Tidak ada kekuatan besar yang lahir tanpa menguasai komoditas strategis. Abad ke-16 mencatat bagaimana rempah-rempah dari Nusantara menyeret bangsa Eropa berlayar ribuan mil, mengeluarkan segenap energi sumber daya untuk menyalakan spirit kolonialisme, dan membentuk peta dunia modern. Kini, lima abad kemudian, dunia kembali menyaksikan pola yang sama namun dengan aktor dan komoditas berbeda. Mineral tanah jarang (rare earth) menggantikan pala dan cengkeh sebagai “emas baru” yang menentukan arah teknologi, industri, dan bahkan lanskap geopolitik abad ke-21.
Ketika dunia berbicara tentang transisi energi dan teknologi hijau, sesungguhnya yang sedang berlangsung adalah pertarungan “senyap” atas mineral tanah jarang. Dari kendaraan listrik hingga sistem persenjataan modern, hampir seluruh teknologi strategis bergantung pada unsur penting ini.
Fakta bahwa Greenland Resources Inc. menemukan kandungan rare earth mencapai 579,5 ppm menunjukkan bahwa pusat gravitasi geopolitik global sedang bergeser. Jika dahulu rempah-rempah menjadi pemicu kolonialisme, maka mineral tanah jarang kini berpotensi menjadi pemantik konflik ekonomi dan politik antarnegara besar. Sekaligus menjadi penanda bahwa pertarungan atas sumber daya strategis telah memasuki babak baru.
Ketika Donald Trump pada 2019 secara terbuka menyatakan ketertarikannya untuk “membeli” Greenland, dunia menertawakannya sebagai manuver eksentrik dan tidak lucu. Namun dalam perspektif geopolitik sumber daya, pernyataan itu justru sangat rasional. Greenland bukan sekadar pulau es, melainkan wilayah dengan cadangan mineral strategis, posisi militer kunci di Arktik, serta potensi rare earth yang kini terbukti melalui temuan Greenland Resources Inc.
Dalam konteks ini, ambisi Trump bukanlah anomali politik, melainkan refleksi dari pergeseran global, negara-negara besar berlomba mengamankan bahan baku masa depan sebelum kompetitor melakukannya. Sehingga tak heran syahwat yang menggebu Donald Trump untuk menguasai pulau es di Kutub Utara tersebut berangkat dari fakta temuan tersebut.
Ketergantungan dunia pada mineral tanah jarang akan meningkat drastis seiring transisi energi dan digitalisasi industri. Penemuan deposit rare earth di daratan Greenland memperkuat dugaan bahwa Greenland bukan sekadar aset geografis, melainkan simpul penting dalam perebutan hegemoni ekonomi global, sebagaimana Maluku pada abad rempah-rempah.
Pertanyaannya menjadi lebih serius: apakah dunia sedang menyaksikan lahirnya era kolonialisme versi baru, yang dibungkus dalam bahasa investasi dan keamanan nasional?
Kerapuhan Tatanan Global
Konstelasi geopolitik global dalam satu dekade terakhir menunjukkan pola eskalasi yang kian terbuka, terutama sejak meletusnya perang tarif antara AS dan Tiongkok. Kebijakan proteksionis yang digulirkan Washington, mulai dari pembatasan teknologi, tarif tinggi, hingga perang semikonduktor, bukan sekadar manuver ekonomi, melainkan bagian dari strategi menahan laju dominasi Tiongkok. Perang dagang ini memperlihatkan bahwa globalisasi telah memasuki fase baru: bukan lagi integrasi, melainkan fragmentasi. Rantai pasok dunia terbelah, kepercayaan antarnegara menurun, dan ekonomi global bergerak menuju pola blok-blok kekuatan yang saling menaruh curiga.
Kecemasan dunia semakin meningkat ketika pendekatan unilateral kembali menguat di bawah kepemimpinan Donald Trump. Retorika keras terhadap Venezuela, yang kaya minyak serta dukungan terbuka terhadap perubahan rezim, memperlihatkan bahwa kepentingan energi dan sumber daya tetap menjadi variabel utama dalam kebijakan luar negeri Paman Sam. Banyak analis melihat pola lama yang dihidupkan kembali, seperti; tekanan ekonomi, sanksi, embargo, dan ancaman militer sebagai instrumen untuk mengamankan kepentingan strategis.
