Senin, Mei 17, 2021

Guru Anti-Kekerasan

Aksi Reuni 212, Sakralisasi Simbol, dan Ilusi Kebangkitan Islam

Setelah pagelaran Aksi Bela Islam yang berjilid-jilid mulai 1 sampai 7 kali aksi sejak 2016-2017 dengan memilih tanggal tertentu secara simultan, persentase ekstremisme di...

Kedok People Power dan Nafsu Kekuasan

Gerakan people power yang telah digaungkan oleh pasangan nomor urut 2 adalah gerakan yang tidak masuk akal. Menurut analisis hukum saya ini adalah gerakan...

Patriarki Musuh Bersama

Hari Perempuan Internasional, suara perempuan bergemuruh di mana-mana. Melalui kampanye, aksi refleksi hingga tulisan-tulisan, mereka ekspresikan. Sebab salah satu tantangan utama kita dalam mengatasi...

Akui dan Lindungi Pekerja Rumah Tangga!

Di kala pegawai-pegawai pemerintah ataupun karyawan-karyawan swasta kelabakan dan sibuk dengan segala pekerjaannya. Mereka membutuhkan Pekerja Rumah Tangga (PRT) untuk menyiapkan dan mengurusi segala...
Kurniawan Adi Santoso
Guru SDN Sidorejo, Kab. Sidoarjo, Jatim

Guru itu digugu lan ditiru. Segala tindak tanduk seorang guru haruslah bisa diteladani muridnya. Memberikan contoh budi pekerti yang baik itu mutlak dilakukan guru. Sehingga menihilkan perilaku kasar, semena-mena, dan arogan pada murid.

Nyatanya masih ada guru yang kasar pada muridnya. Seperti yang baru-baru ini, guru di SMA Negeri 12 Bekasi, Jawa Barat, menampar siswanya dan viral video di media sosial (11/2/2020). Sang guru tersulut emosi tatkala mendisiplinkan siswa yang terlambat masuk sekolah dan tidak memakai ikat pinggang.

Sudah berkali-kali diserukan dan diingatkan pada guru bahwa tak boleh memakai kekerasan dalam mendidik. Guru yang melakukan kekerasan pada muridnya bisa berujung dibui. Harusnya itu dijadikan perenungan diri bagi guru. Bagaimana guru dapat mewujudkan generasi yang cerdas dan berkarakter bila ia masih memakai kekerasan dalam mendidik?

Guru yang melakukan kekerasan pada anak didiknya karena masih memosisikan anak didik sebagai objek langsung dari kurikulum. Pendekatan pendidikan yang digunakan guru lebih sering bersifat top down, dari atas ke bawah dan mendikte. Pendekatan seperti itu berasumsi guru sebagai pusat kebenaran dan pengetahuan, lebih bermoral dan pandai sehingga tidak dapat dibantah.

Hal itu berdampak pada desain pembelajaran yang dilakukan guru. Murid dididik sesuai dengan keinginan guru, layaknya robot. Jika murid tak sesuai dengan harapan guru atau melakukan kesalahan, maka guru dengan superioritasnya atau sebagai penguasa kelas merasa berhak melakukan tindakan untuk mendidik siswa meski dengan cara kekerasan.

Mirisnya ada paradigma school corporal punishment, pemberian hukuman atas nama mendidik siswa yang telah mengakar dalam dunia pendidikan kita. Guru berpandangan berhak menentukan bentuk punishment yang dipilih ketika siswa melanggar aturan. Fatalnya, hukuman fisik dipilih sebagai cara ampuh untuk menyadarkan murid dalam mencapai tujuan pendidikan.

Kekerasan pada murid yang dilakukan guru meskipun itu dengan dalih hukuman mendisiplinkan, tak bisa dibenarkan. Walau bagaimanapun hukuman fisik sudah tidak relevan digalakkan bagi generasi dewasa ini. Imbasnya, hukuman kekerasan hanya akan mematikan semangat belajar peserta didik serta mendekatkan guru pada jurang kriminalisasi.

