Pada mulanya, iman adalah pengalaman—bukan pengumuman.
Ia lahir dari keterkejutan batin ketika seseorang merasa kecil, rapuh, namun sekaligus dipeluk oleh Yang Mahabesar. Karena itu, iman selalu bersifat personal sebelum menjadi sosial. Ia tumbuh di dalam dada, jauh sebelum dipamerkan di luar kepala.
Namun zaman kita adalah zaman yang tergesa-gesa. Bahkan iman pun diminta segera rapi, segera seragam, segera memiliki logo dan juru bicara. Maka lahirlah apa yang dapat disebut sebagai industri keislaman: ada distributor kebenaran, agen penentu halal-haram, hingga makelar yang mengatur siapa paling lurus dan siapa paling sesat.
Ironisnya, semua itu sering mengatasnamakan Tuhan—padahal Tuhan tidak pernah meminta dicarikan humas.
Banyak orang hari ini mengenal Islam bukan sebagai jalan pencarian, melainkan sebagai paket jadi. Tinggal ikut, tinggal taat, tinggal mengamini. Tidak perlu resah. Tidak perlu bertanya terlalu jauh. Sebab pertanyaan dianggap berbahaya. Keraguan dicurigai. Kesunyian dinilai sebagai tanda lemahnya iman.
Padahal justru di situlah iman bekerja: di wilayah ragu yang jujur, di ruang sunyi tempat manusia berani menatap dirinya sendiri.
Ibrahim tidak sampai kepada Tuhan melalui pengajian massal. Ia bertanya, mengamati, dan gelisah. Ia memeriksa bintang, bulan, dan matahari—lalu menolak semuanya—sebelum akhirnya berserah diri.
Hari ini, jika Ibrahim hidup, barangkali ia sudah dicap liberal, sesat, atau kebablasan akal.
Kita telah terbiasa dengan iman yang instan: iman yang diwariskan tanpa dihayati, iman yang dititipkan pada figur, bukan ditumbuhkan sebagai kesadaran.
Kita lupa bahwa Allah tidak pernah meminta manusia beriman karena ulama. Allah meminta manusia beriman karena tanda-tanda-Nya—karena langit, karena bumi, karena diri kita sendiri; karena luka, karena syukur, karena kegagalan yang menyadarkan.
Ulama—sebagaimana guru—adalah penunjuk arah. Namun arah bukan tujuan. Petunjuk bukan perjalanan. Dan yang paling berbahaya adalah ketika manusia berhenti berjalan karena merasa telah memiliki peta.
Banyak orang hari ini tidak takut kepada Allah, melainkan takut pada reaksi kelompoknya. Ia salat bukan karena rindu, melainkan karena khawatir dicurigai. Ia memilih pendapat bukan karena yakin, melainkan karena mayoritas.
Maka iman pun berubah dari kesaksian menjadi kepatuhan sosial. Padahal iman tidak pernah diminta untuk aman. Iman justru sering mengguncang. Ia menggugat kesombongan, mematahkan rasa paling benar, dan memaksa kita mengakui: aku hanyalah hamba yang sedang belajar mengenal Tuhannya.
Makelar iman tidak menyukai proses. Ia lebih menyukai hasil. Ia lebih memilih slogan daripada permenungan. Sebab proses melahirkan manusia yang merdeka, sedangkan slogan melahirkan pengikut yang mudah digerakkan.
Keislaman yang hidup bukanlah keislaman yang sibuk menunjuk kesalahan orang lain, melainkan yang sibuk membersihkan dirinya sendiri. Bukan yang gemar berteriak “kafir” atau “sesat”, tetapi yang gemetar saat berdoa: Ya Allah, jangan Kau serahkan aku kepada diriku sendiri.
Iman yang matang tidak tergesa-gesa menghakimi. Ia tahu betapa mudahnya manusia tergelincir—termasuk dirinya sendiri. Karena itu, orang yang benar-benar beriman justru cenderung rendah hati. Ia tidak sibuk membuktikan keimanannya di hadapan manusia; ia lebih sibuk menjaga kejujurannya di hadapan Allah.
Syahadat bukan deklarasi politik. Ia adalah sumpah sunyi:
bahwa aku bersaksi—bukan karena ikut-ikutan, bukan karena tekanan sosial, bukan karena ketakutan pada ancaman manusia—melainkan karena aku telah, dalam batas kemanusiaanku, merasakan kehadiran-Mu.
Dan kesaksian itu tak dapat diwakilkan.
Tidak oleh ustaz.
Tidak oleh organisasi.
Tidak oleh mayoritas.
Ulama boleh salah. Jamaah bisa keliru. Sejarah mencatat betapa sering agama dipakai untuk membenarkan kekerasan, keserakahan, dan kekuasaan. Jika iman sepenuhnya dititipkan kepada manusia, kita sedang mempertaruhkan Tuhan pada kelemahan makhluk.
Islam datang bukan untuk menghapus akal, melainkan membimbingnya. Bukan untuk membungkam nurani, melainkan menyucikannya. Bukan untuk menyeragamkan manusia, melainkan memuliakan pertanggungjawaban personal setiap jiwa.
Kelak, kita tidak akan ditanya, “Siapa ulama yang kau ikuti?” atau “Golongan apa yang kau bela?”
Kita akan ditanya: apa yang kau lakukan dengan cahaya yang pernah Kuberikan kepadamu?
Barangkali tugas terbesar seorang muslim hari ini bukanlah membela Tuhan—karena Tuhan tidak membutuhkan pembelaan—melainkan membela kejujuran imannya sendiri.
Berani beriman tanpa makelar.
Berani bersaksi tanpa pengeras suara.
Berani berdiri sendiri—dan tetap bersujud.
