Senin, April 19, 2021

Jangan Abaikan Ranah Minang

Gus Dur, Demokrasi, dan Paranoia Hantu PKI

“Tidak boleh lagi ada pembedaan kepada setiap warga negara Indonesia berdasarkan agama, bahasa ibu, kebudayaan, serta ideologi.”KH. Abdurrahman WahidSelamat datang di bulan September, bulan...

Generasi Milenials dalam Pusaran Industri 4.0

Menurut Airlangga Hartarto Indonesia akan menjadi pemain kunci di Asia dalam implementasi Industri 4.0, keyakinan tersebut dilandasi atas dua potensi yakni pasar yang besar...

Reklamasi: Menggusur Kebudayaan Pesisir

Kini kota-kota tengah berdandan. Berias molek, menampilkan keseksiannya. Gincu merah merona di bibir pantainya hasil reklamasi. Bedak produk penggusuran diriaskan pada kota yang dianggap...

Apakah Kelebihan dalam Asuransi Itu Riba?

Ada yang berkata, asuransi itu riba. Di mana letak ribanya? Pada kelebihan dari manfaat yang diterima dibanding premi yang dibayar. Misalnya ada orang baru bayar...
h312y83
Saya orang Timor, hitam, keriting dan ya begitulah...

Beberapa hari terakhir selepas pilpres jagad media sosial ramai dengan hastag boikot nasi Padang sebagai bentuk protes para pendukungnya Jokowi terhadap kekalahan telak suara Jokowi yang berasal dari Sumbar.

Kita semua tahu bahwa pada pilpres 17 April lalu Sumbar memenangkan Prabowo dengan perolehan 87% suara yang jika diteliti lebih jauh, perolehan suara Prabowo di Sumbar tidak berbeda jauh dengan perolehan suara Prabowo ketika pilpres 2014 yang lalu.

Ada pertanyaan, kenapa orang Minang lebih memilih Prabowo ketimbang Jokowi pada pilpres kali ini? Apakah orang Minang lupa bahwa selama periode 2014-2019 sebagai Presiden beliau tidak membangun ranah minang?

Apa kelebihan Prabowo, dan apa yang telah dilakukan seorang Prabowo di ranah minang sehingga orang minang tetap memilih Prabowo pada pilpres 2019? Ini pertanyaan-pertanyaan mendasar dan pekerjaan rumah yang sebaik dikaji ulang oleh Presiden terpilih 2019 untuk menentukan langkah konkrit pembangunan yang berkesinambungan dari sabang sampai merauke.

Tentu hal itu, tanpa memikirkan daerah mana yang menjadi basis suara kemenangan dan daerah mana yang bukan basis suara kemenangan pada pilpres 2019.

Sudah rahasia politik umum bahwa dimana pada suatu daerah menjadi basis kemenangan, pada daerah itu pula pembangunan akan dititik beratkan atau difokuskan. Sementara di Sumbar Jokowi kalah telak, dan apakah Jokowi akan fokus membangun Minang?

Hal sebaliknya jika Prabowo menjadi presiden, apakah Prabowo akan fokus membangun Bali/NTT yang notabene mayoritas suara penduduknya menjatuhkan pilihan pada Jokowi?

Sebagian orang berpendapat bahwa jika Jokowi terpilih menjadi presiden 2019, kemungkinan besar ranah Minang akan sulit mendapatkan fasilitas pembangunan sebab bahkan di periode terakhir Jokowi memimpin pun orang Minang tak kunjung mendukung Jokowi.

Sebagian lagi berpendapat bahwa karakter Jokowi tidaklah demikian. Jokowi disisa kepemimpinan beliau pada periode terakhir akan memfokuskan diri pada pembangunan SDM yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Semoga tulisan ini dapat menjangkau para elit politik negeri ini untuk melihat lebih jeli apa sebenarnya yang menjadi keinginan orang Minang sehingga tidak ada lagi pertanyaan pertanyaan skeptis juga pesimis akan adanya pembangunan yang merata atau tidak berdasarkan dukungan pada figur-figur politisi yang sedang dan akan memimpin atau yang akan berkontestasi dalam meraih kepemimpinan di Indonesia yang kita cintai bersama.

h312y83
Saya orang Timor, hitam, keriting dan ya begitulah...
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.