Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat sebuah fenomena unik di dalam ruang lingkup publik digital Indonesia. K-popers yang dikenal sebagai penggemar budaya pop Korea ikut terlibat aktif dalam pembahasan politik nasional. Hangeul sendiri merupakan sistem tulisan asli yang digunakan untuk menulis dalam bahasa Korea. Penggunaan Hangeul ini digunakan oleh K-Popers untuk mengkritik kebijakan pemerintah serta figur politik tertentu. Bagi masyarakat awam, fenomena ini mungkin hanya mereka anggap sebagai bentuk fanatisme terhadap sebuah budaya asing. Namun, jika dibedah melalui analisis filsafat Fenomenologi, praktik ini menunjukkan adanya strategi untuk bertahan di tengah ancaman represi.
Fenomena ini seringkali dipandang sebagai tren atau lelucon yng sama sekali tidak memiliki dampak tertentu. Nyatanya, penggunaan aksara asing sebagai alat untuk mengkritik pemerintah menandakan adanya pergeseran strategi berekspresi. Untuk memahami fenomena ini, kita dapat memahaminya melalui pemikiran dari Edmund Husserl.
Dengan menggunakan pendekatan dari Edmund Husserl, kita dapat membedah fenomena-fenomena yang kompleks secara lebih mendalam. Konsep epoche yang digunakan untuk menghilangkan stigma yang ada pada kelompok K-popers. Selanjutnya, konsep Intentionality yang menjelaskan tentang bagaimana Hangeul yang digunakan oleh K-popers sebagai senjata untuk mengkritik pemerintahan. Lebenswelt sebagai bentuk pengalaman hidup yang dirasakan oleh K-popers secara langsung. Terakhir, bagaimana K-popers mempertahankan diri ditengah pengawasan di ruang lingkup publik digital.
Epoche: Menghilangkan stigma pada K-popers
Epoche, merupakan proses untuk “mengurung” segala prasangka, asumsi dasar, dan penilaian awal agar dapat melihat fenomena budaya secara murni.
Hingga saat ini masyarakat masih memiliki asumsi bahwa K-popers hanyalah sekumpulan remaja yang hanya peduli pada paras rupawan idola mereka. Jika kita melakukan apoche, kita dapat menghilangkan pandangan negatif tersebut. Stigma tersebut dapat disingkirkan dan kemudian memunculkan esensi murni dari fenomena ini. Jika dilihat kita berhadapan dengan subjek atau warga negara yang sangat peka dengan tindak perilaku ketidakadilan. Akan tetapi, di saat yang sama mereka sadar penuh dengan apa yang disebut sebagai persekusi digital. Berdasarkan penggambaran tersebut menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak sedang bermain-main. Mereka sedang berusaha melangkah di tengah adanya pengawasan digital para penguasa.
Intentionality: Hangeul bukan hanya estetika, melainkan senjata
Konsep kunci lainnya dalam fenomenologi dari Edmund Husserl adalah Intentionality. Intentionality ini adalah semua kesadaran adalah kesadaran akan sesuatu (all consciousness is consciousness of something). Ketika kelompok K-popers ini melakukan kritik menggunakan Hangeul, ini menunjukkan kesadaran subjek tidak ditujukan pada estetika linguistik atau apresiasi budaya Korea. Kesadaran mereka secara Intentionality merujuk pada dua hal sekaligus yaitu realitas ketidakadilan sosial-politik dan ancaman pengawasan negara (contohnya seperti UU ITE).
Ketika mereka menggunakan Hangeul untuk mengeja kata dalam bahasa Indonesia, mereka dengan penuh kesadaran memiliki tujuan untuk mengecoh mesin pelacak kata kunci (keyword tracker) yang beroperasi dalam abjad Latin. Kesadaran Intentionality mereka ini memiliki dua tujuan yang saling berkaitan yaitu melontarkan kritik dan melindungi dari kriminalisasi.
Lebenswelt (Pengalaman Hidup)
Edmund Husserl juga memperkenalkan konsep Lebenswelt (Pengalaman Hidup) yang menggambarkan realitas yang dirasakan oleh manusia secara langsung. Bagi generasi Z media sosial adalah Lebenswelt mereka. Namun, realitas yang ada di dunia digital tersebut sudah terpolusi oleh adanya intervensi kekuasaan. Kritik yang biasanya dilakukan menggunakan abjad Latin tidak lagi aman untuk dilakukan. Seringkali kritik ini dapat berujung pada doxxing, teror mental, hingga ancaman bui.
Oleh karena itu, penggunaan Hangeul adalah salah satu bentuk nyata kemampuan adaptasi manusia terhadap Lebenswelt yang menekan. K-popers merekayasa bahasa dengan tujuan untuk membentuk ruang publik baru. Ruang publik baru ini kemudian menjadi ruang eksklusif bagi mereka yang memiliki pemahaman terkait kondisi politik di Indonesia dan mampu membaca Hangeul. Cara unik ini tidak dapat terbaca oleh algoritma dan pasukan bayaran para penguasa.
Keberadaan di Tengah Pengawasan
Bertahan ditengah pengawasan bukanlah hal yang mudah dilakukan. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana K-popers masih bisa melakukan kebebasan berpendapat dengan menggunakan Hangeul sebagai senjata perlawanan mereka. Adanya penggunaan Hangeul pada kumpulan K-popers adalah bukti nyata ketangguhan kesadaran pada manusia. Bahasa ibu telah dikolonisasi oleh ketakutan dan sensor aparat. Kesadaran pada manusia akan selalu mencari sesuatu yang disebut sebagai “celah” untuk menyerukan kebebasannya.
Selain taktik itu, K-popers juga dikenal sebagai kelompok yang memiliki rasa peduli terhadap satu sama lain yang begitu kuat. Hal ini dibuktikan dari bagaimana mereka memperlakukan buzzer pro-pemerintah yang menyerang teman mereka yang sama-sama seorang K-popers. Saat hal ini terjadi, ribuan akun lain dengan foto profil yang sama akan ikut turun melakukan perlawanan pada buzzer tersebut. Mereka akan saling bekerja sama untuk menumbangkan akun buzzer tersebut untuk membantu melindungi teman mereka.
Sebagai kesimpulan, adanya fenomena kritik yang dibalut Hangeul ini, bukanlah sesuatu yang dapat disebut sebagai lelucon semata. Aksara asing tersebut diambil, dimaknai ulang, dan digunakan sebagai senjata perlawanan. Cara ini dibuat supaya subjek atau warga negara dapat terus berteriak lantang di dalam sebuah ruang yang memaksa mereka untuk bungkam.
