Sabtu, Juli 20, 2024

Id, Ego dan Superego, Novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur

Okvent Dwi putra
Okvent Dwi putra
Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di Universitas Pamulang. Bekerja sebagai pramuniaga di toko pakaian

Dalam dunia sastra, novel seringkali menjadi media yang ampuh untuk mengeksplorasi dan menganalisis kompleksitas kehidupan manusia dan psikologinya. Salah satu pendekatan teoretis yang dapat digunakan untuk menganalisis karakter dan plot sebuah novel adalah teori psikoanalisis Sigmund Freud. Dalam konteks ini, kami menganalisis novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya dari M. Dahlan dari perspektif teori id, ego, dan superego Freud.

Psikoanalis terkenal, Sigmund Freud, mengembangkan teori psikoanalitik sebagai dasar untuk memahami pikiran bawah sadar dan jiwa manusia. Salah satu konsep utama dalam teorinya adalah id, ego dan superego. Id mewakili aspek kesenangan primordial manusia yang mempromosikan kepuasan instan terlepas dari hasilnya.

Ego, di sisi lain, bertindak sebagai koordinator realitas, berusaha memuaskan hasrat id secara realistis sambil mempertimbangkan norma-norma sosial. Superego mewakili norma moral dan etika yang diajarkan oleh masyarakat dan bertindak sebagai perangkat pengendalian diri.

Dalam novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, teori id, ego, dan superego Freud dapat diterapkan untuk menganalisis tindakan dan motif pemeran utama pada novel. perubahan sikap dan sifat pada karakter utama oleh dorongan untuk kesenangan dan kepuasan instan (itu), sementara yang  di sisi lain mencoba menemukan keseimbangan antara keinginan dan kenyataan (ego), dan yang lainnya adalah moral yang keras.

Beberapa sikap lainya (superego) mencoba mengikuti prinsip. Dalam novel ini, kita bisa mengamati bagaimana tokoh menghadapi  transformasi perubahan pada dirinya akibat kekecewaaannya terhadap tuhan atas apa yang terjadi dan ia dapat. terjadi konflik batin antara hasrat, realitas, dan etika.

Konflik dapat muncul ketika karakter utama Nidah Kirani dihadapkan pada pilihan yang menggoda  untuk mengikuti hasratnya, namun bertentangan dengan norma sosial dan nilai moral yang dianutnya. Analisis ini  membantu kita memahami dinamika psikologis para tokoh dan perjalanan mereka dalam novel.

Analisis ini membahas secara rinci interaksi antara tokoh-tokoh dalam novel dan teori Freud tentang id, ego, dan superego. Kita akan melihat bagaimana impuls utama memengaruhi tindakan karakter, bagaimana karakter mencoba menyeimbangkan keinginan dan kenyataan, dan bagaimana konflik antara hasrat dan moralitas tercermin dalam cerita Pertimbangkan bagaimana hal itu akan terungkap.

Dengan menggunakan teori id, ego, dan superego Freud, analisis ini  memberikan wawasan  mendalam tentang kompleksitas psikologis tokoh-tokoh dalam novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya M.Dahlan. Dengan melakukan itu, kita dapat lebih memahami kepribadian tokoh utama.berikut beberapa contoh kutipan pada novel yang menunjukan kepribadian tokoh utama Nidah Kirani:

ID

Kutipan 1

“Haruskah ia kuberitahu bahwa aku sudah disodom oleh ratusan mata lelaki, dijamah oleh ragam tangan lelaki. Ah, engkau Midas, engkau datang dalam hitu- ngan yang ke sekian, setelah aku tak lagi berasa dengan lelaki.”(hlm.173)

Menggambarkan pengalaman seksual yang melibatkan banyak pria. Dalam teori Freud, nafsu seksual termasuk dalam konsep id, yang mewakili naluri dan keinginan primitif. Dan pada kutipan kalimat “Aku tak lagi berasa dengan lelaki”: Pernyataan ini bisa diinterpretasikan sebagai kehilangan minat atau gairah seksual terhadap pria.kutipan tersebut mencerminkan dorongan seksual yang kuat.

