Jumat, Juni 18, 2021

Hari Ibu Tak Sekadar Cokelat dan Bunga Mawar

Mewaspadai Baby Boom Pasca-pandemi

Virus corona (Covid-19) yang muncul sejak akhir tahun 2019 telah menginfeksi lebih dari 8 juta jiwa di seluruh dunia yang 43 ribu di antaranya...

Saatnya Reformasi BPJS Kesehatan

Dunia kesehatan Indonesia akhir-akhir ini dikejutkan dengan tiga aturan baru Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan), yang termaktub dalam Peraturan Direktur (Perdir) Jaminan...

Anarki, Mengapa Ditakuti?

Aksi yang dilakukan oleh kelompok “Anarko Sindikalisme” di beberapa kota seperti Bandung, Jakarta, Malang dan Surabaya, pada peringatan May Day (Hari Buruh) tahun 2019...

Akar Seteru Islam Abangan versus Islam Putihan

Salah satu guna ilmu sejarah adalah menjelaskan sebab musabab terjadinya sebuah peristiwa. Tidak ada kejadian sosial politik yang berdiri sendiri. Ia selalu berkelindan dengan...
Belia Ayu
Ketua Bidang Immawati IMM Renaissance FISIP UMM Periode 2018-2019

Hari ibu biasa kita kenal dengan sebuah momen untuk mengungkapkan dan mencurahkan segala bentuk kasih sayang berupa ucapan kepada ibu. Hal tersebut merupakan wujud kasat mata penghargaan tentang peranan seorang ibu yang telah intens keluarga. Kasih ibu sepanjang masa, begitu kira-kira kalimat yang sering kita dengar jika berada pada momen “kangen” ibu.

Kita sadari bahwa ibu tak pernah berhenti berdoa dan tentu melakukan segalanya dengan baik demi anaknya. Sejak dalam kandungan hingga mampu berpikir tentang yang terbaik bagi diri sendiri, anak tak pernah terlepas dari kasih seorang Ibu. Pemaknaan hari Ibu sebenarnya tidak sesederhana itu. Lalu seperti apa?

Ditetapkannya hari ibu sebenarnya untuk mengenang dan menghargai sekaligus merefleksikan perjuangan kaum perempuan kala itu. Peringatan tersebut ditujukan bukan hanya untuk mengenang jasa perempuan yang disebut ibu. Namun perempuan secara keseluruhan. Mereka yang memperjuangkan adalah kaum perempuan yang juga ambil andil dalam perebutan kemerdekaan Indonesia bersama laki-laki.

Semuanya berawal dari perjuangan kaum perempuan pada zaman kolonialisme Belanda. Perjuangan perempuan dimulai dengan gerakan individu lalu disusul oleh gerakan kolektiv melalui organisasi–organisasi yang sifatnya masih kedaerahan. Hal tersebut didasari oleh permasalahan yang berbeda-beda di setiap daerah. Maka dari itu hampir setiap daerah mempunyai gerakan kolektiv perempuan.

Seperti yang sudah dibayangkan, maka organisasi-organisasi yang bersifat kedaerahan tentu saja akan bergerak sendiri-sendiri. Pada tahun 1928 tepat pada 22 Desember hingga 25 Desember diadakan Kongres Perempuan Indonesia (KPI). Organisasi–organisasi yang bersifat kedaerahan dan masih bergerak sendiri–sendiri dikumpulkan menjadi satu forum. Kongres Perempuan Indonesia pertama diinisiasi oleh tujuh organisasi perempuan mapan Indonesia. Wanita Utomo, Wanita Taman Siswa, Putri Indonesia, Aisyiyah, Jong Islaminten Bon Bagian Wanita, Wanita Katolik dan Jong Java Bagian.

Kongres Perempuan tersebut berlangsung selama 4 hari dari tanggal 22-25 Desember 1928 di Pendopo Joyodipuran, Yogyakarta. Dari Kongres Perempuan Pertama dibahaslah isu–isu terkait pendidikan yang kala itu lebih condong untuk laki- laki. Perempuan pun juga memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dalam hal pendidikan.

Isu yang kedua adalah terkait perkawinan, menginginkan pencegahan perkawinan terhadap anak. Kondisi objektif saat itu perempuan anak-anak atau setidaknya umur sembilan tahun sudah dipingit untuk dinikahkan. Saat itu, perempuan hanya ditempatkan pada ranah-ranah domestik seperti memasak dan membersihkan rumah. Padahal tidak pernah ada pembedaan tanggung jawab sosial antara laki-laki dan perempuan yang demikian.

