Sabtu, April 24, 2021

Ilmu dan Peradaban Islam

Kado Ulang Tahun ke-46, Taman Mini Mau Dibawa Kemana?

20 April 2021 merupakan hari ulang tahun ke-46 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Momentum ulang tahun yang biasanya dirayakan secara meriah dan dikemas...

Perempuan dalam Kemelut Sejarah: Tribute to Nawal El Saadawi

Sejarah perempuan adalah sejarah kelam yang diliputi diskriminasi dan eksploitasi. Penuh kepedihan dan penderitaan. Peran mereka di ruang publik dibatasi, bahkan dipinggirkan. Begitu juga...

Panggung Politik Pejabat Milenial

Pepatah Arab mengatakan ‘syubbaanul yaumi rizaalul ghodi”, pemuda sekarang adalah pemimpin dimasa yang akan datang. Hal yang sama juga ada dalam istilah bahasa Inggris...

Apakah Benar Marxisme Anti Agama?

Seiring dengan memanasnya isu kebangkitan PKI di Indonesia, maka perang narasi antara kelompok yang anti terhadap PKI atau komunisme secara umum, dengan kelompok pendukung...
M Affian Nasser
Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar dan Alumni Pondok Pesantren Modern Babussa'adah Bajo.

Pada masa kegemilangan peradaban Islam ditandai dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan, lahirnya cabang-cabang ilmu baru, munculnya karya-karya yang orisinil, lahirnya ulama dan cendikiawan muslim besar yang produktif, perhatian pemerintah dan masyarakat yang begitu besar terhadap ilmu, dan menjamurnya lembaga pendidikan yang sangat intens mengembangkan ilmu dan pendidikan.

Semua perkembangan dan kemajuan peradaban Islam tersebut tentu tidak dapat dilepaskan dari pengaruh wahyu al-Qur’an yang begitu menekankan pentingnya aspek ilmu.

Ilmu merupakan bagian dari aspek kebudayaan manusia yang sangat penting, yang mendapatkan penghormatan yang tinggi di dalam al-Qur’an. Ilmu dipandang sebagai sarana untuk mencapai kebenaran (al-haqq). Dari sini, ilmu dipahami sebagai salah satu konsep yang mendominasi Islam dalam memberikan bentuk yang berbeda dan kompleks bagi peradaban umat Islam. Sebab itu, tidak ada konsep yang lebih operatif yang menentukan peradaban Islam dalam berbagai aspeknya seluas konsep ilmu.

Sehingga nyaris tidak ada bagian dari kehidupan intelektual muslim, baik dalam kehidupan agama maupun politik serta kehidupan sehari-hari yang tidak tersentuh oleh ilmu, sebagai suatu nilai tinggi dalam kehidupan seorang muslim.

Kemudian, semangat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, belajar serta meneliti, banyak tertuang dalam kehidupan sosial umat Islam. Sebagaimana sejarah membuktikan bahwa tidak ada agama satu pun yang dapat dibandingkan dengan Islam yang telah memberikan rangsangan kepada kemajuan ilmu pengetahuan.

Dorongan untuk belajar dan melakukan penelitian saintifik, telah melahirkan masa keemasan peradaban Islam yang dicapai dengan sukses pada masa Umayyah dan Abbasiyah, serta pada masa pemerintahan Arab di Sicilia dan Spanyol.

Farid Esack dalam bukunya “The Qur’an: A User’s Guide”, menerangkan bahwa, al-Qur’an telah memberi penekanan kuat pada ilmu sebagai sebuah nilai (QS. al-Hujurat/49:9), ia juga mengaitkan intelektualitas manusia untuk menyelami kesadaran atas Tuhan, menekankan kompatibilitas antara ilmu dengan iman serta mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu (QS. al-Mujadalah/58:11). Sehingga ayat-ayat Al-Qur’an sering kali memberikan pengaruh terhadap manusia mengenai kebenaran untuk diperoleh sebagai “the knowledge” (pengetahuan).

