Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Jangan Terlalu Benci DPR dan Jangan Terlalu Cinta KPK | GEOTIMES
Jumat, April 16, 2021

Jangan Terlalu Benci DPR dan Jangan Terlalu Cinta KPK

Menyambut Syawal: Harapan Baru Akan “Hoax”

Beberapa tahun belakangan, media sosial Indonesia layak dikatakan “sedang” tidak sehat. Banyak konten-konten yang tidak bermanfaat muncul, fitnah diluncurkan, prasangka buruk diumbar, caci maki...

Duka Nduga, Duka Pembangunan Indonesia

Selasa, 4 Desember 2018 Indonesia mendapat kabar tentang penembakan pekerja PT. Istaka Karya yang sedang membangun jembatan. Beberapa sumber mengatakan 31 pekerja gugur dibunuh,...

Perekonomian Iran Diterjang Embargo

Memasuki empat puluh satu tahun, Iran menjalani hukuman sanksi embargo ekonomi dari Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutunya. Baqer Moin dalam bukunya “Khomeini: Life...

Mengapa sepak bola harus berterima kasih kepada Twitter

Anda bisa bayangkan apa yang terjadi di masa sepak bola industri andaikata kita tak mengenal sebuah situsweb micro-blogging bernama Twitter? Kalau anda sudah lupa,...
Rahmat Zuhair
Mahasiswa Institut Pertanian Bogor

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi baik secara langsung atau melalui perwakilan dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum.

Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara. Demokrasi juga merupakan seperangkat gagasan dan prinsip tentang kebebasan beserta praktik dan prosedurnya. Demokrasi mengandung makna penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia.

Indonesia merupakan salah satu negara yang menggunakan sistem demokrasi, Indeks Demokrasi Indonesia pada 2018 sebesar 72,39. Kalau dibandingkan dengan IDI 2017, tahun 2018 mengalami kenaikan, meskipun naiknya 0,28 poin. Apakah dengan kenaikan indeks demokrasi sejalan dengan kenaikan kualitas daripada output demokrasi itu sendiri?

Indonesia merupakan negara yang menganut Trias Politica, dimana terdapat pembagian fungsi dalam menjalankan pemerintahan. Yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Orang orang yang menjalankan 2 dari 3 fungsi yang disebutkan merupakan hasil dari demokrasi itu sendiri.

Eksekutif contohnya yaitu Presiden dan Wakil Presiden dipilih secara demokratis, yang tidak kalah pentingnya adalah para wakil rakyat yang menjalankan fungsi legislatif merupakan salah satu output demokrasi. Kembali pada pertanyaan diawal apakah output demokrasi berkualitas dan dapat dipercaya?

Kita dapat melihat dari hasil survei yang dilakukan oleh salah satu lembaga survei, Hasil survei mendapati bahwa, 5 persen masyarakat sama sekali tidak percaya dan 40 persen tidak percaya terhadap DPR RI.

Angka itu jauh di atas tingkat ketidakpercayaan masyarakat terhadap presiden sebesar 19 persen dan KPK sebanyak 13 persen. Untuk lembaga eksekutif dapat kita katakan tidak terjadi penurunan kualaitas ataupun mengalami paradoks dalam artian demokrasi sebenarnya.

DPR menjadi lembaga yang korup, lembaga yang paling tidak terpercaya, lembaga negara yang isinya tukang tidur, lembaga negara yang tidak punya karya. DPR adalah anakdari demokrasi apakah gen buruk DPR turun dari Gen ibunya yaitu suara rakyat ketika pemilihan umum? Dapat kita katakan seperti itu.

Apakah tidak mejadi bumerang bagi kita rakyat biasa yang memilih mereka dan kemudian kita mengakui bahwa lembaga DPR sebagai lembaga yang paling tidak bisa dipercaya, dapat kita katakan secara tidak langsung suara rakyat adalah suara suara yang tidak dapat dipercaya.

Gerakan Pencerdasan

Melontarkan kritik kepada DPR adalah hal yang boleh saja dilakukan akan tetapi apakah kritikan dan mosi tidak percaya kepada DPR apakah solusi untuk mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap suaranya sendiri? Tentu bukan, aktivis pergerakan, mahasiswa, orang orang yang peduli dinegeri ini lebih baik melakukan upaya preventif terhadap perjalanan demokrasi Indonesia.

