Kamis, April 18, 2024

Husain Thabathabai dan Sepuluh Pengetahuan Tuhan

Salman Akif Faylasuf
Salman Akif Faylasuf
Alumni PP Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang Nyantri di PP Nurul Jadid, sekaligus kader PMII Universitas Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Penikmat kajian keislaman dan filsafat.

Seakan sudah menjadi kesepakatan bahwa, kajian tentang pengetahuan Tuhan adalah salah satu pembahasan penting dalam sejarah pemikiran Islam yang sangat banyak menyerap energi berfikir para filosof dan teolog Muslim. Bahkan, karena pentingnya kajian itu, tidak berlebihan jika dikatakan, hampir seluruh filosof dan teolog berusaha mengkaji dan memahami hakikat pengetahuan Tuhan. Lalu apa yang menjadi masalah utama perdebatan mereka?

Kita tahu, perdebatan utama para filosof dan teolog secara umum diseputar pengetahuan Tuhan adalah, apakah pengetahuan Tuhan itu bagian dari zat-Nya atau justru terpisah dari zat-Nya? Apa yang dapat diketahui oleh Tuhan? Apakah Tuhan mengetahui segala sesuatu? Ataukah pengetahuan Tuhan itu sebenarnya bermakna mengetahui prinsip-prinsip umum yang mengatur dunia?

Berangkat dari permasalahan ini, pemikir asal Iran yaitu Husain Thabathabai memberikan pendapatnya tentang pengetahuan Tuhan, di samping juga menguraikan sepuluh pendapat para filosof dan teolog berkenaan dengan pengetahuan Tuhan.

Pertama, pendapat yang menyatakan bahwa Tuhan mengetahui berdasarkan zat-Nya, bukan berdasarkan akibat yang muncul disebabkan oleh adanya Tuhan. Dikatakan demikian, karena Tuhan sebagai zat yang transenden adalah bersifat azali, sedangkan akibat-akibat Tuhan adalah baru.

Thabathabai juga ketika mengomentari pendapat pertama ini mengatakan, berdasarkan pendapat itu, jelas sudah bahwa pengetahuan tentang akibat-akibat-Nya adalah bagian dari pengetahuan langsung, baik sebelum maupun sesudah akibat-akibat itu mengada di dalam tingkatan zat.

Kedua, pandangan ini bersumber dari Plato. Baginya, pengetahuan Tuhan tentang segala sesuatu merupakan akal-akal imaterial (al-uqul al-mujarradah), yang didalamnya terkumpul bermacam-macam kesempurnaan segala sesuatu. Pendapat Plato tentang pengetahuan itu hendak mengatakana bahwa pengetahuan Tuhan tentang segala sesuatu adalah, pengetahuan yang telah terjadi yang terdapat dalam tingkatan wujudnya yang mungkin.

Pengetahuan Tuhan yang demikian ini, meniscayakan zat Tuhan yang transenden dan tidak memiliki kesempurnaan-kesempurnaan pengetahuan. Padahal, Tuhan adalah zat murni yang memiliki segala kesempurnaan wujud.

Ketiga, pendapat yang bersumber dari Porphyry. Pendapat ini menyatakan bahwa pengetahuan Tuhan itu menjadi satu dengan sesuatu yang diketahui. Pendapat ini menurut Thabathabai hanya mampu untuk menjelaskan bersatunya antara yang mengetahui (aqil) dan yang diketahui (al-ma’qul). Atas dasar kesatuan itu, Tuhan dapat dikatakan mengetahui sesuatu secara langsung, tapi tidak bergantung pada sesuatu itu sendiri.

Namun, pengetahuan Tuhan yang demikian tak mampu menjelaskan pengetahuan Tuhan tentang segala sesuatu, baik sebelum maupun sesudah segala sesuatu itu terjadi. Kritik Thabathabai terhadap pendapat Porphyry di atas sangat jelas menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap pendapat itu. Karena baginya, pendapat itu tak mampu menjelaskan pengetahuan Tuhan terhadap sesuatu (baik sebelum atau sesudah sesuatu itu terjadi).

Keempat, pendapat yang bersumber dari Syaikh al-Israq. Pendapat ini menyatakan bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu, baik yang imaterial (al-Mujarradat) maupun yang material (al-maddiyat). Dan, segala sesuatu itu diketahui Tuhan secara langsung dengan wujud yang sebenarnya, tanpa penghalang apapun.

Pengetahuan Tuhan yang terperinci tentang segala sesuatu terjadi setelah segala sesuatu itu terjadi. Tuhan juga memiliki pengetahuan yang global terhadap segala sesuatu itu karena pengetahuan Tuhan berdasarkan zat-Nya.

Sebagaimana di atas, Thabathabai menolak pendapat Syaikh al-Israq. Penolakan itu didasarkan pada pendapat syaikh al-Israq yang menyatakan sesuatu yang material dapat secara langsung diketahui Tuhan, dan pembatasan pengetahuan Tuhan yang terperinci pada sesuatu yang telah terjadi, akan membawa pada kesimpulan ketidaksempurnaan zat Tuhan. Sebagai zat yang paling sempurna, tentunya Tuhan mengetahui apapun secara terperinci, baik sebelum ataupun setelah sesuatu itu terjadi.

