OUR NETWORK
Jumat, Januari 21, 2022

Gangguan Mental Karena Kurang Iman?

Maria Margaretha
Mahasiswa Psikologi, Universitas Soegijapranata, Semarang mariamargaretha666@gmail.com

Bukan lagi hal tabu, kesehatan mental sangat penting untuk kita perhatikan di masa sekarang terutama pada masa pandemi ini. Tak jarang, kini banyak orang, terutama kaum muda yang sudah mau memeriksakan kesehatan mental nya ke psikolog atau ke psikiater. Kesehatan mental itu penting karena hal tersebut juga berkaitan dengan fisik kita. Kesehatan mental yang baik, akan menghasilkan kesehatan fisik yang baik pula serta dapat meningkatkan produktivitas kita.

Namun, masih banyak juga stigma-stigma negatif tentang kesehatan mental salah satunya ialah bahwa, “orang yang memiliki gangguan mental seperti depresi adalah orang yang kurang iman.” Hal tersebut salah besar, pada umumnya orang yang berpikir seperti itu ialah seorang yang belum pernah mengalami depresi atau seseorang yang fanatik akan suatu agama serta memiliki pemikiran yang kurang terbuka.

“Religiusitas memang betul mempengaruhi perasaan nyaman, perasaan tenang tapi penyebabnya bukan hanya itu tapi, ada tekanan-tekanan tertentu di mana tekanannya itu lebih berat dibandingkan kapasitas kita untuk menghadapi tekanan itu. Sehingga akhirnya muncul tekanan, depresi dan lainnya. Jadi itu yang masih banyak dan sering muncul di masyarakat,” kata Rena dalam ” Halo Talks: Pendekatan Kesehatan Holistik untuk Indonesia Sehat”, Rabu 13 November 2020.

Apa sih sebenarnya penyebab gangguan mental?

Gangguan mental atau gangguan jiwa adalah penyakit yang mempengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku penderitanya. Nah, ada 3 faktor penyebab gangguan mental, yaitu:

  • Faktor biologis antara lain adalah keturunan/genetik, masa dalam kandungan, proses persalinan, nutrisi, riwayat trauma kepala dan adanya gangguan anatomi dan fisiologi saraf.

Contoh: seorang anak dengan ibu pengidap skizofrenia memiliki kemungkinan bahwa ia akan cenderung memiliki penyakit jiwa yang sama seperti ibunya.

  • Faktor psikologis yang berperan terhadap timbulnya gangguan jiwa antara lain adalah interaksi dengan orang lain, intelegensia, konsep diri, keterampilan, kreativitas, dan tingkat perkembangan emosional.

Contoh: Seseorang yang memiliki konsep diri yang buruk, seperti menganggap dirinya tidak berharga, akan cenderung mengalami depresi dan kecemasan berlebihan

  • Faktor sosial yang berpengaruh yaitu stabilitas keluarga, pola asuh orang tua, adat dan budaya, agama, tingkat ekonomi, nilai dan kepercayaan tertentu.

Contoh: pola asuh orang tua terhadap anak yang buruk seperti sering memukul atau membentak anaknya, akan berdampak buruk pada psikologis anak tersebut. Pada saat bertambah besar, anak cenderung akan lebih rentan mengalami gangguan psikologis seperti, kecemasan, depresi, dan buruknya pengontrolan emosi dalam dirinya sendiri.

Hubungan agama dan kesehatan mental

Orang yang kurang iman belum tentu memiliki gangguan mental, begitu juga sebaliknya. Tidak ada hubungan gangguan mental dengan agama. Namun, terdapat hubungan antara agama dan kesehatan mental. Banyak bukti yang menyatakan bahwa keyakinan seseorang dapat menjadi pegangan dan membantu orang tersebut optimis dalam menjalani hidupnya, serta membantu untuk mengatasi berbagai macam depresi.

