Minggu, April 21, 2024

Gus Dur dan Ramuan Relativisme Budayanya untuk Indonesia

Askar Nur
Askar Nur
Alumni Magister Antropologi, Universitas Hasanuddin Makassar dan aktif di Lembaga Studi Sosial Kemasyarakatan (LSSK)

Ahmad Dhani, seorang musisi ternama Indonesia, dalam tanggapannya tentang Gus Dur yang dimuat di kanal Youtube Gus Dur in Kick Andy, 11 tahun yang lalu, mengungkapkan bahwa, “Gus Dur merupakan sosok yang terlalu maju untuk Indonesia. Indonesia sendiri belum siap untuk menerima karakter pemimpin seperti Gus Dur, maka dari itu terjadilah kontroversi, karena Indonesia sendiri, masyarakatnya memang belum siap untuk memperoleh pemimpin seperti Gus Dur”.

Salah satu tindakan “ajaib” Gus Dur yang tidak dimiliki oleh para pemimpin Indonesia lainnya adalah seperti yang dilansir dari Tirto.id, saat Gus Dur menggelar forum di Jayapura pada 30 Desember 1999 yang dihadiri ribuan masyarakat Papua dan memperbolehkan pengibaran Bendera Bintang Kejora dengan syarat agar dikibarkan di bawah Bendera Merah-Putih. Tindakan Gus Dur tersebut dinilai oleh masyarakat Papua sebagai satu-satunya presiden Indonesia yang secara terbuka mengakui kembali masyarakat Papua sebagai satu kesatuan bangsa dan berhasil merebut hati masyarakat Papua sampai saat ini.

Apa yang dilakukan Gus Dur di masa lalu baik dari segi pemikiran maupun tindakan, sejatinya, adalah yang dibutuhkan Indonesia saat ini. Sebagai Negara dengan corak multikultural, Indonesia tidak membutuhkan sosok pemimpin yang pintar di segala lini melainkan cerdas dalam menyikapi konsep dan konteks tentang perbedaan. Kecerdasan Gus Dur melihat perbedaan latar belakang kebudayaan masyarakat Indonesia sebagai sesuatu yang “unik” merupakan sebuah bukti bahwa Gus Dur tidak hanya sebagai sosok yang paham agama secara universal, melainkan juga paham konsep kebudayaan Indonesia secara holistik.

Pemahaman Gus Dur tentang kontur kebudayaan masyarakat Indonesia dan kepiawaiannya dalam melakukan pemetaan agar tidak terjadi konflik antar budaya membawanya pada sikap dan prinsip toleransi paripurna, yang oleh Franz Boas diistilahkan sebagai prinsip relativisme budaya (cultural relativism).

Franz Boas, seorang tokoh antropologi yang dijuluki sebagai Father of American Anthropology, mempopulerkan konsep relativisme budaya dalam kajian antropologi sebagai sebuah prinsip yang menekankan bahwa setiap kelompok masyarakat baik dari segi pengetahuan, kepecayaan, dan aktivitasnya harus dipahami berdasarkan aspek kebudayaannya masing-masing.

Relativisme budaya, oleh Boas, dianggap sebagai sebuah aksioma dalam studi antropologi yang memberikan ultimatum kepada para antropolog agar lebih memandang kebudayaan masyarakat yang beragam sebagai sebuah bentuk keunikan tersendiri dan lebih “membiarkan fakta berbicara sendiri” dalam melakukan penelitian antropologi.

Lebih lanjut, analisis konsep tentang relativisme budaya juga diutarakan oleh Prof. Nurul Ilmi Idrus dalam pidato pengukuhan Guru Besarnya dalam bidang Ilmu Antropologi, Universitas Hasanuddin pada 14 September 2006 lalu, bahwa relativisme budaya merupakan sebuah prinsip atau pandangan yang lebih melihat perbedaan budaya antara yang satu dengan lainnya bukan sebagai “keanehan”, melainkan “keunikan” (cultural uniqueness).

