Selasa, Mei 18, 2021

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Asal-Usul Matrilinealisme di Minangkabau

Minangkabau, tak ada habisnya untuk dibahas. Baik etnis maupun daerahnya telah memberikan aksen warna tersendiri pada atmosfer keberagaman di negara Indonesia yang kita cintai...

Menelisik Tingkat Religiusitas Seseorang

 Ketika kita mendengar perselisihan antar umat beragama terutama di negara kita Republik Indonesia tercinta ini perasaan miris muncul di benak kita. Walaupun perseteruan antar...

Timbunan Beras di Gudang-Gudang Bulog

Saat ada keributan di media sosial tentang Bulog tempo hari, mayoritas warganet memihak Bulog yang gudangnya penuh. Persoalan itu dibesar-besarkan pula. Bikin masyarakat lupa,...

Strangers from Hell, Tapera, dan Problema Perumahan Kita

Jika Anda adalah penggemar film dengan genre psychological thriller, mungkin Strangers from Hell bisa masuk ke dalam daftar tontonan Anda. Saya sendiri terhitung cukup...
Yuliana Kristianti
Co-founder Komunitas Lingkar Prestasi

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap “organisatoris” dan “aktivis”. Organisatoris dan aktivis adalah dua hal yang berbeda. Aktif dalam organisasi bukan berarti peduli dengan kemanusiaan. Begitu pun sebaliknya, aktif memperjuangkan  kemanusiaan tidak selalu terikat dalam sebuah organisasi.

Saat ini definisi organisatoris dan aktivis sudah seharusnya dipisah. Tidak semua organisator menjunjung bahasa tanpa kebohongan seperti yang termuat dalam sumpah mahasiswa. Bahkan, tidak semua organisator memperjuangkan keadilan.

Hak Berjuang dengan Menyampaikan Pendapat

Presiden Joko Widodo dikritik karena tindakannya yang meminta kritik. Banyak yang menyampaikan ketakutan untuk mengritik akibat adanya UU ITE. UU tersebut layaknya kartu AS yang bisa digunakan oleh siapapun saat ada yang mengritiknya melalui media sosial.

Kritik memang sebaiknya disampaikan dengan baik. Orang tua yang mengerti etika akan mengajarkan anaknya demikian. Namun orang tua yang beretika juga akan mengajarkan anaknya untuk mendengarkan kritik orang lain, menimbang, dan mengaplikasikan hal-hal yang dianggap benar.

Sebagai negara demokrasi, kebebasan berpendapat menjadi hak setiap Warga Negara Indonesia. Dengan halus pemahaman demokrasi masuk dalam alam bawah sadar. Tanpa direncanakan, mereka yang memahaminya meyakini bahwa bersuara adalah sah-sah saja. Begitupun, mereka yang merenggut hak bersuara sebenarnya sadar bagaimana konsep demokrasi semestinya. Namun, ketakutan akan suara orang lain membuatnya berusaha membungkam dengan cara apa saja.

Demokrasi dalam Pemilihan Presma

Negara merupakan komunitas besar yang memiliki komunitas-komunitas kecil di dalamnya. Salah satu komunitas kecil yang menjadi gudang ilmu pengetahuan adalah kampus. Didiami mahasiswa, kelompok orang yang berlabel agen perubahan. Mereka bahkan memiliki sumpah yang idealis nan nasionalis.

Seolah mengikuti apa yang diajarkan negara, sebisa mungkin demokrasi di kampus harus ditegakkan. Pemilihan Presiden Mahasiswa dilaksanakan dengan pemilihan umum. Setiap mahasiswa aktif diberi hak suara. Ia bebas memilih calon yang mana saja tanpa intervensi dari siapa pun. Pemeroleh suara terbanyak adalah orang yang akan menjadi koordinator untuk mewujudkan cita-cita kolektif.

Namun sayangnya, kerap kali, bahkan sepertinya hampir selalu terjadi di setiap kampus bahwa demokrasi yang selalu digaungkan justru diciderai sendiri oleh mahasiswa. Pemilihan Presiden Mahasiswa menjadi ajang untuk mendapatkan kekuasaan. Akses dengan petinggi kampus adalah tujuan utama dibandingkan menjadi penggerak untuk menyejahterakan mahasiswa lainnya.

