Sabtu, Juli 20, 2024

Filsafat Masa Kini Dikonversi

Herlina Pertiwi
Herlina Pertiwi
Saya ada seorang mahasiswa di fakultas Pendidikan Agama Islam IAIDU Asahan

Filsafat abad XX. Aliran filsafat yang berkembang adalah lanjutan dari abad modern, seperti neo-kantianisme, neo-hegelianisme, neo-marxisme, neo-positivisme, dan lain sebagainya.

Ada juga aliran filsafat yang baru dengan ciri dan corak yang lain sama sekali yaitu pertama aliran fenomenologi (Edmund Husserl Tahun 1859-1938, Martin Heidegger 1889-1976) dan levinans. Filsafat ini berkembang di subur di Eropa kontinental, terutama di Jerman dan Prancis dan aliran eksistensialisme (Jean Paul Sartre Tahun 1905-1980), aliran kedua filsafat analitis dan filsafat bahasa tokohnya Ludwig Josef Johan Wittgenstein (1889-1951).

Mazhab positif logis yang paling terkenal. Aliran ke tiga filsafat kritis yang memahami pikiran filosof sebagai praktis pembebasan. Teori kritis Horkheimer dan Adorno, Habermas dan semua filsafat yang mengikuti aliran Karl Marx dan teori keadilan John Rawls. Aliran ke empat pemikiran post modernistik yang berkembang di Prancis dengan tokoh Derrida dan Lyotard dan di Amerika Serikat dengan komunitarisme (yang menolak di masukan aliran postmodernisme).

Seperti sudah dijelaskan, filsafat abad ke-20 diwarnai dengan proses radikalisasi kritikra sionalitas pada segala bidang. Radikalisasi kritik akal budi bergerak dari persoalan ketaksadaran menuju eksistensi manusia dan bahasa hingga masyarakat dan ilmu pengetahuan.

Proses radikalisasi didorong oleh sejumlah bencana kemanusiaan yang menimpa manusia awal abad kedua puluh: dua perang dunia, holocaust, Hirosima. Dalam konteks ini modernitas tidakhanya dibangun di atas singgasana prestasi inovatif teknologi, sosial dan ilmu pengetahuan, melainkan juga ditandai pelbagai fenomen destruktif.

Pragmatisme dalam Filsafat Barat Masa Kini

Istilah Pragmatisme berasal dari kata Yunani Pragma yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Isme disini yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. Dengan demikian pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Yaitu aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis.

Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu (SJ,1978). Pragmatisme tidak mempersoalkan apa hakikat pengetahuan, tetapi menanyakan apa guna pengetahuan. Daya pengetahuan hendaklah dipandang sebagai sarana bagi perbuatan.

Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat, akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pada aliran filsafat ini menyatakan bahwa kebernaran bergantung terhadap berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia.

Oleh sebab itu, sifat kebenaran pada konsep ini dianggap relatif dan tidak mutlak. Bisa jadi disebabkan suatu otoritas, kebijakan di mana peraturan sama sekali tidak menawarkan manfaat bagi kalangan tertentu, tetapi dapat bermanfaat bagi masyarakat yang lain.

Artinya, pragmatisme tidak terlalu mempersoalkan mengenai hakikat pengetahuan, melainkan lebih fokus untuk mnengkaji kegunaan suatu pengetahuantersebut.Teori pragmatisme ini juga menganggap bahwa sebuah kenyataan atau dalil bisa dikatakan benar apabila mempunyai manfaat dan nilai guna bagi persoalan manusia dalam kehidupannya.

Tetapi, kebenaran itu tidak ada yang absolut atau mutlak. Semua kebenaran bersifat relatif sesuai dengan manfaat yang didapatkan oleh para pengikut pargmatis seperti:

  1. Keinginan dan tujuannya sama dan sesuai.
  2. Teruji dengan suatu ekperimen.
  3. Ikut mendorong dan membantu perjuangan untuk tetap eksis.