Selain itu, dalam The Rise of Anthropological Theory (1968), Marvin Harris, seorang antropolog yang terkenal dengan pemikirannya yang kontroversi dalam studi antropologi, melabelisasi pendekatan antropologi Boas sebagai partikularisme historis. Baginya, Boas lebih menggambarkan masa kini dalam konteks masa lalu (historis), dan “partikular”, karena Boas mengganggap bahwa sejarah setiap budaya adalah unik.

Dalam konteks Indonesia, cara pandang relativisme budaya dapat dikategorikan sebagai sebuah mitigasi dalam mengurangi atau bahkan menghilangkan pertentangan antar masyarakat dari segi latar belakang kebudayaan yang beragam dan untuk menciptakan keseimbangan dalam menjalani proses kehidupan. Meskipun dalam hal pemikiran, termin relativisme budaya tidak pernah diutarakan oleh sosok Gus Dur selama ini, akan tetapi secara praksis, Gus Dur selalu mengimplementasikannya baik berpikir maupun bertindak.

Selain sikap humanis Gus Dur terhadap masyarakat Papua, responnya terhadap segala hal yang terbilang sensitif dan tabu serta mampu memicu polemik di kalangan masyarakat secara santai, humoris dan terbilang nyeleneh juga merupakan sikap relativisme budaya yang ditunjukkan khas Gus Dur. Salah satu respon humoris Gus Dur saat dituduh kafir, “Gus ada yang bilang njenengan kafir.” Ujar seorang santri. Gus Dur pun menjawab, “Ya tidak apa-apa dibilang kafir, tinggal ngucapin dua kalimat syahadat, udah Islam lagi.”

Tak hanya itu, Gus Dur juga memiliki banyak cerita-cerita humor lainnya yang berkaitan dengan jati diri bangsa Indonesia. Gus Dur pernah bercerita tentang empat macam sifat bangsa: Sedikit bicara, sedikit kerja adalah Nigeria dan Angola, sedikit bicara, banyak kerja adalah Jepang dan Korea Selatan, banyak bicara, banyak kerja adalah Amerika dan China, banyak bicara, sedikit kerja adalah Pakistan dan India. Kemudian seseorang bertanya pada Gus Dur, “kalau bangsa Indonesia, masuk yang mana Gus?”, Gus Dur dengan enteng menjawab, “Indonesia tidak bisa dimasukkan di antara empat itu, karena di Indonesia, yang dibicarakan beda dengan yang dikerjakan.”

Dari banyaknya cerita dan respon-respon Gus Dur yang terbilang nyeleneh dan humoris baik berkaitan dengan agama, bangsa Indonesia maupun kebijakan-kebijakannya selama menjadi presiden Indonesia menyiratkan bahwa Gus Dur merupakan sosok yang inklusif dan memandang perbedaan sebagai sebuah keunikan tersendiri dalam kehidupan masyarakat serta menjadikan agama sebagai pedoman yang hidup dan tidak penuh dengan kekakuan yang justru membuat manusia terbebani.

Gus Dur menjalani kehidupan dengan penuh keseimbangan, maka tidak berlebihan, jika kita menyimpulkan bahwa sosok Gus Dur adalah simbol pemersatu dan Bapak Toleransi Paripurna Indonesia. Jauh sebelum konsep moderasi beragama hadir di Indonesia, Gus Dur telah mempraktekkannya dalam kehidupannya dan menghiasi masa kepemimpinannya sebagai presiden Indonesia. Gus Dur bukan hanya Guru Bangsa, melainkan juga Guru Toleransi Paripurna Indonesia. Al-Fatihah!

Askar Nur
Askar Nur
Alumni Magister Antropologi, Universitas Hasanuddin Makassar dan aktif di Lembaga Studi Sosial Kemasyarakatan (LSSK)
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.