OUR NETWORK
Selasa, Desember 7, 2021

Generasi Z di Media Sosial?

Desak Widhiatuti
Generasi yang masih perlu banyak belajar guna menambah pengetahuan. SI Unhas,Sulsel

Saat ini penggunaan media sosial sebagai platform komunikasi merupakan  hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari bahkan sebagian orang tidak dapat hidup tanpanya. Penggunaan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Line, Telegram, Whatsapp hingga TikTok telah dipenuhi oleh berbagai generasi. Mulai dari generasi baby boomers (1946-1964), generasi X (1965-1980), generasi milenial (1981-1996) hingga generasi yang memiliki peran vital saat ini yakni generasi Z (1997-2012). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2020) dari 270,20 Juta Jiwa penduduk Indonesia 27,94% merupakan generasi Z.

Generasi Z merupakan generasi yang dikenal sebagai generasi yang melek informasi dan terkoneksi (connected) melalui jejaring media sosial digital, yang terhubung melalui internet. Lahir dan dibesarkan dengan kecanggihan teknologi membuat generasi ini dengan mudah memahami penggunaannya sejak kecil.

Teknologi tersebut berupa komputer atau media elektronik lainnya seperti smartphone atau gadget , jaringan internet, dan aplikasi media sosial. Sebagai generasi yang telah  terbiasa dalam memanfaatkan kemajuan teknologi tentu memberikan dampak terhadap kehidupan sehari-hari. Dampak dari kemudahan dalam mengakses internet menciptakan internet sebagai sumber referensi utama dalam mencari suatu informasi.

Seiring dengan peningkatan konektivitas global, pergeseran generasi dapat memainkan peran yang lebih penting dalam menentukan perilaku daripada perbedaan sosio-ekonomi. Kaum muda telah menjadi pengaruh yang kuat bagi orang-orang dari segala usia dan pendapatan, serta pada cara orang-orang tersebut mengonsumsi dan berhubungan dengan mereka (Francis & Hoefel, 2018).

Hal itu dikarenakan intensitas penggunaan dan pemanfaatan  smartphone yang memudahkan generasi ini untuk mengakses media sosial dimana saja dan kapan saja. Oleh karena itu, tidak heran apabila sebagian orang menjuluki generasi ini dengan panggilan digital native atau generasi net. Sebagai digital native mereka menerima media sosial sebagai sesuatu yang taken for granted (sesuatu yang sudah biasa).

Media sosial memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan generasi ini karena platform ini mampu menghadirkan interaksi interaktif antar dua orang yang terpisah jarak sangat jauh sekalipun. Sehingga, tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini media sosial telah menjadi cara baru masyarakat dalam berkomunikasi. Kehadiran media sosial telah membawa dampak yang sangat signifikan dalam berkomunikasi lintas generasi.

Fenomena ini dapat dilihat dari gaya komunikasi media mereka yang lebih nyaman untuk memulai komunikasi dengan teman baru melalui media sosial dan ruang virtual lainnya. Hal ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih nyaman menjalin sebuah relasi secara tatap muka dan bersosialisasi dengan orang lain baik dilingkup tempat tinggal maupun kantor. Generasi Z memiliki sifat yang cenderung terbuka dalam menjalin relasi dengan teman baru melalui dunia maya seperti Instagram, Facebook dan Twitter.

Apabila diamati postingan foto maupun video,  yang tampak difeed-nya adalah sesuatu yang masih trend atau yang instagramable sehingga dipenuhi dengan like maupun comment dari friends ataupun followers di media sosial. Namun pertemanan yang tampak dalam media sosial tersebut tidak seperti dalam kehidupan nyata.

Menurut Christiani dan Ikasari (2020), inner circle pertemanan mereka cukup terbatas yaitu berkisar lima hingga sepuluh orang saja yang dianggap sebagai sahabat dan kurang dari 20 orang disebut sebagai teman di realitas nyata, selebihnya dianggap sebagai kenal.

Akan tetapi, penggunaan media social yang berlebihan mengakibatkan generasi ini mengalami kecanduan yang disebut sebagai social networking addiction. Perilaku ini disebabkan karena generasi ini betah berlama-lama didepan smartphone hanya untuk melihat aktivitas media sosial.

Meskipun disukai oleh hampir seluruh generasi, namun media sosial ternyata menyimpan beberapa sisi gelap yang sulit untuk dihindari  seperti memicu cyber-bullying, mengganggu kegiatan lain, menjadi antisosial, dan kejahatan di dunia maya. Untuk mengantisipasi perihal tersebut, diperlukan treatment dalam mengatasi persoalan yang terjadi dikehidupan generasi Z.

Ada pun beberapa treatment yang dapat dilakukan dalam meminimalisir perilaku tersebut antaralain dibutuhkan literasi media digital sejak dini yang dapat dimulai dari lingkup keluarga dan sekolah. Selain itu, pengawasan serta pengaruh dari orang tua dalam mengedukasi penggunaan media sosial secara bijak. Hal ini diperlukan karena generasi ini akan membawa perubahan dan akan menjadi pemimpin masa depan dalam membangun negara Indonesia menjadi yang lebih baik.

Desak Widhiatuti
Generasi yang masih perlu banyak belajar guna menambah pengetahuan. SI Unhas,Sulsel
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.