Selasa, Mei 18, 2021

Kadar Keimanan Seseorang, Senjata Sosial Masa Kini?

Postur Demokrasi Kita

Sejarah pernah mencatat, seorang Mahasiswa Universitas Charles, Praha membakar dirinya sebagai aksi protes invasi Uni Soviet terhadap Cekoslowakia untuk menghancurkan reformasi pemerintahan Alexander Dubcek...

Mbah Moen, dari Pesantren ke Hal-hal Penting

Mbah Moen, Mbah Maimoen Zubair adalah salah seorang benteng umat, pengayom bangsa. Pribadi karismatik yang kini telah mangkat. Jenis keberangkatan yang membuat iri para...

Quo Vadis Gerakan Mahasiswa Indonesia?

Gerakan mahasiswa Indonesia, dalam situasi kritis karena pengebirian demokrasi sekarang ini, semestinya segera merumuskan gagasan seraya mengambil inisiatif perubahan. Namun tanpa mengecilkan peran gerakan...

Lari Zohri dan Negeri yang Tak Tahu Diri

Zohri, begitulah orang memanggilnya. Dengan nama lengkap Lalu Muhammad Zohri, atlet sprinter (pelari) klas 100 meter, berusia 18 tahun ini berasal dari Kabupaten Lombok,...
Naifah Kurnia
Seorang perempuan penunggu musim yang fleksibel namun tetap berdasar.

“Ya pantes aja di azab soalnya banyak orang berdosa maksiat terus”. Kutipan ini saya baca dari seorang netizen di media sosial yang mengomentari video bencana alam di Indonesia, karena beberapa bulan terakhir ini sebagian wilayah Indonesia dilanda bencana.

Mulai dari tsunami, banjir, gempa, tanah longsor, angin ribut dan lain sebaginya. Seketika saya merasa sedih baca komentar orang-orang di media sosial dengan penuh emosi kebencian tidak jarang diantara mereka mengaitkan bencana tersebut dengan agama, dan politik.

Kok terkesannya seperti Tuhan tidak sayang kepada umatnya kemudian membuat huru-hara di muka bumi untuk mengazab orang-orang khususnya di Indonesia yang dilanda bencana alam. Saya pikir tidaklah sesempit itu karena seperti yang diajarkan dalam agama bahwa Tuhan itu maha pengasih dan penyayang jadi berbaik sangkalah.

Rasanya tidak etis mengaitkan bencana alam dengan dosa yang diperbuat para korban menurut saya ini merupakan prasangka buruk dan fitnah yang menyakitkan, tidak terbayangkan jika saya ada di posisi orang yang sedang di landa bencana alam kasihan tidak terbayang secara pskilogisnya mereka berduka kehilangan orang yang dicintai dan mencintai mereka.

Kemudian diwajarkan dan diolok–olok seolah-olah para korban memang pantas mendaptkan bencana alam itu oleh para netizen Indonesia yang tidak bertanggung jawab di media sosial. Saya suka bertanya-tanya “apa ya pendapat sang Pencipta terhadap orang yang mencintai-NYA tetapi sampai rela melukai sesamanya dengan dalih agama?”

Kadar keimanan seseorang selalu di kaitkan dengan bencana alam, dosa dijadikan sebagai senjata sosial semua orang sibuk mengurui, sibuk berbantah-bantahan untuk meraih derajat yang lebih tinggi, merasa paling suci dan beradab.

Bersikap seolah-olah mereka adalah Tuhan dengan gampangnya menentukan Surga dan Neraka, orang berdosa, orang suci serta menilai seseorang maupun suatu kejadian dengan sembarangan tanpa dasar yang jelas dan mencari tahu kebenarannya.

Baik atau buruk, benar atau salah, bukan hak kita untuk memberikan penghakiman terhadap sesama. Sebab kita tidak pernah tahu apa saja yang sudah pernah mereka lalui dalam hidupnya kita melihat bahwa dosa seringkali dijadikan pula alasan dari semua bencana atau mendatangkan azab yang terjadi di Indonesia padahal nyatanya secara sains Indonesia merupakan daerah pertemuan tiga lempeng tektonik besar, yaitu Lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Lempeng Pasific.

Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan Lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusa Tenggara, sedangkan dengan Lempeng Pasific berada di utara Papua dan Maluku Utara. Ya sudah seharusnya warga negara Indonesia belajar sejak dini mengenai bencana alam, harus siap hidup berdampingan dengan bencana yang kapan saja akan terjadi sehingga kedepannya tidak ada lagi orang yang menyangkut pautkan keimanan dengan bencana alam.

Medium is the message”, demikian kata Mc Lhuhan dalam buku Understanding Media (1964) menurut saya masalah sosial seperti ini yang menarik perhatian kita bersama, padahal kita hidup di zaman modern pengetahuan dan ilmu teknologi sudah begitu canggih, medium informasi telah beralih tapi rupanya kesiapan mental dan perilaku para penggunanya malah mengalami kemunduran.

Seolah yang terjadi saat ini teknolgi telah membunuh kecerdasan manusia itu sendiri tidak ada ruang untuk berdiskusi yang ada hanyalah hujatan membela kebenaran menurut dirinya sendiri. Saya meyakini di Agama manapun kebaikan itu untuk di terapkan dalam kehidupan sehari-hari saling mengasihi sesama makhluk hidup tanpa memandang perbedaan.

Setelah merasakan kekesalan dari ulah komentar netizen karena hampir setiap suguhan dalam media sosial yang memberitakan tentang bencana alam pasti aja ada orang-orang sok menjadi hakim dan polisi moral untuk mengadili setiap perbuatan baik buruknya seseorang.

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan saya adalah “ko netizen mudah sekali ya menghakimi, jadi sok tahu dan seakan-akan apa yang mereka lakukan adalah hal benar?” oh ternyata sedikitnya saya paham bahwa masyarakat Indonesia ini pada umumnya senang melakukan interaksi sosial dan bukan masyarakat individualis jadi munculnya keinginan untuk mencampuri urusan orang lain adalah salah satu bentuk kepedulian terhadap sesama tujuannya untuk memberikan saran yang baik.

Hanya saja semakin kesini semakin berlebihan dan mengarah ke negatif sehingga orang enggan untuk merima masukan contoh kecilnya seperti “sekadar mengigatkan, sampaikanlah  walau hanya satu ayat maka kamu akan di mudahkan urusannya, jika tidak disampaikan akan terkena sial seumur hidup” mungkin sekilas biasa saja tapi bukankah seharusnya setiap kebaikan itu selalu membawa kegembiraan dan kebahagiaan bagi si penerimanya? Ya tentu saja seharusnya membawa kegembiraan tapi ini malah membawa kegetiran perasaan sehingga si penerimanya enggan untuk menerima masukan tersebut.

Jadi untuk para netizen yang budiman sudah saatnya kita bersikap menerima segala bentuk perbedaan yang ada, menghargai orang lain jangan asal menghakimi si A berdosa si B suci karena kita bukan Tuhan kita tidak tahu apa yang sudah mereka lewati,  boleh saja memberikan masukan ataupun saran tapi janganlah berlebihan.

Peduli sih boleh- boleh saja tapi bukan berarti kita memiliki hak untuk berkomentar, menilai, apa lagi menghakimi secara mutlak. Karena kita belum tentu baik dimata Tuhan di bandingkan dengan mereka yang kalian caci maki dan yang terakhir alasan terpenting kenapa kita tidak pantas menilai baik buruknya orang lain adalah karena kita sendiri tidak suka dihakimi jadi jangan melakukan sesuatu jika kita tidak suka orang lain melakukan hal yang sama kepada diri kita.

Semoga kita semua di jauhkan dari hal-hal buruk yang dapat merugikan orang lain, damai dan bahagia selalu.

Naifah Kurnia
Seorang perempuan penunggu musim yang fleksibel namun tetap berdasar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Hari Buku Nasional, Budaya Literasi Kita Masih Rendah!

Dalam sebuah video perjalanannya, Fiersa bersari pernah mengucapkan perbanyaklah membaca buku, supaya pertanyaan bagaimana cara menulis tidak perlu diucapkan lagi. Suatu ungkapan yang menekankan...

Biografi dan Cara Berpikir Hamka (Bagian 1)

Sabtu pagi, 8 Juni 2013, Prof. James R. Rush dari Arizona State University, berkunjung ke tempat tinggal saya di Jakarta, untuk bertukar pikiran tentang...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.