, menantu, dan bahkan cucunya yang juga kehilangan nyawa dalam kejadian itu. Jika dahulu tragedi Karbala menjadi sumber kedukaan Iran, kini kedukaan yang hampir serupa terjadi di Teheran. Jika Karbala menyajikan luka menganga, peristiwa pemboman di Teheran ibarat merobek luka lama yang seharusnya mulai pulih. Mirisnya, Trump secara terbuka mengatakan serangan itu demi membela kepentingan negaranya, yang terancam sekelompok setan yang menggerikan. Luka yang baru dirobek itu ibarat dipercik jeruk dan garam.
Amerika Serikat dan Israel diduga menganggap kematian Ayatollah Ali Khamenei akan memberikan efek psikologis pada rakyat dan pemerintahan Iran, agar tunduk pada keinginan mereka. Operasi ini sejatinya meniru serangan dan invasi Amerika dibeberapa wilayah timur tengah terutama pada era Arab Spring. Praktik serupa juga dilakukan diwilayah Amerika Latin (terakhir Venezuela, dengan menculik Presiden Maduro).
Analisis intelijen Amerika Serikat dan Israel itu rupanya keliru, karena Iran bukan bangsa kemarin sore, yang baru mengenal perang dan konflik. Secara sosiologis kita dapat mengurai ada tiga realitas konflik yang dihadapi oleh Iran yang telah teruji secara historis memperkokoh prinsip dan memupuk keberanian mereka.
Pertama, Iran adalah negara Syiah yang dikelilingi oleh kelompok Muslim Sunni. Ia menghadapi kelompok religius, yang secara vis a vis sama sekali berbeda, dan dalam beberapa tahun belakangan seperti “dikucilkan” bahkan tidak dianggap bagian dari Islam. Kedua, selain etnis Persia, Iran ditinggali oleh etnis Azeri, Arab, Kurdistan, dan etnis-etnis lainnya. Kehidupan multi etnis ini telah berlangsung selama bertahun-tahun. Iran memahami dan menyadari konflik horizontal antar etnis itu sangat mungkin terjadi. Terakhir, ada hubungan disosiatif antara Iran dan Barat (Amerika) yang telah berlarut-larut.
Hubungan disosiatif itu sampai pada perlakuan embargo selama bertahun-tahun oleh Amerika. Realitas itu menekan Iran baik internal maupun eksternal. Bagi saya tiga realitas konflik itu, menjadi modal yang tidak terbantahkan sehingga hari ini Iran memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi, kekuatan militer & teknologi yang mumpuni, dan kepiawaian dalam strategi.
Manajemen konflik internal dan eksternal itu memaksa Iran untuk selalu siap siaga dalam segala konflik yang muncul ke permukaan. Mereka menyiasatinya dengan sistem pemerintahan yang tertata, pengembangan teknologi dan militer yang lebih maju, serta kampanye citra yang lebih persuasif & menyentuh sisi humanis. Amerika tidak hanya gagal dalam menilai ketergantungan Iran pada satu figur. “Amerika bahkan kalah sejak hari pertama perang”, begitulah menurut Scott Ritter yang merupakan mantan perwira intelijen Korps Marinir Amerika Serikat sekaligus analis militer junior selama Operasi Badai Gurun. Bagi Ritter, Ali Khamenei mengorbankan dirinya untuk memantik reaksi rakyat Iran. Pemimpin tertinggi itu jelas tahu dirinya sedang menjadi target utama, tetapi ia tidak bersembunyi di bunker bawah tanah atau melarikan diri ke luar negeri.
Penyerangan bernuansa tekanan psikologis itu tidak menyeret masyarakat Iran ke dalam kekacauan, sebab bagi mereka duka sudah seperti sahabat. Amerika seperti mengutip Napoleon, on s’engage et puis on voit (kita berkomitmen, kemudian kita lihat nanti seperti apa). Seolah, tidak ada rencana cadangan jika efek kejut itu gagal mengacaukan Iran. Ketika 9 Maret 2026, putra Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei terpilih sebagai Rahbar Iran, hendaknya kepemimpinan itu tidak berbasis luka pribadinya ke dalam pusaran amarah.
Ingatlah saat Umar bertempur 30 tahun melawan musuh. Satu waktu musuhnya jatuh dan ia berkesempatan menghunjamkan tombaknya, tetapi sepersekian detik musuhnya meludahinya. Umar menyeka wajahnya, menghentikan tindakannya, lalu berkata, “mari kita sudahi hari ini dan bertempur lagi esok hari”. Musuhnya bingung dan bertanya mengapa Umar tidak menghabisinya saat itu, kata Umar “saya bertempur denganmu karena satu alasan yang benar dan jelas, tetapi tadi engkau meludahiku. Niatku telah berperang tercoreng karena amarah pribadiku”. Semoga Mojtaba seperti Umar, bukan seperti Trump dan Netanyahu.
Penyerangan Amerika dan Israel itu perlu dikecam bukan hanya karena mengabaikan proses perundingan, melainkan juga mengkhianati prinsip-prinsip perdamaian dan melanggar hukum humaniter. Tindakan tersebut memecah ketenangan kawasan sekaligus berimplikasi serius terhadap perekonomian dan ketahanan energi global. Tidak ada lagi kisah indah diakhir Ramadhan justru kepiluan dan kengerian. Dunia tidak berlomba mengejar malam seribu bulan tetapi malam seribu rudal.
Tiga minggu sejak Mojtaba menjadi Rahbar, Iran mengubah peta pertarungan menjadi sangat ekonomis, persis seperti ambisi Trump menguasai potensi SDA. Iran memamerkan perang asimetris tidak biasa yang mengejutkan banyak pihak mulai dari membalikkan framing media, menghancurkan aset vital dua negara lawannya bahkan, sehari setelah musuhnya meragukan kemampuan rudalnya, Iran merilis Rudal ke Diego Garcia (± 4000 km), seolah mengatakan, “kami bahkan bisa menyentuh wilayah Amerika”. Wacana melalui tindakan kadang bisa lebih berbahaya ketimbang pernyataan didepan kamera.
Semoga dunia lekas membaik.
