Jumat, April 23, 2021

Goyang Boyband vs Tempe Seukuran Kartu ATM

Nasib Anak-Anak di Penjara Papua

Pada awal bulan Juli 2017, ada 3408 anak-anak di lembaga pemasyarakatan/rumah tahanan di seluruh Indonesia. Dari angka tersebut, 877 anak berstatus sebagai tahanan, dan...

Pilkada, Perlombaan atau Pertandingan?

Pemilihan kepala daerah atau yang sering disebut dengan pilkada memang sebuah isu yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Menjadi orang nomor satu di masing-masing daerah,...

Bancakan Korupsi Daerah Bernama Pokir

Proses penyusunan dan pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan sektor paling rawan untuk dikorupsi. Proses ini seakan menjadi lahan basah bagi para...

Membincang kembali Islam Nusantara dan Tawaran Islam Masa Kini

Istilah Islam Nusantara yang sering digaungkan memiliki daya tarik tersendiri. Islam Nusantara adalah upaya memperkenalkan Islam yang menghargai tradisi dan budaya lokal. Menghargai tradisi...
Damianus Edo
Generasi Milenial, aktif menulis literasi media

Di tengah nilai tukar rupiah dan dolar yang semakin tinggi, membuat bangsa ini banyak yang pesakitan. Bahkan, ada yang mengatakan mengarah ke krisis tahun 1998 dan ada pula yang mengatakan itu politisasi rupiah. Meskipun saat ini rupiah pimpin penguatan nilai tukar di Asia.

Mengutip Bloomberg, Rupiah menguat 1,22 persen terhadap USD ke posisi Rp 14.794 pada pukul 14.49 WIB, penutupan Senin 5 Oktober 2018 pada posisi Rp 14.976 per USD.

Dalam kebisingan saat itu, Jokowi melakukan lawatan ke Korea Selatan. Ini merupakan kunjungan balasan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-In di Indonesia 2017 silam.

Lawatan Presiden Jokowi, disambut hangat oleh Pemerintah Korea Selatan. Bukan saja soal parade di Istana Changdeok di Seoul yang merupakan Istana tua berusia 600 tahun, warisan UNISCO. Atau kesepakatan-kesepakatan kerja sama Indonesia dan Korea Selatan dalam hal investasi.

Ini soal pertemuaan Presiden Jokowi dengan Boyband, Super Junior alias Suju asal Korea itu. Di mana Boyband asal Korea ini pernah beramaikan Asean Games kemarin. Presiden Jokowi dan Ibu Negara, Iriana berpose dengan 7 anggota Super Junior, saat lawatan ke Korea Selatan. Dan dihadiahi album Super Junior, lengkap dengan tanda tangan mereka.

Saya berusaha untuk tidak masuk ke kesepakatan bilateral Indonesia-Korea Selatan. Saya menyakini para ekonom maupun aktivis dan politisi bisa berdebat soal relevansi antara pelemaham rupiah dan lawatan Presiden Jokowi ke Korea Selatan itu. Itu domain mereka, silakan.

Menggenitkan bagi saya, atau mungkin anak muda pencinta serial drama Korea di tanah air. Saya iseng dengan mengupload itu di grup WhatsApp, di mana dalam grup adalah teman-teman seangkatan saya masih muda. Teman perempuan memang yang paling banyak mengomentari foto Presiden Jokowi dan Boyband Super Junior. Salah satunya, mereka mengatan, “Oh my Good, vokalisnya saya sangat ngefans”. Ada juga yang mengatakan “ganteng banget, aku suka potongan rambut dan style mereka”. Dan kebanyakan yang mengomentari adalah kaum hawa milenial.

Ini persis atraksi Jojo, saat buka baju di perhelatan Asean Games kemarin. Sebagian emak-emak pun terkagum-kagum dengan postur tubuh Jojo. Atau romantika film Dilan yang sempat viral berapa bulan yang lalu. Yang pasti, ini bukan tempe seukuran kartu ATM yang dilontarkan Sandiaga Uno.

Tetapi mana yang mendekati persoalan ekonomi, terutama untuk memperkuat kembali rupiah? Apakah tempe seperti ukuran kartu ATM atau goyang Boyband ala Jokowi. Tergantung sudut pandang apa kita melihatnya. Untuk itu, saya berusaha menganologikan begini loh;

Sandiaga Uno membandingkan Tempe adalah seukuran kartu ATM memang terkesan analogi metafor. Tapi substansi pernyataan Sandiaga Uno, soal sembako yang katanya naik kalau rupiah terus melemah. Mungkin lho, ya. Apalagi pakde Jokowi sudah mengunjungi pasar di Anyar, Tangerang – Banten, dengan memperhatikan “harga stabil tempe seharga Rp 5.000 bisa dibagi 15 potong”, ujar Jokowi (4/11/18).

Saya juga berusaha untuk memahami lawatan, Presiden Jokowi ke Korea Selatan di tengah rupiah yang kian melemah, akan membawa dampak positif. Bahwasannya hasil kesepakatan bilateral kedua negara, di mana Indonesia menargetkan nilai perdagangan mencapai USD30 miliar pada tahun 2022 mendatang.

Dan ini positif, apabila investor Korea Selatan ingin berinvestasi ke Indonesia akan berdampak pada nilai tukar rupiah menuju penguatan. Tetapi sedikit mengusik saya, goyang Boyband ala Jokowi, apa relevansinya untuk penguatan rupiah? Ini soal pasar Ayu Ting Ting atau Via Vallen sampai dengan Syahrini dan penyanyi dangdut tanah air.

Berdasarkan riset Tirto, pada periode 17 Februari – 8 Maret 2017, yang diukuti oleh 529 responden, dan mayoritas responden adalah anak muda usia 21 hingga 26 tahun sebesar 56,14 persen., dan 88, 09 persen ada di Pulau Jawa dan Ibu Kota jakarta. Dalam riset Tirto mengatakan bahwa, 49,72 persen orang suka serial Korea sebagai favorit.

Dalam riset tersebut, responden tak tanggung-tanggung mengatakan bahwa, kesukaan mereka akan serial Korea adalah penampilan fisik dan kemampuan pemain serial Korea menjadi alasan utama mereka, selain alur cerita dan jumblah episodenya. Dan persentasenya cukup tinggi dengan alasan ini, sebesar 31,56 persen.

Berita ini tentu, membuat Via Vallen, Ayu Ting-Ting dan Syahrini terpukul. Pasar dangdut yang menjadi kebanggaan Indonesia, mungkin saja akan digelinding Boyband ala Korea. Anak muda yang cenderung menikmati serial Korea akan kecanduan dan melupakan bagaimana Via Vallen menggetarkan panggung Asean Games.

Mengurangi budaya nyawer ala dangdutan di desa-desa. Saran saya, Presiden Jokowi saat kampanye nanti, Via Vallen, Ayu Ting Ting dan Syahrini haruslah diajak untuk mengurangi rasa sakit hati atau mungkin kegalauan.

Dengan kata lain, Via Vallen cs mau mengatakan dangdutan tidak kalah asyiknya dengan Boyband asal Korea itu.

Daftar Pustaka:

https://tirto.id/anak-muda-lebih-suka-serial-korea-ketimbang-sinetron-coSM

Bloomberg

Damianus Edo
Generasi Milenial, aktif menulis literasi media
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.