Fenomena Lagu MBG dan Politik Viral

Faisal Dudayef
Faisal Dudayef
Mahasiswa Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Jakarta | Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Bina Bangsa Serang-Banten
- Advertisement -

Fenomena lagu “MBG: Mas Bahlil Ganteng” memperlihatkan perubahan penting dalam komunikasi politik Indonesia. Politik hari ini tidak hanya bergerak melalui pidato resmi, baliho, konferensi pers, atau pernyataan partai. Politik juga hidup dalam bunyi, irama, meme, potongan video, humor, komentar warganet, dan algoritma media sosial.

Dalam ruang digital, sesuatu yang sederhana bisa menjadi besar ketika mudah diingat, mudah diulang, dan mudah dibagikan. Lagu “MBG” menjadi contoh bagaimana figur politik masuk ke percakapan publik bukan lewat narasi kebijakan yang panjang, tetapi melalui hiburan populer yang ringan dan viral.

Marshall McLuhan pernah menyebut bahwa medium adalah pesan. Artinya, media tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk cara publik memahami pesan itu. Dalam konteks “MBG”, media sosial bukan hanya saluran penyebaran lagu, melainkan ruang yang membentuk citra Bahlil Lahadalia sebagai figur politik yang cair, populer, dan mudah dibicarakan.

Bahlil sendiri bukan nama yang muncul tiba-tiba. Ia memiliki rekam jejak panjang: dari aktivisme mahasiswa, organisasi kepemudaan, dunia usaha, hingga menjadi Menteri Investasi/Kepala BKPM, Menteri ESDM, dan Ketua Umum Partai Golkar. Karena itu, ketika namanya masuk ke lagu viral, ia tidak hadir sebagai figur kosong, tetapi sebagai simbol elite politik yang sudah berada di pusat kekuasaan.

Di sinilah menariknya “MBG”. Lagu ini tidak sekadar membicarakan Bahlil sebagai pribadi, tetapi menunjukkan bagaimana elite politik dapat diproduksi ulang dalam logika budaya digital. Tokoh politik kini tidak hanya dikenali melalui jabatan, tetapi juga melalui cara publik menertawakan, mengulang, membagikan, dan menjadikannya bagian dari tren.

Lagu “MBG” memperlihatkan kuatnya budaya partisipatif di media sosial. Produksi citra politik tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh partai, konsultan politik, atau media arus utama. Warganet dapat mengambil komentar, mengubahnya menjadi lirik, mengolahnya menjadi lagu, lalu menyebarkannya sebagai hiburan.

Henry Jenkins menyebut fenomena ini sebagai participatory culture, yaitu ketika publik tidak hanya menjadi penerima pesan, tetapi juga ikut memproduksi makna. Dalam kasus “MBG”, publik ikut membentuk citra Bahlil melalui lagu, humor, dan konten digital.

Namun, makna lagu ini tidak tunggal. Ada yang membacanya sebagai hiburan, ada yang melihatnya sebagai kekaguman, ada juga yang menafsirkannya sebagai sindiran atau ironi politik. Begitu masuk ke ruang digital, pesan tidak lagi sepenuhnya bisa dikendalikan.

Fenomena ini juga dapat dibaca sebagai politainment, yaitu percampuran antara politik dan hiburan. Gianpietro Mazzoleni dan Winfried Schulz menjelaskan bahwa politik modern semakin menyesuaikan diri dengan logika media. Dulu logika itu banyak ditentukan oleh televisi dan surat kabar. Kini, logikanya bergeser ke platform digital yang menuntut pesan cepat, singkat, visual, emosional, dan menghibur.

Di satu sisi, politainment dapat mendekatkan elite dengan publik. Tokoh politik yang biasanya tampak formal dapat terlihat lebih cair dan manusiawi. Namun di sisi lain, politik yang terlalu larut dalam hiburan berisiko kehilangan substansi. Publik bisa lebih mudah mengingat lagu daripada kebijakan, lebih tertarik pada candaan daripada rekam jejak, dan lebih sibuk membicarakan citra daripada kapasitas kepemimpinan.

