OUR NETWORK
Minggu, Oktober 2, 2022

Ironi Berita Media Online dan Kita Maunya Gratisan

Muhammad Arsyad
Menulis esai dan opini, tinggal Kota Pekalongan bagian utara

Manakala kita mendapat sebaran link berita, atau menemukan berita di media online dan membacanya, ada dua hal yang bakal terjadi. Pertama, kita akan menelan informasi dari berita tersebut mentah-mentah. Kedua, kita akan menghardik betul berita tersebut kala kita menganggapnya sebagai berita sampah.

Perputaran arus informasi memang selalu begitu. Kita kadang memperoleh berita bermutu, kadang tidak. Dan untuk yang kedua, saya kira kita lebih sering mendapatkannya. Hingga pada akhirnya muncul pula istilah berita sampah.

Kita—sadar ataukah tidak—hampir pasti mencaci media yang menyuguhkan berita-berita sampah. Jika mau menyebut medianya, tentu dipikiran saya—atau mungkin juga kamu—akan menaruh Tribunnews di nomor satu. Padahal di kancah media online, Tribunnews hanya satu dari sekian ratus atau bahkan sekian ribu media online yang memproduksi berita-berita “sampah”. Yang tentu saja mudah kita dapatkan sebab aksesnya yang hanya membutuhkan kuota belajar.

Media yang sering kali dianggap sebagai media yang bagus dengan mutu jurnalisme yang tak bisa diragukan lagi pun acap kali ikutan terjungkal menghadirkan berita-berita sampah. Apalagi kalau itu media online. Misalnya, Tempo dan Kompas.

Terkadang dua media ini dianggap bisa dipercaya informasinya. Namun sayangnya, hal itu tidak terjadi pada versi online keduanya. Pasalnya tak jarang pula menghasilkan berita yang bombastis dan um… kadang sampah. Jelas ini yang keliru bukan medianya, tapi karena ada embel-embel “online” di belakangnya.

Kita tentu tahu media online gratisan dengan koran atau majalah mempunyai perbedaan. Namun sayangnya masih banyak pula yang terjebak akan hal itu. Mereka ini—sebutlah warganet—suka sekali memprotes bahwa media online itu mesti bermutu.

Iya memang setiap media, apa pun itu bentuknya, mutu memang nomor satu. Apalagi media punya peran besar sebagai pilar keempat demokrasi. Tapi, problem berikutnya adalah mereka-mereka yang menuntut kualitas media online, hanya mau mendapatkan berita secara gratis.

Ya kalau mau gratis, nggak usahlah mengharap lebih pada media-media online. Kamu kira biaya operasional media online ini sedikit? Ya nggak to. Media online yang kamu baca saban hari itu, terutama yang gratisan itu dihidupi dari klik.

Klik ini bermuara ke adsense. Jadi setiap media online yang kamu baca tanpa perlu bayar itu hidup dari klik. Semakin banyak klik pendapatan mereka semakin banyak. Penghasilan per klik atau istilahnya cost per click (cpc) itu juga nggak menentu. Kadang satu klik mendapat satu dollar, lain waktu lebih dan bisa jadi kurang dari itu.

Dengan pendapatan yang terbilang sedikit, mereka (media online gratisan) itu harus mengakali pengeluaran. Bagaimana caranya menekan biaya produksi agar tetap bisa surplus. Jadilah satu wartawan dituntut untuk menghasilkan lebih dari satu berita.

Saya pernah dikasih tahu bahwa ada seorang wartawan media online dituntut untuk setidaknya menulis sepuluh berita dalam sehari. Atau ada juga yang sampai 20 bahkan 30 berita per hari. Kita yang bukan wartawan tentu pusing setengah mampus membayangkannya. Bagaimana bisa memproduksi berita sebanyak itu?