Kelima, pendapat yang bersumber dari Melatius (548 SM). Pendapat ini mengatakan, Tuhan mengetahui dengan Akal Pertama (al-aql al-awwal) yang merupakan Pemancar Pertama (al-shadir alawwal). Kehadiran al-shadir al-awwal pada Tuhan, ia secara langsung mengetahui segala sesuatu. Pengetahuan yang tidak didapatkan Tuhan dari Akal Pertama, akan didapatkan dengan cara merepresentasi (irtisam) gambaran-gambaran seluruh sesuatu itu pada Akal Pertama.

Rupa-rupanya, pendapat ini meniscayakan ketidaksempurnaan zat Tuhan yang transenden. Disamping itu, pernyataan yang mengatakan bahwa pengetahuan yang tidak diperoleh melalui Akal Pertama, akan didapatkan melalui representasi seluruh sesuatu itu pada Akal Pertama, adalah pernyataan yang tidak dapat dibenarkan. Karena pengetahuan imaterial didapatkan secara tidak langsung (Hushuli), tapi sebaliknya pengetahuan demikian didapatkan secara langsung (Hudhuri).

Keenam, pendapat yang menyatakan bahwa zat Tuhan yang transenden memiliki pengetahuan yang terperinci (tafshili) berdasarkan akibat pertama (al-ma’lul al-awwal). Tuhan juga memiliki pengetahuan secara global (ijmali), tapi tidak dari akibat pertama itu. Dzat al-ma’lul al-awwal (zat akibat yang pertama) memiliki pengetahuan terperinci dari akibat kedua (al-ma’lul altasani). Sebaliknya, zat akibat yang pertama itu memiliki pengetahuan global tidak dari akibat kedua tersebut. Begitu seterusnya.

Ketujuh, pendapat ini dikemukakan oleh kebanyakan pemikir yang datang belakangan. Dalam pandangan mereka, Tuhan memiliki pengetahuan berdasarkan zat-Nya. Pengetahuan yang berdasarkan zat-Nya itu dibagi menjadi dua, yaitu pengetahuan terperinci dan pengetahuan global.

Pengetahuan Tuhan yang terperinci berasal dari sesuatu yang telah terjadi. Sedangkan pengetahuan Tuhan yang global berasal dari sesuatu yang belum terjadi. Mengapa demikian? menurut pendapat ini, pengetahuan itu mengikuti sesuatu yang diketahui. Karena itu, tidak ada objek yang dapat diketahui sebelum mewujud secara nyata.

Kedelapan, pandangan ini bersumber dari aliran Peripatetik Muslim. Mereka mengatakan bahwa Tuhan disamping memiliki pengetahuan langsung (Hudhuri) berdasarkan zat-Nya yang transenden, juga memiliki pengetahuan terperinci tentang segala sesuatu sebelum mengada. Pengetahuan yang disebut terakhir ini bersifat tidak langsung (Hushuli).

Pengetahuan terperinci yang bersifat Hushuli itu kuiditas-kuiditasnya (mahiyyat) didapatkan secara langsung dari keteraturan wujud di dunia eksternal berdasarkan zat Tuhan, tidak berdasarkan masuknya hakikat (ayniyyah) atau bagian-bagian partikular (juz’iyyah), tapi berdasarkan cerapan mental (tsubut al-dzihni) secara global. Hal demikian bermakna bahwa tidak akan ada perubahan pengetahuan berdasarkan adanya perubahan objek yang diketahui.

Dari kritik di atas, Thabathabai menolak pendapat yang dikatakan oleh para filosof Peripatetik. Dari ketiga alasan yang diajukan sebagai dasar penolakan terhadap pendapat di atas, alasan ketiga tampaknya alasan penolakan yang terlihat baru, jika dibandingkan dengan alasan-alasan yang telah ia kemukakan untuk menolak konsep pengetahuan Tuhan yang ia paparkan.

Alasan ketiga itu hendak menyatakan bahwa, upaya analogi pengetahuan Tuhan dengan cerapan mental tidak layak dilakukan. Demikian, untuk menghindarkan Tuhan dari ketidaksempurnaan zat. Disamping itu, menjadikan mahiyyah sebagai sesuatu yang diketahui Tuhan dari wujud eksternal akan memunculkan wujud lain sebelum wujud mahiyyah itu berlaku secara khusus. Ini kata Thabathabai juga tidak pantas dan dan tidak pula layak bagi Tuhan.

Meskipun, sebagian besar teolog sepakat atas argumen di atas (pendapat kedelapan). Jikapun mereka menolak, mereka akan menolaknya dari segi pengetahuan sebelum mengada secara global. Maksud global di sini, menurut para teolog, adalah apa yang diistilahi dalam kajian al-kulli dan al-juz’i dalam literatur logika (mantiq).

