OUR NETWORK
Sabtu, Juli 24, 2021

Ijtihad Muhammadiyah dalam Moderasi Beragama dan Menjaga Perdamaian

Puji Khuwata
Mahasiswa Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Selain sebagai mahasiswa juga aktif di Persyarikatan Muhammadiyah.

Islam tidak mengajarkan seseorang untuk bersifat ekstream dalam beragama, Islam mengajarkan agar orang beragama tidak berlebihan, tetapi bersifat tengahan (washatiyah) alias moderat. Tidak cenderung ke eksterm kanan liberal atau ke ekstrem kiri fasisme komunisme.

Islam itu berada di tengah antara liberal dan fasisme sehingga menjadi rahmat seluruh umat manusia bahkan alam seisinya. Inilah yang menjadi titik tolak perlunya membangun moderatisme dalam beragama. Moderatisme tidak berarti tidak punya sikap. Moderat artinya bersifat tidak mendorong ke arah ekstremisme yang berlebihan.

Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan, tetap berijtihad untuk menyemaikan gagasan Moderasi Islam di Indonesia. Ijtihad ini memiliki konsekuensi logis Muhammadiyah tidak akan berada pada posisi liberal atau ultra liberal maupun fasisme kiri yang juga ada komunisme di sana.

Muhammadiyah mendorong moderasi dalam berislam karena Indonesia memiliki kultur Islam yang tidak sama dengan Islam di Timur Tengah. Islam Indonesia lebih berkarakteristik washatiyah-tengahan, tidak ke kanan atau pun ke kiri. Dalam memperjuangkan gagasan Islam Moderat ini, Muhammadiyah mengembangkan pelbagai aktivitas yang dikenal sebagai amal usaha dalam bidang pendidikan, rumah sakit, panti asuhan dan belakangan pemberdayaankaum mustadhafin.

Sebagai organisasi sosial keagamaan, Muhammadiyah sejak berdiri diniatkan bukan sebagai organisasi politik (partai politik), tetapi sebagai organisasi dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar.

Nakamura (2012), menyebutkan Muhammadyah sebagai organisasi penyantun umat. Nakamura Said, “Established on November 18, 1912, Muhammadiyah has survived because of its solidarity, extensive networks, and activities in the fields of education, health, and poverty alleviation. Nonetheless, its political involvement is reflected more in national politics than in political parties”.

Muhammadiyah menjadi organisasi Islam yang memberikan kontribusi terhadap pencerdasan anak-anak bangsa, menjadikan bangsa ini beradab karena pendidikan dan menjadikan bangsa ini sehat jasmani karena mendapatkan perhatian dalam kesehatan fisik. Semangat ini merupakan bagian dari dakwah Muhammadiyah dalam mengembangkan Islam rahmatan lil alamin, sebagai bentuk konkret dari Islam Moderat dengan semangat pembaruan sebagaimana dilakukan pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan.

Sekalipun demikian, Muhammadiyah tidak alergi dengan gerakan politik, sebagai politik kebangsaan. Politik kebangsaan merupakan tabiat Muhammadiyah sebagai bentuk politik yang adi luhung, politik berpihak pada moralitas dan etika, bukan politik praksis yang sering tidak berlandaskan moral politik

Memutus Radikalisme

Apapun namanya, radikalisme yang mengarah pada ekstremisme merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran agama (Islam). Islam tidak mengajarkan seseorang untuk menjadi ekstrem dalam beragama. Islam mengajarkan agar orang beragama tidak berlebihan, tetapi bersifat tengahan (washatiyah) alias moderat. Tidak cenderung ke eksterm kanan liberal atau ke ekstrem kiri fasisme komunisme.

Islam itu berada di tengah antara liberal dan fasisme sehingga menjadi rahmat seluruh umat manusia bahkan alam seisinya. Inilah yang menjadi titik tolak perlunya membangun moderatisme dalam beragama. Moderatisme tidak berarti tidak punya sikap. Moderat artinya bersifat tidak mendorong ke arah ekstremisme yang berlebihan. Terkait pula dengan ekstremisme yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam gerakan keagamaan, termasuk di Indoesia, Muhammadiyah tidak mendukung gerakan ekstrem karena tidak sesuai dengan prinsip-prinsip teologi dan pedoman hidup Muhammadiyah.

Muhammadiyah tidak akan memberikan ruang bagi gerakan ekstremisme karena bertentangan dengan paham moderasi Muhammadiyah. Ekstremisme seperti ISIS sebenarnya tidak sesuai dengan etika Islam, namun sering dipahami secara salah bahwa hal itu menjadi bagian dari ajaran Islam.

Radikalisme, ekstremisme, dan deradikalisasi menjadi kosa kata yang paling popular pasca terjadinya Bom di Twin Tower Pentagon serta Bom Bali Pertama di dunia Internasional, regional dan nasional. Oleh sebab itu, tidak perlu gegabah dengan istilah radikalisme, ekstremisme, dan terrorisme.

Fakta ada kekerasan atas nama agama terjadi di semua agama. Kita tidak dapat mengelak atas keadaan ini. Namun juga kita tidak dapat dengan mudah menuduh kelompok tertentu dengan idiom radikal, ekstremis, atau teroris, sebab semuanya terdapat penyebab yang saling berkelit belindan. Hal yang dapat kita lakukan adalah cermat memperhatikan gejala yang muncul, kemudian mengantisipasi dan merespon dengan cara-cara yang soft power, bukan over acting.

Puji Khuwata
Mahasiswa Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Selain sebagai mahasiswa juga aktif di Persyarikatan Muhammadiyah.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.