Lagi pula hukuman dengan kekerasan malah akan menghasilkan kekerasan turunan. Murid akan meniru kekerasan sebagai jalan menyelesaikan masalah. Lalu untuk apa melanggengkan hukuman dengan kekerasan fisik? Bukankah pendidikan sejatinya menegasikan kekerasan? Hukuman kekerasan malah akan melahirkan generasi yang penuh kebencian. Jika ingin pendidikan kita meningkatkan kualitasnya, maka kekerasan harus segera ditinggalkan.

Penanam Nilai/Karakter

Peran guru yang diidealkan masyarakat adalah sebagai penanam nilai/karakter. Sebelum menanamkan karakter pada murid, guru haruslah menjadi pribadi yang berkarakter. Karakter dicerminkan dalam pilihan yang baik, tindakan yang positif atau perilaku, dan kesadaran etis seseorang. Karakter juga tecermin dalam keputusan, cerminan hati, dan cara berpikir seseorang (Hutchinson, 2006).

Guru yang kasar pada muridnya menandakan pendidikan karakter belum membumi dikalangan guru. Penerapannya belum sungguh-sungguh dilakukan guru. Proses internalisasi nilai karakter masih sebatas level pemahaman, belum sampai penghayatan lalu dibudayakan oleh guru.

Karena itu, penguatan karakter guru mendesak dilakukan dengan jalan digembleng kompetensi kepribadiannya. Kompetensi kepribadian yang dimaksud adalah sikap luhur yang mendukung tugasnya mengajar dan mendidik. Seperti kasih sayang, sabar, telaten, menghargai kemanusiaan, dan sebagainya.

Selama ini pembinaan kompetensi guru lebih mengedepankan kompetensi pedagogik dan profesional. Mulai sekarang harus diimbangi pembinaan kompetensi kepribadian. Ini karena selain kompetensi pedagogik dan profesional, guru harus memiliki kompetensi kepribadian yang baik.

Pembinaan dapat dikembangkan melalui pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan. Pembinaan akan efektif dilakukan dalam komunitas guru (KKG/MGMP), organisasi guru (PGRI), maupun pembinaan dari dinas pendidikan setempat. Materi pembinaan diharapkan terkait dengan pendidikan ramah anak dan penguatan karakter. Kegiatan tersebut dimaksudkan agar guru tidak gagap ketika menangani anak yang nakal.

Guru diharapkan memakai kompetensi kepribadian sebagai roh mendidik. Praksisnya, konsistensi guru untuk menjalankan fasilitasi edukasi dengan bertanggung jawab sesuai tugas pokok dan fungsinya. Menjaga keteladanan moral yang bisa dijadikan panutan bagi anak didik.

Untuk itu, guru perlu menerapkan metode pendidikan warisan Ki Hadjar Dewantara. Guru mendidik menggunakan metode Among. Ia memberi tuntunan bagi hidup anak-anak agar dapat berkembang dengan subur dan selamat, baik lahir maupun batinnya. Pun ia jadi teladan anak dalam hal keluhuran budi dan kehalusan budi.

Keluhuran menunjukkan sifat batin manusia yang suci, merdeka, adil, berketuhanan, cinta kasih, kesetiaan, ketertiban, kedamaian, dan kesosialan. Sedangkan kehalusan budi menunjukkan sifat manusia yang serba halus dan indah (kebudayaan). Ini ditumbuhkembangkan pada anak lewat sumber pengajaran antara lain etika, sejarah kebudayaan, olahraga (dolanan anak/permainan tradisional), dan kesenian (cerita pewayangan, sastra gending, tarian, sandiwara, dll).

Pendidikan karakter yang diwariskan Ki Hadjar tersebut saat ini sudah diterjemahkan dalam Perpres No. 87 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Yang intinya pendidikan harus diorientasikan untuk mengharmoniskan antara olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga.

Maka, hendaknya dilakukan dan didukung komitmen kuat segenap warga sekolah khususnya guru. Pastinya untuk menuju sekolah berkarakter. Sekolah yang berkarakter niscaya iklim belajarnya nirkekerasan.

Kurniawan Adi Santoso
Guru SDN Sidorejo, Kab. Sidoarjo, Jatim
Berita sebelumnyaKampus Merdesa
Berita berikutnyaRetaknya Pemerintah Koalisi Malaysia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.