Selasa, April 20, 2021

Indonesia Gelisah, Galau, Merana

Market monopoli

Pada kesempatan kali ini penulis akan nge-share tentang pasar monopoli. Sebagaimana kita ketahui bahwa Pasar monopoli sendiri merupakan transformasi dari jenis-jenis pasar berdasarkan strukturnya...

Perempuan dan Perspektif Politik

Masyarakat internasional telah sepakat untuk tidak mentolerir perbuatan diskriminasi sesuai dengan Universal Declaration on Human Rights pada 10 Desember 1948. Isu diskriminasi memang bukan isu...

Langkah Ciamik Gus Ipul Menggandeng Via Vallen-Nella Kharisma

Memasuki tahun 2018, sebanyak 171 daerah, yang terdiri dari 17 provinsi, 115 kabupaten dan 39 kota akan menyelenggarakan Pilkada langsung dan serentak. Pilkada serentak...

Fatsoen Politik di Tahun Politik

Dinamika politik di Indonesia kian lama, kian menampakan wajah para pelakunya (politikus). Pasca deklarasi cawapres yang telah dilakukan oleh kedua poros terkuat Jokowi dan...
Damanhury Jab
Jurnalis suaraindonesia.co.id - General Manager Siberjatim.com Malang Raya

Sebuah kegelisan besar akhir-akhir ini terlihat menerjang konsistensi wajah Pendidikan bangsa. Membuat para akademisi kalang kabut, membuat tidak sedikit cendikiawan yang merontak dengan ujung penanya hingga lembar kertas dan kerboard komputer/laptopun jadi ngos-ngosan lantaran dipencet terus menerus.

Betul, Indonesia dan isinya tengah berada diambang kebimbangan. Ketika Identitasnya mulai luntur bersamaan dengan wabah Cepirit Intelektual karena salah konsumsi dan Puber Teknologi yang tidak memiliki anti Virus.

Entah fenomena ataupun tragedi, Bangsa yang sangat mulia ini makin hari menyajikan parodi badut – badut politik yang tidak tau malu dan sangat pandai bermain lakon. Bahkan jika layar televisi bisa bicara, mungkin sudah dia maki – maki badut – badut ini.

Melihat kejadian ini, saya ingin mengajak pembaca yang mungkin sejak tadi kebingungan dan mulai berpikir liar untuk kembali lebih liar lagi berpikir dan kemudian bersama menyadari. Iya, Perlu kita sadari bahwa kini bangsa kita telah tiba pada puncak keserakahan dalam merebut eksistensi dimata Dunia, sementara tidak sedikit kemubazziran yang muncul sebagai dampak dari ulah para pemilik Instruksi dan penjahat Palu Keputusan.

Indonesia sebagai bangsa kokoh yang dulunya menjadi kiblat dari negara – negara ternama di kawasan Asia ataupun bahkan Dunia, kini tidak jauh bedanya seperti barang mainan yang disetir oleh Pahlawan Kesiangan yang kerap kali pukul dada bahwa dia adalah acuan terbaik di muka bumi dalam berbagai aspek.

Diantara berbagai aspek tersebut, aspek terpenting yang sudah kita ketahui bersama adalah standarisasi mutu pendidikan bangsa yang lupa jalan pulang. Ditambah lagi dengan kebiasaan mendewa – dewakan tamatan luar negeri yang juga sejak hadirnya kembali di Tanah air sudah berperan aktif dalam menggiring gaya hidup generasi bangsa yang masih polos dan murni dengan nasionalismenya.

Sadar tidak sadar, setuju tidak setuju. Generasi bangsa hari ini terutama dikalangan kampus terlanjur kehilangan jati diri, otak dan budaya yang dibenturkan dengan teori dan gaya belajar negeri lain yang mengakibatkan kehilangan jati diri ini terjadi.

Saya kira ini juga merupakan dampak dari semakin meningkatnya presentasi jumlah tamatan luar negeri. Kenapa demikian? Para tamatan luar Negeri adalah generasi unggul bangsa yang dikirim ke luar negeri untuk diracuni berbagai virus gaya hidup luar kemudia menularkan itu di dunia perguruan tinggi di Indonesia.

Hadir sebagai tokoh dan sosok berpengaruh dengan tittle kampus luar negeri dimata generasi setelah dicanangkan Ilmu dan gaya serta metode belajar dari luar, hingga pengkultusan pola belajar yang mengedepankan metode dan pendekatan tradisional diabaikan dan dibuang ke bak sampah lantaran dianggap kuno dan tidaklah kompeten. Padahal generasi butuh itu semua.

Semenjak Instruksi Revolusi mental digulirkan oleh Ir. H Joko Widodo, hingga saat ini tampak perubahan semakin tidak terlihat dan mental apa yang hendak direvolusipun tidak jelas. Lantas, ini tanggungjawab siapa? Siapa yang salah, siapa yang benar?  Siapa yang mau membenahi? Jawab Akademisi, Jawab Politisi, Jawab.

Damanhury Jab
Jurnalis suaraindonesia.co.id - General Manager Siberjatim.com Malang Raya
Berita sebelumnyaSurvei Pesanan, Bolehkah?
Berita berikutnyaPinisi dan Keunikannya
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.