Pilihan mereka terhadap pendapat di atas, tentunya karena pengetahuan yang terperinci sebelum mengada adalah hasil konseptualisasi. Karena, baik sebelum atau sesudah mengadanya sesuatu tidak boleh ada perubahan. Pendapat ini juga ditolak oleh Thabathabai berdasarkan kritiknya terhadap pendapat para filosof Peripatetik di atas.

Kesembilan, pendapat ini dikemukakan oleh Mu’tazilah. Aliran ini mengatakan, kuiditas-kuiditas itu ada secara nyata dalam ketiadaan. Berdasarkan pemahaman yang demikian, pengetahuan Tuhan, kata mereka, bersandar pada kuiditas-kuiditas itu sebelum mengada. Pendapat ini harus ditolak, karena ketiadaan yang dinyatakan sebagai sumber mengada kuiditas-kuiditas itu sendiri tidak ada.

Kesepuluh, pendapat ini dikemukakan oleh para sufi. Bagi kelompok ini, pengetahuan Tuhan itu bergantung pada kuiditas yang memiliki pengetahuan tetap, yang kemudian diikuti oleh nama-nama, sebelum kuiditas kuiditas itu mengada. Pendapat ini kata Thabathabai tidak dapat diterima berdasarkan ajaran prinsipalitas wujud (as-shalah al-wujud) atas mahiyah. Atas konsep prinsipalitas wujud atas mahiyah, ditolaklah ada-ada yang niscaya bagi mahiyah sebelum mahiyah itu mengada secara nyata dan kuiditas-kuiditas berlaku khusus baginya.

Menurut Thabathabai, Tuhan mengetahui sesuatu berdasarkan zat-Nya. Dari sini, kemudian dapat diajukan pertanyaan bagaimana menurut Thabathabai cara Tuhan mengetahui sesuatu berdasarkan zat-Nya? Dan apa saja yang dapat diketahui Tuhan? Apakah Tuhan mengetahui segala sesuatu termasuk hal-hal yang kecil ataukah Tuhan hanya mengetahui pola-pola dasar sesuatu?

Pertanyan bagaimana Tuhan mengetahui berdasarkan zat-Nya oleh Thabathabai dinyatakan sebagai zat yang suci dari materi dan potensi. Tuhan mengetahui sesuatu secara langsung (Hudhuri), yakni menghadirkan materi (al-maddah) secara langsung bagi zat-Nya. Karena, zat Tuhan mengetahui untuk zat-Nya. Jawaban ini didasarkan pada prinsip yang diyakininya yang berbunyi: “setiap sesuatu yang imaterial mengetahui berdasarkan zat-Nya”.

Selanjutnya, hal-hal apa saja yang dapat diketahui Tuhan? Thabathabai menyatakan, bahwa tidak ada sesuatupun yang tidak diketahui oleh Tuhan berdasarkan zat-Nya yang transenden. Thabathabai bahkan menyatakan bahwa pengetahuan Tuhan itu meliputi hal-hal yang partikular (tafsili) dalam bentuknya yang global (ijmali), dan hal-hal yang bersifat global (ijmali) dalam bentuknya yang parikuler.

Dari sini jelas sudah bahwa, Tuhan mengetahui berdasarkan zat-Nya dan pengetahuan itu sendiri adalah zat-Nya. Tuhan memiliki pengetahuan tentang segala sesuatu (al-maujudat) selain zat-Nya dalam tingkatan zat-Nya, yang disebut sebagai pengetahuan sebelum mengada (qab al-ijad). Pengetahuan Tuhan yang demikian bersifat ijmali dalam bentuk penyingkapan partikular.

Tuhan juga memiliki pengetahuan tentang segala sesuatu (al-mawjudat) secara teperinci selain zat-Nya dalam tingkatan zat yang maujud di luar diri-Nya. Pengetahuan yang demikian ini disebut sebagai pengetahuan setelah mengada (ba’d al-ijad). Tapi yang jelas, pengetahuan Tuhan dalam bentuk terakhir ini bersifat tafshili. Pengetahuan Tuhan dalam bentuk apa pun adalah pengetahuan langsung (ilm al-Hudhuri).

Termasuk juga diantara arti penting pembahasan tentang teori kesatuan subjek dan objek pengetahuan, eksistensi mental, emanasi dan alam mitsal, pengetahuan Tuhan, sebagaimana yang telah di atas adalah, bahwa keseluruhannya memiliki kaitan yang sangat erat dengan upaya manusia dalam memperoleh pengetahuan. Dan tentunya, masalah ini terkait dengan rentang pengetahuan dan kesadaran manusia dalam menyingkap realitas dan nilai pengetahuan kita mengenai segala sesuatu. Wallahu a’lam bisshawab.

Salman Akif Faylasuf
Salman Akif Faylasuf
Alumni PP Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang Nyantri di PP Nurul Jadid, sekaligus kader PMII Universitas Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Penikmat kajian keislaman dan filsafat.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.