Ada banyak peran agama untuk kesehatan mental, diantaranya yaitu:

  • Agama dapat menjadi pegangan kita untuk hidup lebih optimis dan membuat kita memiliki pengharapan dan tujuan dalam hidup
  •  Dalam ajaran agama manapun, pasti terdapat sebuah ajaran hidup di baliknya. Di mana kita harus yakin akan Tuhan sebagai sang pencipta dunia ini dan menjalankan seluruh perintahnya untuk mendapatkan berkat dan karunia Tuhan dalam hidup kita. Dalam berbagai agama juga mengajarkan tentang pentingnya arti hidup yang telah Tuhan berikan kepada kita. Kita juga dibimbing dalam mengatasi pertanyaan-pertanyaan serta permasalahan dalam hidup kita. Hal-hal semacam inilah yang membuat kita yakin akan tujuan hidup kita dan mendorong kita untuk selalu lebih optimis lagi dalam menjalani hidup.
  • Agama membimbing kita untuk menjauhi hal-hal negatif/ hal yang memicu masalah
  • Hampir semua agama di muka bumi ini, menganjurkan kita untuk menghindari berbagai hal negatif yang dimana menjadi sumber stress dan juga penyakit, seperti dilarang untuk mabuk, berzinah, mencuri, dll. Dalam kitab, ajaran, serta ritual yang dimiliki setiap keyakinan dapat digunakan sebagai panduan untuk menghindari hal-hal buruk tersebut. Dalam meminimalisir masalah hidup, kita dapat hidup dengan tenang dan bahagia.
  • Agama dapat menimbulkan efek tenang sekaligus memberikan tempat berbagi kepada kita
  •      Banyak orang berkumpul karena percaya pada ajaran suatu keyakinan tertentu. Hal ini dapat menciptakan rasa kebersamaan dengan cara saling mendukung. Mengetahui bahwa kita tidak sendiri dan ada orang lain di sekitar kita, akan membuat diri kita merasa tenang dan perlahan juga dapat mengobati depresi dalam diri kita. Selain itu, dengan kita mengikuti serangkaian kegiatan keagamaan seperti ritual, berdoa, bermeditasi dan bentuk lain dari relaksasi tubuh, dapat membuat kita jauh lebih tenang dan mengurangi efek stress pada fisik.

Penelitian yang dilakukan oleh psikolog di health and Safety Laboratory di Stockport menemukan bahwa orang yang religius lebih sehat dan jarang izin sakit dari pekerjaan. Selain itu, mereka juga tak mudah cemas dan mengalami stress. Semakin religius seseorang, maka semakin kecil juga kemungkinan dia mengalami depresi, kecemasan, dan kelelahan. Peneliti percaya bahwa rasa keagamaan menawarkan ketenangan pada orang-orang yang religius dari masalah yang mereka hadapi di dunia.

Menurut saya sendiri, peran agama memang penting dalam mengurangi stress dan meningkatkan kesehatan mental kita. Namun, tidak dibenarkan juga bahwa orang yang memiliki gangguan kejiwaan baik ringan maupun yang berat ialah seseorang yang kurang iman. Pola pikir seperti itu harus segera kita betulkan.

Karena, Jika penyakit jiwa tidak segera ditangani oleh tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater, hal itu akan berdampak buruk baik pada kesehatan fisik kita maupun pada sisi psikologis kita. Bahkan di masa sekarang, masih banyak kasus bunuh diri dikarenakan faktor depresi atau gangguan psikologis lainnya yang tidak ditangani dengan baik.

Karena itu, kita harus mengubah pola pikir masyarakat dan melawan stigma-stigma negatif tentang kesehatan mental. Untuk mengurangi dan menghilangkan stigma masyarakat terhadap masalah kesehatan mental diperlukan adanya keseimbangan antara edukasi, sosialisasi, dan peningkatan fasilitas kesehatan jiwa.

Pemerintah dan Masyarakat harus bekerja sama dalam menyebarluaskan edukasi dan melakukan sosialisasi tentang kesehatan mental. Tak hanya itu, peningkatan fasilitas kesehatan jiwa, seperti kelengkapan alat dan obat, bertambahnya tenaga profesional seperti psikiater dan psikolog, serta aksesibilitas untuk mencapai sarana pelayanan kesehatan primer seperti rumah sakit, Puskesmas dari pemukiman juga harus diperbaiki, agar penderita gangguan kesehatan jiwa dapat ditangani dengan baik serta sesuai, dan tidak dibiarkan di tempat tinggalnya.

Maria Margaretha
Mahasiswa Psikologi, Universitas Soegijapranata, Semarang mariamargaretha666@gmail.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.