Di Amerika Serikat Pragmatisme mendapat tempatnya yang tersendiri di dalam pemikiran filsafat. William James (1842-1910) orang yang memperkenalkan gagasan-gagasan Pragmatisme kepada dunia.

Pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat yang praktis. Pengalaman pengalaman pribadi diterimanya, asal bermanfaat, bahkan kebenaran mistis dipandang sebagai berlaku juga, asal kebenaran mistis itu membawa akibat praktis yang bermanfaat (Hadiwijono, 1980:130).

Dekontruksionisme dalam Filsafat Masa Kini

Dalam dunia filsafat, begitu banyak filsuf yang saling mengkritik, satu dengan yang lainnya. Selain itu, filsafat juga memiliki peristiwa yang terbagi dari filsafat klasik Yunani Kuno (yang didominasi oleh rasionalisme), filsafat Abad Pertengahan (yang didominasi oleh dogmatisme), dan filsafat Abad Modern ( yang kembali didominasi oleh rasionalisme).

Saat zaman terus berkembang, terdapat periode yang dikenal sebagai filsafat masa kini, yang identik dengan masa posmodern. Dalam filsafat masa kini terdapat beberapa persoalan, di antaranya ialah anggapan bahwa filsafat telah berakhir serta rasionalitas dan epistemologi tidak diperlukan lagi. Hal inilah yang dikritik oleh Jacques Derrida di berbagai tulisannya mengenai anggapan tersebut.

Sebelum membahas mengapa Derrida mengkritik filsafat Barat, mari kita mengenal terlebih dahulu profil Derrida. Ia adalah seorang filsuf masa kini, Perancis yang terkenal dengan teori dekonstruksi dalam filsafat posmodern.

Pemikirannya lebih berfokus pada permainan serta filsafat bahasa. Karya-karya Derrida hampir semua merupakan kritik dari filsuf Plato sampai Descartes yang dianggapnya sangat logosentrisme.

Namun di samping itu, Derrida tidak menutup kemungkinan terpengaruh dari pemikiran filsuf lain. Pemikiran Derrida terhadap filsafatBarat menghasilkan sebuah teori baru yang disebut dekonstruksi dengan arti menunda atau sementara.

Dekonstruksi merupakan sebuah ide yang dicetuskan degan tujuan pembongkaran, namun yang dilakukan bukanlah pembongkaran dan penghancuran yang berakhir dengan kenihilan (Turiman, 2015: 311).

Penerapan dekonstruksi yang dilakukan Derridaya itu menitikberatkan pada hal-hal yang kecil. Hal ini sangat berbeda dengan strukturalisme dan filsafat Barat yang fokus pada pusat (logosentrisme).

Menurut Derrida, sesuatu teks selalu ada yang disembunyikan atau ditutup-tutupi (Ritzer, 2004: 205). Bahasa lisan di Barat diasumsikan sebagai wakil atau representasi dari diri-batin atau dapat dikatakan jiwanya makna.

Pemikiran yang menganggap bahwa makna-makna bisa hadirdalam interaksi manusia merupakan prinsip yang ada pada pusat (center) yang ditentang Derridaya. Oleh sebab itu tulisan merupakan satu bentuk komunikasi di mana makna-maknanya selalu ditunda. Makna yang hadir dalam tanda-tanda dan mitos-mitos dan struktur-struktur yang menghasilkan makna-makna justru selalu absen dari kinerja komunikasi (Chaffee, 2012: 208).

Dan dapat disimpulkan bahwa Filsafat merupakan mata kuliah yang memberikan dasar dan landasan berpikir logis, sistematis dan metodologis. Mata kuliah dasar untuk mengenal alur berpikir dalam kegiatan keilmuan yang dapat diaplikasikan dalam peningkatan penalaran, penerapan kegiatan penelitiandan penulisan ilmiah serta mendiagnosis masalah dan mencari alternatif permecahannya.

Herlina Pertiwi
Herlina Pertiwi
Saya ada seorang mahasiswa di fakultas Pendidikan Agama Islam IAIDU Asahan
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.