OUR NETWORK
Jumat, Juni 25, 2021

Hari Buku Nasional, Budaya Literasi Kita Masih Rendah!

Juan Ambarita
Pembaca dan Penulis segala hal.

Dalam sebuah video perjalanannya, Fiersa bersari pernah mengucapkan perbanyaklah membaca buku, supaya pertanyaan bagaimana cara menulis tidak perlu diucapkan lagi. Suatu ungkapan yang menekankan kepada dua jenis aktivias berpikir yaitu membaca dan menulis.

Secara sederhana membaca dapat diartikan sebagai sebuah aktivitas yang bertujuan untuk melatih kemampuan otak dalam memahami suatu informasi. Semakin sering dilakukan maka bisa dipastikan kemampuan mengingat dari si pembaca akan semakin baik.

Kemudian menulis yaitu suatu aktivitas menuangkan ide atau gagasan tertentu ke dalam bentuk tulisan sehingga dapat dibaca di kemudian hari oleh orang-orang, contoh sederhananya ya buku-buku yang kita jumpai saat ini. Semua buku-buku tersebut telah melewati beragam proses berpikir dari si penulis, bagaimana kata demi kata dirangkai secara terstruktur sehingga dapat mencapai suatu wujud nyata karya cipta dari si penulis.

Buku dan peranannya terhadap pemikiran pembacanya

Tak dapat dipungkiri bahwa buku memiliki peranan yang sangat besar dalam menentukan karakter atau pemikiran seseorang setelah lingkungannya. Hal ini dikarenakan dalam tiap-tiap buku terdapat gagasan maupun konsep tentang suatu hal, suatu teori terutama teori sosial yang dikemukakan oleh para ahli dalam suatu buku dapat menggugah jiwa dari si pembaca sehingga menjadi penganut dari teori tersebut.

Namun bagi kaum yang kritis buku selain untuk menambah wawasan juga menjadi sarana peransang untuk menimbulkan berbagai koreksi terhadap konsep yang sudah matang, dari berbagai koreksi tersebut kemudian dapat memicu lahirnya suatu konsep atau tesis baru dalam bentuk buku sehingga pemikiran semakin bergerak maju.

Kesadaran akan pentingnya membaca

Penulis berpandangan bahwa membaca buku merupakan suatu hal yang sangat penting karena membaca menimbulkan pemahaman baru bagi si pembaca yang kemudian pemahaman yang bersumber dari buku tersebut akan diuji relevansinya seiring dengan berjalannya waktu yang kemudian mendorong untuk terciptanya suatu konsep atau gagasan baru yang diwujudnyatakan kembali dalam suatu buku.

Namun ironisnya berdasarkan penelitian dari UNESCO, menyebutkan bahwa Indonesia menempati urutan kedua dari bawah soal literasi di tingkat dunia, artinya minat baca sangat rendah. Data dari UNESCO, menunjukkan betapa minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, hanya terdapat 1 orang yang rajin membaca.

Sementara itu, mayoritas masyarakat Indonesia saat ini sangat suka menatap layar gadget atau gawai nya baik untuk bermain game ataupun bermain sosial media hingga berjam-jam. Menurut laporan perusahaan media asal Inggris. Dalam laporan “Digital 2021: The Latest Insights Inti The State of Digital” yang diterbitkan pada 11 Februari 2021, jika diambil rata-rata keseluruhan orang Indonesia menghabiskan waktu 3 jam 14 menit sehari untuk mengakses media sosial.

Tanpa adanya modal kapasitas Intelektual yang mumpuni dalam hal ini wawasan atau pemahaman yang didapat dari literasi untuk memfilter informasi yang beredar, maka tak perlu heran jika saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang masih mudah sekali terjaring atau menjadi sasaran empuk dari beragam informasi hoax, fitnah, dan provokasi yang semua berakibat pada kegaduhan maupun kerugian.

Demi menanggulangi persoalan di atas maka hal yang pertama dari generasi muda saat ini sebagai generasi penerus bangsa harus meyadari bahwa saat ini kita hidup di era bonus demografi yang semakin memperketat persaingan serta globalisasi yang membuka sekat-sekat pembatas antar kehidupan bernegara.

Pada akhirnya hanya Individu berkualitas lah yang mampu bertahan dan memenangkan situasi. Pemerintah juga semestinya segera melihat dan mengantisipasi segala kemungkinan terburuk dari kondisi ini. Negara ini Kaya akan Sumber daya alam namun masyarakatnya belum mampu untuk mengolah itu semua secara mandiri. Sangat disayangkan apabila kita terpinggirkan di negara sendiri oleh warga negara asing karena faktor kapasitas intelektual.

Selamat Hari Buku Nasional

Kemarin tepatnya pada 17 Mei, merupakan momentum peringatan Hari Buku Nasional, sebagai penutup saya ingin menyerukan dan mengajak para pembaca semua, mari mulai kebiasaan membaca buku demi perkembangan pola pikir.

Membaca buku jelas memperkaya sudut pandang. Melalui membaca buku mendorong kita untuk mempertanyakan kembali suatu konsep pemikiran atau merancang suatu konsep pemikiran baru. Melalui membaca buku juga membuat kita sadar bahwa kita selama ini belum tau apa-apa.

Namun yang terpenting dari semua itu, sebagai makhluk yang berakal budi sangat penting untuk menjaga otak agar terus bekerja sesuai fungsinya, berpikir.

Panjang umur Buku. Hidup Para Pembaca Buku. Salam Literasi.

Juan Ambarita
Pembaca dan Penulis segala hal.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERBARU

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.