Minggu, Desember 3, 2023

Gaza Blackout dan Ancaman “Nakba Besar”

Wianggoro Angga
Wianggoro Angga
Alumni santri Pesantren Persis 1 Bandung. Lulusan Tafsir Hadits Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini, berprofesi sebagai guru Pendidikan Agama Islam dan pengajar Al-Quran di salah satu SMA Swasta di Bandung.

Peperangan antara Israel dan pejuang kemerdekaan Palestina kini memasuki babak baru. Setelah Israel membalas tembakan rudal Hamas dengan membombardir Jalur Gaza melalui serangan udara, kini pasukan Israel memulai serangan darat. Israel kemungkinan menargetkan serangan darat kali ini dilakukan untuk mematikan dan menghancurkan pasukan Hamas.

Namun, jika melihat betapa brutalnya Israel serta titik konsentrasi serangan yang dilakukan selama ini, memerangi Hamas hanyalah “kedok”. Mayoritas masyarakat dunia sepakat, bahwa yang dilakukan Israel saat ini adalah genosida dan kejahatan perang. Betapa tidak, selama serangan Israel, sudah ribuan yang tewas. Kebanyakan terdiri dari rakyat sipil (dewasa hingga kanak-kanak), tenaga medis, dan jurnalis.

Cuplikan tragedi kemanusiaan tersebut tak henti-hentinya muncul di setiap beranda internet. Media berita online pun semakin gencar menampilkan kondisi terbaru Gaza. Jumlah korban, cuplikan tangisan, dan situasi yang mencekam menjadi gambaran riil kengerian perang yang berlangsung. Para jurnalis dan relawan yang berada di Gaza aktif melaporkan tiap perkembangan. Setidaknya sampai tadi malam.

Seperti yang dilaporkan dalam pbs.org, Leila Molana-Allen menyampaikan bahwa semenjak pukul 20:30 malam tadi, imbas dari semakin masifnya serangan Israel dari dua jalur; darat dan udara, listrik dan internet di Gaza mengalami blackout.

Ia mensinyalir bahwa terputusnya jaringan internet dan komunikasi di Gaza mengindikasikan apa gerangan yang akan dilakukan oleh pasukan Israel di Gaza. Sehingga sangat sulit untuk memastikan apakah saat ini serangan Israel adalah untuk pembelaan diri atau invasi perluasan wilayah kekuasaan.

NY Times juga melaporkan bahwa sejak serangan Jumat malam tadi (27/10), dua jaringan seluler besar Palestina, Jawwal dan Paltel mengalami mati total. Seorang fotografer lepas Palestina, Belal Khaled menggambarkan situasi di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis dalam sebuah pesan Whatsapp, “Orang-orang merasa takut, dan mereka dalam keadaan tidak pasti. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di sekitar mereka.”

Seperti yang diketahui, informasi merupakan hal yang sangat penting saat ini. Dengan adanya informasi, kita dapat mengetahui kondisi terbaru dari sebuah peristiwa di berbagai belahan dunia manapun secara real time. Dengan terputusnya jaringan informasi di Gaza tentu membawa berbagai kepanikan dan spekulasi.

Ketidakpastian ini tentu mengarah pada tindakan militer Israel di Jalur Gaza. Beberapa menilai, bahwa pemutusan jalur komunikasi dari dan keluar Palestina adalah untuk menutupi agresi Israel yang akan semakin brutal.

Melihat bagaimana respon dunia terhadap aksi Israel beberapa minggu ini, tentu membuat Israel “panas” dan “membatasi diri”. Namun dengan tidak adanya informasi yang dapat diakses, akan membuat ruang gerak Israel semakin leluasa. Dan dunia akan kehilangan bukti untuk mengutuk kekejaman tersebut.

Seperti yang dilansir oleh CNN Indonesia, bahwa kantor media pemerintah Hamas menuduh Israel melakukan pemutusan listrik dan jalur internet Palestina “untuk melakukan pembantaian dan serangan berdarah dari udara, darat, dan laut.” Hal ini tentu merupakan bagian dari strategi Israel untuk menutup mata dunia terhadap kekejaman yang akan mereka lakukan.

Berbagai peluang dan strategi yang tidak dapat dilakukan Israel sebelumnya menjadi mungkin untuk dilakukan. Maka tidak heran jika ancaman terulangnya peristiwa “Nakba” (malapetaka) yang membuat hampir 800 ribu warga Palestina terusir dari tanah mereka pada 1948 silam dapat terulang kembali.

Spekulasi ini merupakan buntut dari selebaran yang berisi ancaman “Nakba Besar” terhadap warga Palestina di Tepi Barat baru-baru ini. Jika benar terjadi, maka skala penyerangan Israel terhadap Palestina akan memasuki babak baru: kolonialisme.

Wianggoro Angga
Wianggoro Angga
Alumni santri Pesantren Persis 1 Bandung. Lulusan Tafsir Hadits Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini, berprofesi sebagai guru Pendidikan Agama Islam dan pengajar Al-Quran di salah satu SMA Swasta di Bandung.
Facebook Comment
- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.