Maka saya pun maklum jika kualitas berita yang dihasilkan nyaris menyentuh titik terendah peradaban jurnalisme. Paling tidak, saya pernah berada di posisi itu. Sekali pada saat saya menjadi wartawan di Dinas Kominfo, dan kali lain saat saya bergabung dengan media lokal. Memang pada masa itu tidak ada target berita dalam sehari. Tapi gaji yang ditentukan dengan jumlah berita menjadi tekanan lain.

Namun sisi ini jarang disadari oleh warganet atau orang-orang yang hanya membaca media online gratisan. Pernah sekali waktu, saya ditanya seorang kawan soal media yang kualitas beritanya bagus. Saya pun memberikan opsi—tentu menurut penilaian subjektif saya.

Pada suatu ketika teman saya itu protes atas opsi saya. Dia bilang, media yang saya rekomendasikan itu tak jauh beda dengan media online yang menebarkan berita sampah. Saya tidak langsung protes dan membela serampangan media yang saya usulkan untuk dibaca.

Saya pun memilih menanyakan sebenarnya apa yang dia baca. Usut punya usut, kawan saya itu membaca media tersebut versi online-nya. Memang kala saya mengusulkan, media tersebut awalnya dari koran dan majalah. Namun karena tuntutan 4.0 dan ketakberdayaan terhadap internet, media tersebut pun mulai merambah ke ranah digital.

Kasus kawan saya ini mungkin hanya secuil sampel dari orang-orang yang percaya pada satu media, tapi memilih membaca versi gratisannya. Ya kualitasnya berbeda bos. Jangan njug menyalahkan medianya dan memukul rata semua media itu menghasilkan berita sampah.

Kalau mau agak berbobot kontennya, saya sarankan nggak usah ngoyo berharap kualitas media online gratisan. Sebab mengharap hal itu terjadi ibarat menghitung bulu beruang kutub. Yang kita menyentuhnya saja belum tentu bisa.

Lebih baik mulailah berlangganan media berbayar yang beritanya bisa diperhitungkan keakuratannya. Duh, kayaknya mahal deh. Ah, nggak juga sih, mahal itu relatif menurut saya. Di antara kita toh juga berlangganan Netflix, Iflix, Disney Hotstar buat nonton film. Lalu kenapa kita nggak mencoba hal serupa untuk kualitas informasi yang kita inginkan?

Biaya langganan media juga nggak mahal-mahal amat saya kira. Saya sendiri juga sekarang ini perlahan membaca berita-berita di media massa berbayar. Misalnya, di Koran Kompas atau Koran Tempo untuk mendapatkan informasi yang berkualitas. Meskipun koran, saya nggak membacanya secara fisik, tapi dalam bentuk koran digital.

Koran digital dan media online itu sungguh berbeda. Dan saya tak perlu kasih tahu bedanya, karena kamu pun sudah tahu. Hanya dengan uang Rp 30 ribu, kamu bisa langganan Koran Tempo sebulan. Atau dengan Rp 120 ribu kamu bisa menikmati berita-berita bermutu di Harian Kompas selama tiga bulan. Lho, nggak terlalu mahal to?

Kalau mau cari lebih murah lagi, bisa noh langganan Kumparan Plus, konten berbayar dari Kumparan yang cukup dengan Gopay Rp 20 ribu untuk menikmati segala fitur di dalamnya. Tentu kontennya berbeda dengan yang versi gratis.

Di Kumparan Plus, saya bisa menikmati cerita bersambung dari penulis-penulis kaliber Mahfud Ikhwan dan Rio Johan. Bahkan dari situ pula saya jadi bisa membaca argumen Pak Menparekraf, Sandiaga Uno dalam tulisannya, bukan sekadar hasil wawancara yang ditulis wartawan.

Jika tak berlangganan konten-konten bermutu semacam itu, ya jangan salahkan media online. Toh dalam keilmuan komunikasi, orang bisa memilih kanal atau media mana yang hendak ia baca. Jadi kalau kamu membaca berita di media online gratisan dan mendapat infomasi buruk, ya salah kamu sendiri kenapa baca berita di sana.

Muhammad Arsyad
Menulis esai dan opini, tinggal Kota Pekalongan bagian utara
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.