Senin, Juni 17, 2024

Indirect Experience Mercia Eliade dalam Fenomena Pawang Hujan

Nur Fadiah Anisah
Nur Fadiah Anisah
Belajar dan berproses di Pascasarjana UINSUKA.

Agama, bagi Mercia Eliade (1907-1986), merupakan sesuatu yang independen dan tidak terpengaruh hal-hal di luar agama seperti ekonomi, politik, dan lainnya. Dalam keyakinannya, justru agama lah yang mempengaruhi semua aspek kehidupan. Teori Eliade ini merupakan sebuah kritik terhadap kaum reduksionis – orang-orang yang menghilangkan aspek keagamaan yang paling substansial: Yang Sakral (The Sacred) – semisal Marx yang beranggapan bahwa kondisi ekonomi memberikan pengaruh terhadap cara beragama seseorang.

Untuk membuktikan keyakinannya tersebut, Eliade melakukan perbandingan dalam banyak agama pada masa arkais, dengan menemukan pola-pola ketuhanan yang sama kendati sebagian berbeda dalam simbol dan praktik. Dalam memahami teori Eliade, hal pertama yang harus dilakukan adalah memahami konsepnya mengenai The Sacred and The Profane (Yang Sakral dan Yang Profan).

Dalam sejarah kaum arkais, kehidupan selalu tentang dua dimensi berbeda: Yang Sakral dan Yang Profan. Yang Sakral terkait hal-hal di luar kehidupan sehari-hari manusia yang berulang-ulang dan  biasa, ia adalah wilayah supernatural, sesuatu yang ekstraordinasi, tidak mudah terlupakan, dan teramat penting. Yang Sakral merupakan tempat kesempurnaan dan keteraturan, tempat berdiamnya roh para leluhur, para kesatria dan dewa-dewi.

Di tempat lain, ia mendefinisikan Yang Sakral dalam versi masyarakat pra-modern sebagai suatu kekuatan yang dianggap sama dengan realitas. Yang Sakral dipenuhi oleh Yang Ada. Ia adalah keseluruhan realitas, keabadian, dan kedahsyatan.

Sedangkan definisi Yang Profan merupakan sesuatu yang biasa dilakukan manusia sehari-hari, mudah dilupakan, dan tidak terlalu penting.

Kendati Eliade membedakan dimensi Yang Sakral dan Yang Profan dalam kehidupan manusia, namun ia mengatakan bahwasanya Yang Sakral dan Yang Profan dapat “terhubung” dalam “pengalaman tidak langsung” (indirect experience).

Indirect Exprerience terhadap Yang Sakral dapat ditemukan dalam simbol dan mitos. Dalam prinsip Eliade, simbol dan mitos didasarkan pada prinsip kemiripan atau analogi. Sebut saja langit dalam masyarakat arkais dijadikan simbol untuk dewa-dewa, bulan sebagai simbol irama kehidupan yang teratur, sumber segala kekuatan, kehidupan, dan kelahiran, dan benda-benda lain di alam fisik yang menjadi bahan utama simbol. Sedangkan mitos, dalam pengertian Eliade, adalah simbol yang berbentuk narasi.

Fenomena Pawang Hujan di Indonesia

Dalam perhelatan MotoGP di Mandala, Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengatakan bahwasanya pemerintah menyiapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) agar cuaca buruk tidak terjadi pada perhelatan tersebut. Akan tetapi, pada kenyataannya, TMC tidak dapat menghalau hujan yang turun deras.

Tagar #Rara pada 20 Maret 2022 menjadi trending di Twitter karena aksinya “menghentikan” hujan dengan cara lokal. Rara Istiana Wulandari merupakan pawang hujan yan telah banyak diundang dalam banyak acara kenegaraan. Aksinya dalam MotoGP mendapat banyak sorotan sebab ditonton orang dari berbagai belahan dunia. Dalam akun Twitternya, MotoGP bahkan mengunggah foto Rara dan memberikan keterangan, “Thank you for stopping the rain!”

Dalam tulisan ini, kita tidak akan membahas keunggulan sains atas mistisisme atau mistisme atas sains. Yang perlu kita garis bawahi adalah kenyataan bahwa simbol dan mitos masih diyakini oleh sebagian orang pada zaman kita yang disebut modern, atau bahkan pos-modern. Hal ini tentu saja mendukung apa yang diyakini Eliade mengenai esensi utama agama yang tidak akan dipengaruhi apa pun: sakralitas.