Demokrasi Kampus yang Cidera di Tengah Pandemi Corona

Kontestasi pemilihan Presiden Mahasiswa tidak jarang sudah dimulai sejak pembentukan Komisi Pemilihan Umum (KPU). KPU yang seharusnya netral justru ditunggangi. Mereka membawa kepentingannya sendiri.

KPU membocorkan soal tes wawasan kampus kepada salah satu calon, sengaja membuat aturan yang menguntungkan salah satu calon, bahkan hingga manipulasi pemerolehan suara kerap ditemui pada pemilihan Presiden Mahasiswa.

Hanya ada dua alasan untuk melakukan cara-cara demikian: pertama, ambisi untuk menang dalam kontestasi membuat mereka lupa akan kapasitas diri. Kedua, tidak percaya diri akan kapasitas yang dimiliki. Cara-cara yang jauh dari kata ideal dengan sadar dipilih dengan dalih “untuk mengabdi”.

Selama pandemi COVID-19 kampus-kampus mengadakan pemungutan suara secara online. KPU yang dipercaya menjadi penyelenggara diharapkan bisa bertanggung jawab atas beban moral untuk mewujudkan pemilihan yang demokratis dan beradab.

Penghitungan hasil suara yang dilakukan secara online seharusnya tetap dilaksanakan dengan terbuka. Jika tidak dilakukan secara terbuka, maka dugaan kecurangan yang dilakukan KPU untuk salah satu calon tidak bisa dihindarkan.

Kecurangan sekecil apapun tidak bisa dibenarkan. Mahasiswa yang seharusnya menyadarkan negara, apakah lupa dan tengah belajar pada negara?

Upaya Menegakkan Demokrasi di Kampus

Praktik-praktik curang dalam pemilihan Presiden Mahasiswa harusnya segera diselesaikan. Mengutip kata Pramoedya Ananta Toer “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”

Sebagai upaya menjalankan demokrasi yang adil dan jujur, penentuan pemimpin harus melibatkan penuh aspirasi seluruh orang yang akan dipimpin.

Setiap orang yang akan dipimpin berhak memilih sekaligus melengserkan orang yang memimpinnya. Jika ditemui banyak kejanggalan, setiap orang berhak untuk bersuara karena bagaimana pun kritik adalah bagian yang sangat penting bagi demokrasi.

Selain itu, sikap kritis civil society seperti Lembaga Pers Mahasiswa harus terus dibangun. Lembaga Pers Mahasiswa idealnya bisa menjadi media yang menyadarkan masyarakat mahasiswa.

Bisa diamati bahwa tidak semua pemenang kontestasi bisa menerima lawan kontestasinya untuk berjuang bersama. Jika tujuan utama meraih kemenangan adalah mewujudkan cita-cita kolektif kawan-kawan sesama mahasiswa, seharusnya semua pihak yang terlibat dalam kontestasi bisa terbuka. Pemenang tidak lantas membuang mereka yang kalah. Kepemimpinan seharusnya bisa membawa pencerahan dan pendewasaan politik. Begitu pun yang kalah, seharusnya tidak ragu untuk bergabung.

Rekonsiliasi usai kontestasi politik perlu dilakukan agar tidak ada dampak berkepanjangan yang bisa merugikan mahasiswa lain. Perlu disadari bahwa menjadi agen perubahan tidak bisa dilakukan sendirian.

Berapa banyak Pema atau BEM yang memilih diam akan persoalan birokrasi kampus yang dihadapi kawan-kawan mahasiswanya?

Apa jadinya demokrasi bangsa jika idealisme sudah mati sejak mahasiswa? Belajar dari pandemi corona, PSBB tingkat nasional tidak berhasil menekan laju persebaran virus jika tidak diikuti pencegahan dari lingkup yang terkecil, seperti kampus. ***

Yuliana Kristianti
Co-founder Komunitas Lingkar Prestasi
Berita sebelumnyaDemitologisasi SO 1 Maret
Berita berikutnyaTanah dan Transmigrasi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Hari Buku Nasional, Budaya Literasi Kita Masih Rendah!

Dalam sebuah video perjalanannya, Fiersa bersari pernah mengucapkan perbanyaklah membaca buku, supaya pertanyaan bagaimana cara menulis tidak perlu diucapkan lagi. Suatu ungkapan yang menekankan...

Biografi dan Cara Berpikir Hamka (Bagian 1)

Sabtu pagi, 8 Juni 2013, Prof. James R. Rush dari Arizona State University, berkunjung ke tempat tinggal saya di Jakarta, untuk bertukar pikiran tentang...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.