- Advertisement -

Di titik ini, “MBG” juga menunjukkan kuatnya personalisasi politik. Perhatian publik lebih tertuju pada figur daripada partai, ideologi, atau program. Padahal dalam demokrasi, tokoh politik tidak cukup hanya dikenal dan diingat. Ia harus dinilai dari kebijakan, integritas, keberpihakan, dan tanggung jawabnya kepada publik.

Viralitas “MBG” tidak dapat dilepaskan dari kerja algoritma media sosial. Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts mendorong konten yang pendek, musikal, emosional, mudah diulang, dan mudah diparodikan. Lagu pendek memiliki peluang besar menyebar karena bisa dipakai ulang oleh banyak pengguna.

Tarleton Gillespie menjelaskan bahwa algoritma bukan sekadar perangkat teknis, tetapi ikut menentukan informasi apa yang terlihat, tersebar, dan dianggap penting. Dalam kasus “MBG”, lagu ini viral bukan hanya karena lucu, tetapi juga karena cocok dengan logika platform: singkat, repetitif, musikal, dan mudah dijadikan konten turunan.

“MBG” juga dekat dengan meme politics, yaitu praktik politik yang hidup melalui humor, parodi, simbol, dan konten viral. Limor Shifman melihat meme sebagai bentuk komunikasi budaya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa nilai, kritik, dan identitas. Humor dapat membuat politik lebih mudah dibicarakan, tetapi juga dapat mengaburkan substansi.

Inilah paradoks politik digital. Media sosial membuka ruang partisipasi, tetapi tidak semua percakapan viral menghasilkan diskusi yang mendalam. Banyak percakapan berhenti pada komentar lucu, reaksi emosional, dan pengulangan tren. Karena itu, viralitas seharusnya menjadi pintu masuk menuju percakapan yang lebih bermutu, bukan sekadar keramaian sesaat.

Di balik daya tariknya, “MBG” menyimpan risiko spektakel. Politik yang terlalu larut dalam hiburan dapat berubah menjadi tontonan. Publik mungkin lebih mengingat lagu daripada gagasan, lebih tertarik pada sound viral daripada kebijakan, dan lebih sibuk membicarakan citra daripada akuntabilitas.

Guy Debord dalam The Society of the Spectacle mengingatkan bahwa masyarakat modern dapat terjebak dalam dominasi tontonan, ketika realitas lebih banyak dikonsumsi sebagai citra daripada substansi. Dalam politik digital, peringatan ini relevan. Seorang tokoh bisa tampak populer karena viral, tetapi popularitas belum tentu mencerminkan kualitas kepemimpinan.

Karena itu, “MBG” perlu dibaca secara kritis. Ia bukan sekadar lagu lucu tentang seorang tokoh politik. Ia adalah gejala komunikasi politik digital yang memperlihatkan pertemuan antara kekuasaan, citra, humor, teknologi, budaya populer, dan algoritma.

Antonio Gramsci melalui konsep hegemoni menjelaskan bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui paksaan, tetapi juga melalui budaya, bahasa, dan persetujuan publik. Dalam konteks “MBG”, budaya populer digital dapat menjadi ruang pembentukan kedekatan, kekaguman, bahkan kritik terhadap figur politik.

Pada akhirnya, “MBG” adalah tanda zaman. Politik hari ini bergerak dalam irama baru: cepat, ringan, musikal, emosional, dan viral. Namun, irama viral tidak boleh menggantikan akuntabilitas. Lagu dapat membuka pintu perhatian, tetapi kepercayaan publik tetap harus dibangun melalui kinerja, integritas, kebijakan, dan keberpihakan.

Demokrasi digital membutuhkan warga yang bisa tertawa, tetapi tetap berpikir kritis. Membutuhkan elite yang dekat dengan publik, tetapi tetap bertanggung jawab. Membutuhkan media yang mampu menangkap viralitas, tetapi juga mengurai substansi. Viralitas adalah kenyataan zaman, tetapi kualitas demokrasi tetap ditentukan oleh akal sehat, etika publik, dan akuntabilitas kekuasaan.

Faisal Dudayef
Faisal Dudayef
Mahasiswa Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Jakarta | Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Bina Bangsa Serang-Banten
Facebook Comment
- Advertisement -