Dalam sejarah Islam, sejak awal hingga masa keemasan, telah menyaksikan proses perkembangan berbagai cabang ilmu, baik yang termasuk ‘ulum al-naqliyah (ilmu-ilmu tradisional) maupun ‘ulum al-‘aqliyah (ilmu-ilmu rasional). ‘Ulum al-naqliyah berkembang melalui kajian-kajian tafsir, fiqh dan perkembangan ilmu hadits, yang banyak didukung oleh perkembangan bahasa Arab. Sementara ‘ulum al-‘aqliyah memperoleh materialnya melalui literatur klasik Yunani, Persia dan India, dimana kemudian mengalami transliterasi, adaptasi dan kreasi sesuai dengan dinamika internal umat Islam sendiri, termasuk di dalamnya oleh pengaruh al-Qur’an.

Jadi, selain sumber-sumber luar kebudayaan Islam, al-Qur’an telah menjadi sumber penting bagi laju pertumbuhan ilmu pengetahuan. Kemudian, terjadinya kontak intelektual umat Islam dengan tradisi intelektual lain yang jauh lebih tua, melalui gerakan penerjemahan yang berpusat di Bait al-Hikmah (Baghdad) di masa khalifah al-Ma’mun, umat Islam dapat memanfaatkan dan mengembangkan disiplin-disiplin ilmu rasional seperti filsafat, matematika, logika, kedokteran, geografi, astronomi dan sejumlah disiplin ilmu rasional lainnya.

Dari sini, kita dapat meletakkan bagaimana posisi penting al-Qur’an sebagai fondasi utama bagi kemajuan intelektual peradaban Islam, yang kemudian berhasil direkonstruksi oleh umat Islam sesuai dengan kondisi serta kebutuhan mereka pada saat itu.

Pada titik ini pulalah, kita juga dapat melihat bahwa kebesaran peradaban Islam tidak hanya berada di tangan para jenderal dan prajurit yang melakukan banyak ekspansi penaklukan wilayah-wilayah asing ke tangan Islam. Jika saja kebesaran peradaban Islam terletak di tangan mereka, maka wajah peradaban Islam dipandang tidak lebih hanya sekedar pedang dan kekuasaan, dan tak menutup kemungkinan, Islam hanya akan dikenal sebagai agama penakluk yang mengharuskan orang-orang masuk Islam melalui kekuatan militer.

Namun faktanya, kebesaran peradaban Islam justru terletak di ujung pena para ulama, para cendikiawan serta para ilmuwan yang banyak mengembangkan ilmu pengetahuan. Kejeniusan merekalah yang menorehkan dunia Islam dengan cahaya ilmu pengetahuan sehingga Islam mampu bersinar dari Timur sampai Barat dengan ribuan karya-karya intelektual yang cemerlang.

Jejaknya pun masih tetap lestari hingga sekarang, yang bahkan sebagian dari pengaruhnya menyebar ke Eropa melalui kontak budaya dan pendidikan di masa kekuasaan Islam di Spanyol. Eropa pun banyak memanfaatkan warisan intelektual umat Islam dengan menerjemahkan dan mempelajari beberapa karya-karya sains, seperti kimia, fisika, matematika, kedokteran, astronomi dan lainnya.

Hingga pada akhirnya, menjulanglah nama-nama besar para pemantik pijar intelektual peradaban Islam, seperti Ibn Rusyd (Averroes), Ibn Sina (Alvicenna), Jabir Ibn Hayyan (Geber), Al-Razi (Rhazes), Al-Khawarizmi (Algoritm), Al-Farabi (Alpharabius) dan lainnya, dimana karya-karya mereka diterjemahkan ke dalam bahasa latin, serta warisan khazanah intelektual mereka hingga kini masih tetap terus dikaji dan didiskusikan.

M Affian Nasser
Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar dan Alumni Pondok Pesantren Modern Babussa'adah Bajo.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.