Dirasa tak cukup sekali kongres untuk menanggapi isu–isu kaum perempuan, dilaksanakanlah lagi Kongres Perempuan  Indonesia yang ke dua pada tanggal 20 hingga 24 Juli 1935 yang dilaksanakan di Jakarta. Kongres Perempuan Indonesia kedua ini dipimpin oleh Ny. Sri Mangoensarkoro. Adanya kongres kedua ini untuk mempererat organisasi –organisasi perempuan dan membahas lebih mendalam terkait nasib kaum perempuan.  Banyak dialektika yang terjadi di kongres perempuan tersebut sehingga menghasikan beberapa keputusan terkait pemberantasan buta huruf terhadap kaum perempuan.

Selain itu perempuan diharapkan menjadi Ibu bangsa. Artinya adalah menjadi seorang ibu yang mampu melahirkan generasi berikutnya untuk Indonesia. Tentu generasi yang tertanam jiwa nasioanlis dan kesatuan serta persatuan untuk memerdekakan Indonesia utama memerdekakan Indonesia dari penjajah kolonial.

Karena masih dirasa masih ada beberapa hal yang mesti dibahas lebih detail, dilanjutkanlah Kongres Perempuan Indonesia ketiga. Hasilnya yakni terus melanjutkan perjuangan pemberantasan buta huruf.

Selain itu, kondisi perempuan saat itu bisa dipilih diparlemen tetapi tidak memiliki hak pilih. Hal tersebut juga membuat perempuan–perempuan yang ada di KPI berjuang untuk mendapatkan hak pilih bagi perempuan. Untuk mewujudkan itu dibentuklah Komite Perlindugan Perempuan dan Anak Indonesia (KPKPAI).

Selanjutnya juga pembahasan terkait kaum buruh perempuan Indonesia dan penetapan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu. Penetapan tersebut adalah doa dan harapan perempuan KPI untuk hidup perempuan Indonesia yang lebih baik kedepan. Hal ini sangat jelas, bahwa hari Ibu bukan saja untuk mengenang dan momen menghargai jasa Ibu. Namun juga seluruh perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak dan agar dapat menjalankan kewajibannya di kehidupan sosial.

Hari ini, perempuan dapat mengenyam pendidikan yang setara dengan laki-laki, perempuan dapat menjadi partner dalam setiap bidang pekerjaan adalah berkat perjuangan kesadaran. Bilmana tidak ada orang-orang yang ingin sadar dan bersuara tentang perempuan, maka tak akan ada kesetaraan antara laki-laki dan perempuan yang kita rasakan seperti hari ini.

Peringatan hari ibu tak tepat bila hanya diperingati untuk mengenang jasa ibu. Namun, hari ibu adalah titik rutin yang kita temui setiap tahun untuk bersama-sama sadar akan hak dan kewajiban sebagai penggerak bangsa Indonesia. Kesadaran memahami hak antar laki-laki dan perempuan tak selayaknya hanya dipahami perempuan. Laki-laki juga perlu paham, agar praktek patriarki tak mengakar kuat dan dapat tumbang suatu saat nanti. Selamat Hari Ibu, Jaya!

Belia Ayu
Ketua Bidang Immawati IMM Renaissance FISIP UMM Periode 2018-2019
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Manifesto Arsip Bagi Pengelolaan Cagar Budaya

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam peninggalan sejarah, mengingat eksistensi terhadap banyaknya kerajaan-kerajaan yang pernah bertahta di bumi nusantara. Selain menjadi negara yang terkenal...

Setelah Sayyid Syarief Mengenolkan Diri

Syariefhans tampil di mimbar dengan gagah dan perlente. Ia mengenakan kemeja hijau tua, dengan lengan panjang yang dikancing rapi. Ketampanan dan kulit putihnya membuat...

Viral, BTS Meal di Tengah Pandemi

BTS Meal adalah menu yang dihasilkan dari kolaborasi antara McDonal dengan Boyband Grup BTS, Korea Selatan. McDonald didirikan pada tahun 1940 oleh Richard dan...

Meluruskan Kasus Takmir Melarang Salat Bermasker di Masjid

Ramai menjadi perbincangan publik saat video berdurasi 2 menit sekian memperlihatkan “brutal”-nya ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah, Jalan Kampung, Tanah Apit, RT...

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.