Pawang hujan tentu telah ada sejak lama di Indonesia. Sejarah ini dapat kita lacak dalam tradisi di beberapa daerah di Indonesia. Contohnya, dalam tradisi Betawi, pawang diyakini sebagai sepasang dewa-dewi yang bernama Nenek dan Aki Bontot yang turun ke bumi untuk dan ditugaskan untuk memperbaiki kondisi alam yang dirasa timpang.

Tugas lain dari Nenek dan Aki Bontot ini yaitu mengajari manusia untuk bisa mengelola bumi, memahami tanda-tanda alam dan hewan, serta memperkenalkan alam gaib. Doa-doa islami dan sesajen menjadi simbol bagi pawang hujan di masyarakat Betawi untuk “menghentikan” hujan.

Berbeda dengan Rara, simbol yang ia gunakan adalah kayu dan asap yang dipukulkan pada pentungan yang akan menghasilkan getaran suara. Getaran dan teriakan pawang akan menghasilkan panas yang memecah awan. Getaran suara itu akan sampai ke telinga, hati, dan ke alam lain.

Pada saat pawang hujan melakukan meditasi, ia akan sampai pada tingkatan gelombang otak yang bernama theta (berhubungan terutama dengan kemampuan imajinatif, pada gelombang ini biasanya menunjukkan aktivitas tinggi ketika seseorang mengalami perasaan yang mendalam) dan pada saat itula seorang pawang dapat melintas ke alam lain atau wilayah sakral, dalam bahasa Eliade.  Hal ini dijelaskan oleh Rara dalam sebuah video wawancara yang diunggah oleh akun @Astee_mou di Twitter.

Pawang Hujan, dalam MotoGP atau tempat lain di Indonesia, merupakan sebuah indirect experience di mana Yang Sakral dan Yang Profan “bertemu”. Bagi Eliade, umumnya, simbol dan atau mitos seperti ini mengekspresikan satu keinginan kuat agar segala bentuk yang berlawanan segera sirna.

Simbol dan mitos tersebut berfungsi sebagai pendamai seluruh perbedaan yang ada supaya bisa kembali kepada kesatuan Yang Sakral. Selain itu, simbolisme langit atau simbol dewa-dewi merupakan simbol yang dapat menjadikan kehidupan ilahiah menjadi begitu dekat dengan manusia. Hal yang perlu dijadikan tambahan, bahwasanya konsep-konsep dalam simbol tidak dapat dilepaskan dari pengalaman hidup sehari-hari manusia di mana simbol itu muncul.

Simbolisme dalam pawang hujan tentu sangat sesuai dengan iklim tropis di Indonesia, hal ini tentu akan melahirkan simbol yang berbanding terbalik dengan iklim tandus di Arab, misalnya. Barangkali mereka akan melaksanakan ritual meminta hujan turun.

Akhir kata, simbol dan mitos yang menggunakan bahan utama alam fisik merupakan bahan paling jelas atau “inderawi” yang jadi imajinasi, bukti, pertanda, dan analogi bahwa Yang Sakral lah yang menciptakan dunia ini, bahwa Yang Sakral akan selalu menunggu waktu untuk “muncul”, dan bahwa sesuatu yang natural akan selalu membuka diri untuk menerima aspek supernatural. Fenomena Pawang Hujan di MotoGP Mandalika turut menggungat apa yang paling diagung-agungkan di masa kita saat ini: rasionalitas.

Daftar Acuan:

Daniel L. Pals. (2006). Nine Theories of Religion. 

Mercia Eliade. (1987). The Sacred and The Profane: The Nature of Religion

Teknologi Modifikasi Cuaca Disiapkan Jelang MotoGP, Sandiaga: Waktu Superbike Ada Pawang, tapi Tetap Hujan (msn.com)

Apakah Pawang Hujan Hanya Ada di Indonesia? Halaman all – Kompas.com

Nur Fadiah Anisah
Nur Fadiah Anisah
Belajar dan berproses di Pascasarjana UINSUKA.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.