Kutipan 2

Tuhan, saksikan, aku, Nidah Kirani, akan melanggar tabu-Mu yang kesekian. Tuhan, aku, Nidah Kirani, merasakan se- pinggan rasa pacaran. Kalau Kau marah, marahlah, kutuklah aku. Aku tidak akan menyesal berada dalam dekapan lelaki ini.”(Hlm.152)

Dalam kutipan ini Nidah kirani menyebutkan bahwa dia merasakan “se-pinggan rasa pacaran”ini dapat diartikan sebagai hasrat atau keinginan romantis atau seksual yang muncul dalam dirinya (id). Id dalam teori Freud mewakili dorongan-dorongan primitif dan naluri manusia yang tidak terkontrol.Dalam konteks kutipan ini, Nidah Kirani menyebutkan bahwa dia akan melanggar tabu yang kesekian. Hal ini dapat dikaitkan dengan konflik antara keinginan atau dorongan-dorongan alamiah individu (id) dengan norma-norma sosial yang ada.

EGO

Kutipan 1

Berusaha sekuat-kuatnya yang aku bisa untuk tidak berada dalam kejalangan yang sama menyembah hal-hal yang sifatnya bendawi dan melupakan qanun perjuangan sebagaimana yang sudah terdoktrinkan dalam dokumen tua yang ditulis Eyang Wirjo pada babak- babak pertama perjuangan proklamasi kemerdekaan Republik.(hlm.81)

Pada kutipan itu Nidah (tokoh utama) menggambarkan upaya kerasnya untuk tidak terjerumus dalam keterikatan atau ketergantungan pada hal-hal material (“hal-hal yang sifatnya bendawi”). Hal ini menunjukkan bahwa Ego berusaha untuk mengendalikan keinginan-keinginan tak sadar (Id) yang mungkin dapat mengarah pada perilaku yang tidak sejalan dengan nilai-nilai perjuangan.

Kutipan 2

“Menjalankan aturan-aturan Islam tanpa real negara, itu adalah omong-kosong belaka. Kosong- melompong. Kenyataannya bagaimana? Ya, mesti ada sebuah lembaga yang menjalankan ritual-ritual itu. Dan sekarang, negara itu belum ada. Dan tugas kita sekarang adalah menciptakannya,” kataku mantap kepada mereka. Dan mereka diam. Aku buat mereka sekarat sebagaimana aku pernah sekarat didoktrin sewaktu awal aku masuk. Ketika mereka terlihat goyah, ragu, dan bimbang, maka kurasukilah hati dan pikirannya dengan doktrin-doktrin Jemaah (hlm.90).

Pada kutipan ini tokoh tersebut menunjukkan kekuatan ego-nya. Dia bertekad untuk menciptakan negara yang sesuai dengan doktrin-doktrin Jemaah, dan dia menggunakan pengaruhnya untuk mengubah pikiran dan perasaan orang lain. Ini menggambarkan dorongan tokoh untuk mempengaruhi orang lain sesuai dengan kepercayaannya sendiri.

SUPEREGO

Kutipan 1

“Tuhan, kenapa aku Kau perlakukan seperti ini. Kamu tahu betapa aku bersungguh-sungguh berniat untuk menjadi hamba. Lihatkah Kau apa yang ku- lakukan selama ini. Aku telah berinfak sedemikian banyak. Bahkan lebih besar dari lan yang yang lain-lain di ja- Kau ridai. Kalau malam aku dirikan salat. Itu semua kutujukan untuk mengabdi kepada-Mu semata (hlm.120).

Dalam kutipan tersebut menyebutkan bahwa dia (Nidah Kirani) telah melakukan banyak perbuatan baik, termasuk berinfak dan mendirikan salat malam. Ini dapat dilihat sebagai usaha untuk mematuhi nilai-nilai moral dan norma agama yang ditanamkan oleh masyarakat atau otoritas keagamaan.

Dalam konteks ini, nidah  mungkin merasa bahwa upayanya tidak dihargai atau kurang dihargai oleh Tuhan, yang menggambarkan konflik antara keinginan untuk mengabdi dan harapan yang tidak terpenuhidapat dihubungkan dengan konsep superego karena individu itu mungkin telah memasukan aspek aspek aturan moral dan harapan tertentu tentang bagaimana Tuhan seharusnya memperlakukannya.

Berdasarkan hasil penelitian dengan Teori psikoanalisis Sigmund Freud pada Novel Tuhan izinkan aku menjadi pelacur karya M.Dahlan, dapat disimpulkan Adanya gambaran tentang id, ego, dan Superego, yang dipengaruhi oleh kesadaran dan ketidaksadaran. Gambaran id pada Nidah Kirani tokoh utama dalam novel Tuhan izinkan aku menjadi pelacur karya M. Dahlan.

Okvent Dwi putra
Okvent Dwi putra
Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di Universitas Pamulang. Bekerja sebagai pramuniaga di toko pakaian
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.