OUR NETWORK
Minggu, Februari 5, 2023

Fenomena Sandwich Generation di Kalangan Milenial

Winda R
Mahasiswa biasa yang banyak tanya.
From Korea With Love Concert

Sering kali kehidupan memberikan kita pengalaman yang tidak terduga. Realitas sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia saat ini, semakin mengungkapkan bahwa hidup memang tidak bisa di duga-duga!

Banyak sarjana yang hingga sekarang masih sulit mendapatkan pekerjaan. Kemiskinan merajalela, pengetahuan terkait sistem pengelolaan keuangan masih minim. Hal tersebut yang kemudian memunculkan istilah “sandwich generation”, bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Generasi yang lahir pada tahun 1981-1996 umumnya disebut sebagai “milenial”. Mereka memiliki rasa ingin tahu, kreatif, inovatif, dan fleksibel dalam menghadapi perubahan. Namun, pola pikir yang mendorong generasi milenial untuk menghabiskan uang dan haus akan experience seperti liburan, nongkrong, serta konsumtif terhadap barang bergerak layaknya mobil atau elektronik, sekses membuat terlena.

Mereka tidak menganggap penting investasi, tidak takut berutang untuk memenuhi kebutuhan tersier, dan minim pengetahuan terhadap pengelolaan keuangan. Akibatnya generasi milenial terjebak dengan istilah “sandwich generation”.

Istilah tersebut pertama kali dikenalkan oleh Dorothy Miller dan Elain Brody pada tahun 1981. Dalam jurnalnya “The Sandwich Generation: Adult Children Of The Aging (1981)”, Dorothy menuliskan generasi sandwich adalah generasi yang menanggung beban hidup orang tua dan anak-anak mereka sendiri.

Dengan kata lain, mereka diharuskan menghidupi 3 generasi sekaligus yaitu orang tua, diri mereka sendiri, dan anak-anaknya. Kondisi ini dianalogikan seperti sepotong daging yang terhimpit dua buah roti. Roti diibaratkan sebagai orang tua dan anak, sedangkan daging, mayonnaise, dan saus sebagai isi yang terhimpit oleh dua potong roti diibaratkan diri sendiri.

Realitanya, tidak sedikit masyarakat Indonesia yang sudah dewasa dan mampu bekerja namun masih mendapatkan  tuntutan untuk membiayai atau menghidupi orang tua dan adik, meskipun mereka sudah berkeluarga. Lalu, apakah sandwich generation telah menjadi sebuah budaya yang turun temurun?

Sering kita dengar pepatah “banyak anak banyak rezeki”. Apabila kalimat tersebut diimplementasikan dalam konsep generasi sandwich, menganggap anak sebagai sebuah investasi adalah hal yang tidak tepat. Karena, generasi sandwich yang terjadi saat ini dapat disebabkan oleh ketidakmampuan generasi sebelumnya (orang tua) dalam mengelola keuangan.

Dibutuhkan “mobilitas”, perpindahan dari sandwich generation menuju generasi milenial yang melek literasi keuangan, hingga akhirnya dapat merdeka secara finansial. Tidak bisa dipungkiri faktor pendidikan menjadi hal yang dapat mempengaruhi mobilitas tersebut.

Mengutip jurnal “Peran Pendidikan Global terhadap Mobilitas Masyarakat”, Malika mengatakan bahwa pendidikan mampu memperluas peluang masyarakat untuk memiliki kesempatan yang sama dalam hal mendapatkan pekerjaan, transmisi kebudayaan, peran sosial, dan menciptakan integrasi sosial.

Mendapatkan kesempatan dan peluang yang setara dapat membantu generasi milenial untuk mencapai tujuan dan goals dalam hidup, tanpa kelas sosial, perbedaan ras, keturunan, agama, atau kepercayaan.

Sementara itu, pendidikan saat ini dan dahulu tidak bisa disamaratakan, telah terjadi perubahan didalamnya. Pendidikan zaman dahulu memiliki keunggulan dalam melatih sikap tanggung jawab, sopan santun, dan kedisipinan. Namun, pada zaman dahulu siswa memiliki keterbatasan untuk mengakses pelajaran sekolah.

Jika dibandingkan dengan era sekarang, dimana tempat belajar ada dimana-mana, perpustakaan dan pusat pembelajaran terbuka dan untuk mengaksesnya bukanlah hal yang sulit. Dengan bebas kita bisa mencari sumber ilmu yang kita butuhkan.

Adanya keterbatasan dalam pendidikan zaman dahulu, bukan tidak mungkin telah menjadi faktor minimnya pengetahuan tentang pengelolaan keuangan bagi kalangan mereka. Kita tidak bisa menyalahkan keadaan, sebagai milenial sudah saatnya kita sadar akan pentingnya pengaturan keuangan.

Terjebak sebagai sandwich generation merupakan hal yang tidak bisa kita duga. Sebagai generasi milenial, tidak peduli pekerjaannya apa, lulusan sarjana atau bukan, pengetahuan dan kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan keuangan sangatlah penting. Supaya tidak ada lagi “beban baru” yang dipikul generasi selanjutnya.

Winda R
Mahasiswa biasa yang banyak tanya.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.