Contohnya ketika pemilihan wakil rakyat “orang baik” harus turun dan melakukan pencerdasan kepada rakyat agar tidak terjadi pembelian suara ataupun mencegah pemilih dengan mata tertutup.

Demo (Arti Luas) seharusnya dilakukan ketika berlangsungnya kampanye para wakil rakyat, serukan kepada rakyat bahwa wakil rakyat yang pantas untuk dipilih itu seperti apa dan posisi suara rakyat hari ini sangat menentukan indonesia kedepannya. Menjadi hal yang lucu ketika kita mengkritik DPR yang ingin memperbaiki gedungnya, bukankah gedung senayan milik kita sebagai rakyat.

DPR ingin membentuk UU MD3 kenapa harus dilarang? Bukankah itu memperkuat standing position kita sebagai rakyat dengan DPR sebagai wakil kita diperkuat. Sudahlah, akan banyak orang yang mengkritik hal ini karena kita semua sudah trauma dengan lembaga perwakilan yang satu ini.

Seharusnya kita semua sadar ketika pemilihan umum kita semua harus menjadi konstituen yang cerdas dan tidak gampang dibeli suaranya. Jangan salahkan DPR tetapi salahkan kita semua, apakah kita sudah cerdas dan tidak KKN terhadap satu suara yang kita milki? Apakah pada saat itu kita semua menjadi rakyat yang idealis dan tidak tidur ketika calon wakil rakyat kita menyampaikan visi misi? Coba kita tanyakan lagi apakah yang mengkhianati suara rakyat hari ini itu DPR atau Rakyat sebagai Pemberi amanah itu sendiri?

Untuk Orang Baik di DPR

Menjadi wakil rakyat tentunya menjadi pesuruh rakyat, tentu DPR mempunyai kekuasaan lebih dalam menyampaikan seluruh aspirasi masyarakat. Tentu masih ada harapan rakyat kepadamu untuk menjadikan lembaga perwakilan ini menjadi lembaga yang lebih baik kedepannya.

Menjadi lembaga yang terbuka dan transparan dalam kinerja. Kami semua mengharapkan kepada orang baik yang ada di senayan, bantulah rakyat yang baik dengan menampar kawan kawan DPR yang mungkin berniat buruk di senayan.

Walaupun sebagian rakyat belum cerdas dalam menentukan suaranya untuk diberikan kepada siapa ketika pemilu maka bantulah kami rakyat Indonesia dengan menjadikan dirimu sebagai wakil rakyat yang baik. Kami harapkan untuk periode lima tahun kedepan orang baik di senayan semakin banyak.

Untuk Rakyat Indonesia

DPR bukanlah Cuma milik mereka yang duduk di senayan, DPR adalah milik kita semua. Wakil kita yang ingin memperkuat lembaga DPR seharusnya jangan dilarang, wakil kita ingin merenovasi gedungnya seharusnya jangan dilarang, tetapi apalah daya saat ini kita dibayang bayangi oleh citra DPR yang buruk sehingga kita tidak sadar bahwa kita mendapatkan karma dari ketidakcerdasan kita disaat pemilihan umum.

Jangan sampai kita mengadu domba sesama anak negeri dengan ketidakcerdasan kita dalam memilih. DPR adalah representasi kita di pemerintahan seharusnya kita semua sama sama menciptakan DPR yang kuat dan DPR yang jujur dimulai dari kita sebagai konstituennya. Kritikan Terhadap DPR saat sekarang adalah kritikan terhadap kita sebagai rakyat juga, mari berinstropeksi diri, kedepannya kita harus lebih percaya dengan suara kita sendiri.

Jika rakyat cerdas memilih, DPR akan kuat dan jujur, dan tugas kita selanjutnya adalah mengawal eksekutif bukan memojokkan suara kita sendiri (DPR). Tulisan ini bukan karena membenarkan sikap DPR saat ini tetapi hasil dari renungan bahwa yang seharusnya terjadi adalah bukan seperti hari ini. DPR seharusnya kuat dengan berjalan bersama sama konstituennya yang cerdas. Bersama Rakyat Cerdas DPR Jujur dan Kuat.

Rahmat Zuhair
Mahasiswa Institut Pertanian Bogor
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.