Selasa, April 20, 2021

Hoaks Ancam Persatuan dan Kesatuan Bangsa di Tahun Politik

Bullying dan Kerancuan Masa Depan Pendidikan Kita

Pendidikan sejatinya memiliki tujuan untuk menghaluskan budi anak. Pendidikan tentu saja merupakan alat yang paling mumpuni dalam menempa karakter anak agar menjadi pribadi yang...

Merenungi Gegap Gempita Ramadan

Ramadan selalu penuh gegap gempita. Dirayakan secara besar-besaran. Membersihkan dan mengecat masjid. Membuat program-program kegiatan Ramadan. Mencetak spanduk - spanduk. Membuat hiasaan-hiasan di jalan-jalan...

Menjaga Kultur Digital Corona

Peraturan pembatasan sosial (social distancing) dan phisik (physical distancing), menerbitkan realitas baru, yaitu jagat digital. Segala aspek kehidupan seperti politik, bisnis, dan pendidikan secara...

Menggugat Netralitas ASN Di Pilkada 2020

Menghelat Pilkada 9 Desember 2020 tentu dirasa berat karena dalam suasana pandemi Covid-19. Harus diakui memang pandemi Covid-19 ini memberikan implikasi yang sangat signifikan...
Irwansyah Giovani
Curculum Vitae : Nama lengkap : Irwansyah Giovani Ibrahim Tempat dan tanggal lahir : Kota Probolinggo, 13, 11, 1997 Alamat : Jalan Mastrip Gg4 Kota Probolinggo Jenis klamin : Laki-laki Agama : Islam No telp : 081358268747 Email : irwangio99@gmail.com Pendidikan Formal : - Mahasiswa Strata 1 Intitut Agama Islam Negeri Jember

Pada tahun-tahun politik seperti sekarang ini, masyarakat akan melaksanakan pemilihan pemimpin yang akan memimpin lima tahun kedepan. Dalam politik tentu saja akan ada persaingan antara partai politik maupun calon pemimpin.

Dampak negatif yang sering terjadi dari tahun ke tahun, ketika menjelang pemilu masih tidak bisa terlepas dari pemasalahan SARA, pembulian (pembunuhan karakter baik kepada calon ataupun tim sukses).

Dalam sosial media kita sudah banyak dibanjiri berbagai macam postingan-postingan tentang politik disertai komentar-komentar tajam dan pedas. Sosial media berubah menjadi palagan mencekam. Syahwat Politik ugal-ugalan membuat para peserta politik tentunya akan menyerang satu sama lain dan mencari kelemahan satu sama lain.

Dalam politik hal itu lumrah terjadi, namun jika dilakukan secara tidak sehat maka akan terjadi disintegrasi bangsa bahkan perpecahan. Seperti menyebar berita hoaks atau berita bohong.

Menurut UNESCO, tingkat literasi Indonesia hanya berada di peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei. Rendahnya tingkat literasi di Indonesia, menyebabkan berita bohong atau hoaks gampang disebar karena masyarakat Indonesia saat ini cenderung kurang detail dan teliti dalam memahami informasi yang beredar.

Dengan adanya informasi yang beredar tanpa adanya kajian yang detail. Masyarakat mudah terprovokasi atas opini propaganda yang menggiring masyarakat tidak majemuk lagi. Sehingga membuat fanatisme politik aliran semakin membara dan ujaran kebencian sulit diatasi, Keangkuhan identitas sangat jelas menjadi sumber perpecahan.

Dari hal itu media online yang ada masih saja mengandung konten pembahasan yang menunjukan sifat egosentris sebagai warga negara bangsa indonesia. Baik saling menjatuhkan, angkuh, dan merasa paling benar. Anehnya hal itu dari kumpulan tulisan di media, ceramah dari tokoh masyarakat (Kyai), pejabat, dan lainnya. Apakah memang orang alim ( Ahli Ilmu ) sudah hampir punah di negara ini ?

Kedewasaan dan kearifan kita belum cukup matang untuk menyikapi berbagai konflik dan benturan kepentingan. kasus-kasus yang sering terjadi karena permasalahan SARA perlu penkajian ulang sejarah persatuan dan kesatuan bangsa. Agar bangsa bisa majemuk kembali dan terlepas dari konflik yang tak berkesudahan.

Masyarakat juga perlu mengkaji secara matang dari literasi yang diterbitkan oleh media, agar keinginan dan cita cita demokrasi dapat tercapai. Berupa suasana demokrasi menggembirakan, sejuk, dan berkualitas, karena hal itu adalah orisinilitas persatuan dan tugas kita sebagai warga negara kesatuan.

Jika benturan dan konflik kepentingan terus berkepanjangan, maka ancaman disintregasi bangsa akan sangat terbuka. Demikian halnya jika agenda reformasi politik, ekonomi, sosial budaya dan Hankam tidak lagi diletakkan dalam kerangka kebangsaan, maka mimpi buruk akan terjadinya disintegrasi bisa jadi akan menjadi kenyataan.

Satu sikap yang amat terpuji dari para perintis dan pendiri bangsa adalah begitu kentalnya komitmen terhadap persatuan dan kesatuan. Setiap langkah yang dilakukan selalu di arahkan kepada upaya untuk dapat menjamin kesatuan bangsa.

Sebab pada dasarnya, jika kita tengok dari bentangan sejarah dan penggalan waktu, dimana bangsa kita dapat mencapai sebuah konsensus untuk tetap bersatu seperti yang terjadi pada tahun 1908, 1928, 1945 dan 1965, semua itu tidak dapat dilepaskan dari landasan kultural bangsa.

Sikap toleran dan keinginan untuk bersatulah yang membawa para pelaku sejarah mampu menafikan berbagai hambatan dan perbedaan yang terjadi. Komitmen terhadap persatuan dan kesatuan yang dimanifestasikan dalam bentuk negara kesatuan merupakan salah satu dari tiga nilai dasar bangsa.

Di samping Pancasila, UUD 1945, maka dalam pandangan para pendiri bangsa, bentuk negara proklamasi kemerdekaan yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan pilihan ideal bagi kelangsungan hidup bangsa.

Negara kesatuan yang kita bangun tidak tersaji atas landasan dan kepentingan etnik, maupun primordialisme, tidak juga bersifat temporer dan untuk waktu sementara. Negara kesatuan itu kita bangun dan kita tegakkan justru lebih di dasari landasan etnik, dan kesadaran bersama sebagai satu bangsa sehingga nilai-nilai etika kebangsaan yang menyangkut persatuan dan kesatuan terbangun cukup kuat untuk mengakomodasikan berbagai perbedaan dan bahkan konflik kepentingan.

Irwansyah Giovani
Curculum Vitae : Nama lengkap : Irwansyah Giovani Ibrahim Tempat dan tanggal lahir : Kota Probolinggo, 13, 11, 1997 Alamat : Jalan Mastrip Gg4 Kota Probolinggo Jenis klamin : Laki-laki Agama : Islam No telp : 081358268747 Email : irwangio99@gmail.com Pendidikan Formal : - Mahasiswa Strata 1 Intitut Agama Islam Negeri Jember
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.