Jika minyak menjadi jantung geopolitik abad ke-20, maka mineral tanah jarang adalah nadi utama abad ke-21. Ketegangan AS versus Tiongkok, instabilitas di Timur Tengah, serta manuver Amerika di kawasan Arktik menunjukkan satu benang merah, negara-negara besar tengah mengamankan bahan baku yang menopang teknologi, pertahanan, dan transisi energi masa depan.
Perang tarif Amerika Serikat-Tiongkok menunjukkan bahwa ekonomi internasional tidak lagi digerakkan oleh efisiensi pasar semata, melainkan oleh kalkulasi kekuasaan yang bersifat coersive disertai dengan pendekatan konfrontatif, terbuka, dan transaksional. Sikap keras terhadap Tiongkok, tekanan terhadap Venezuela yang kaya minyak, serta ancaman berulang terhadap Iran, yang selama ini menurut Washington dianggap sebagai salah satu axis of evil, memperlihatkan bahwa sumber daya strategis tetap menjadi pusat gravitasi geopolitik.
Dalam paradigma offensive realism, kondisi ini mencerminkan kecenderungan negara besar untuk memaksimalkan kekuatan relatifnya demi bertahan dalam sistem internasional yang “anarkis”. Tarif, pembatasan teknologi, hingga kontrol rantai pasok bukan sekadar instrumen ekonomi, melainkan alat strategis untuk mempertahankan dominasi. Dunia pun memasuki fase baru: kompetisi antar kekuatan yang bersifat struktural dan jangka panjang (John J. Mearsheimer, The Tragedy of Great Power Politics, 2014).
Menurut perspektif Robert D. Kaplan dalam karyanya “The Revenge of Geography”, lanskap geografi dan sumber daya global tidak pernah kehilangan relevansinya, ia hanya menunggu momentum untuk kembali menentukan arah pendulum sejarah. Sebagaimana diuraikan pula oleh Zbigniew Brzezinski dengan konsep “Grand Strategy”-nya, bahwa penguasaan wilayah-wilayah kunci yang mengendalikan sumber daya strategis merupakan prasyarat dominasi global.
Oleh karena itu, tidaklah mengejutkan kebijakan agresif Gedung Putih dapat diinterpretasikan bukan sebagai anomali, melainkan sebagai ekspresi telanjang dari logika geopolitik klasik yang selama ini tertutupi retorika multilateralisme. Chomsky menegaskan dalam perspektif yang berbeda bahwa intervensi dan tekanan geopolitik negara besar hampir selalu dibungkus dengan narasi moral atau keamanan, padahal inti sesungguhnya adalah kontrol atas sumber daya dan struktur ekonomi global. Konflik pun tidak lagi selalu tampil dalam bentuk invasi terbuka, melainkan melalui dominasi investasi, tekanan ekonomi, dan penguasaan rantai pasok (Noam Chomsky, Hegemony of Survival, 2003),
Pada akhirnya, sejarah telah mengajarkan suatu hal yang tak pernah berubah, yaitu geopolitik sejatinya tidak pernah netral, dan konflik adalah keniscayaan dalam tatanan dunia yang dibangun atas berbagai kepentingan. Wajah konflik mungkin berubah, tetapi logikanya tetap sama, siapa yang menguasai sumber daya, dialah yang menguasai masa depan.
Dunia boleh berbicara tentang kerja sama, transisi hijau, dan tatanan berbasis aturan, namun realitas sesungguhnya menyingkap dengan telanjang bahwa kekuatanlah yang menentukan arah sejarah. Dalam lanskap inilah, perebutan mineral strategis bukan sekadar isu ekonomi, melainkan cerminan pertarungan kekuasaan global yang tak terelakkan. Maka, barangsiapa yang mampu membaca arah jaman, dan mengantisipasinya dengan cerdas maka bangsa ini tidak akan kembali menjadi penonton atau korban perebutan SDA di abad ke-21, sebagaimana di abad rempah-rempah.
