Senin, April 15, 2024

Fenomena Halocline, Penyebab Munculnya Sungai Bawah Laut

Rima Sinta Anugerah Permata Sari
Rima Sinta Anugerah Permata Sari
Saya seorang mahasiswi Jurusan Program Studi Pendidikan Geografi di Universitas Lampung

Halocline dalam istilah Oceanografi berarti suatu lapisan di dalam laut di mana kadar garam (salinitas) berubah dengan cepat terhadap perubahan kedalaman laut. Perubahan kadar garam ini akan mempengaruhi densitas air sehingga lapisan ini kemudian berfungsi sebagai dinding pemisah antara air asin dan air tawar. Dengan begitu, fenomena Halocline merupakan suatu fenomena ketika kedua jenis air yang tidak dapat bercampur atau menyatu, bahkan garis batasnya saja tidak terlihat.

Fenomena alam aneh ini pernah terjadi di selat Selat Gibraltar yang telah mengundang keheranan sekaligus decak kagum warga dunia. Selat Gibraltar memisahkan benua Afrika dan Eropa, tepatnya antara negara Maroko dan Spanyol. Penjelasan secara fisika modern terkait fenomena ini baru ada di abad 20 M oleh ahli-ahli Oceanografi. Para ilmuwan menjelaskan, karena Selat Gibraltar merupakan pertemuan antara dua laut yang berbeda, yaitu laut Atlantik dan laut tengah, maka ada fenomena yang menarik yang terjadi di sana. Fenomena itulah yang disebut sebagai fenomena halocline.

Fenomena yang ditemukan di Selat Gibraltar yang menghubungkan Laut Mediterania dengan Samudera Atlantik. Air Mediterania yang memasuki Atlantik pada kedalaman 100 meter di atas permukaan laut tidak mengubah karakteristiknya. Hal ini disebabkan adanya perbedaan suhu, salinitas (kadar asin air laut), dan densitas (kepadatan air). Kepadatan air di Laut Mediterania lebih tinggi dari pada air laut di Atlantik.

Ketika air laut Mediterania mengalir ke Samudera Atlantik, keduanya tidak bercampur karena ada batas yang memisahkan kedua jenis air tersebut. Bahkan batas antara keduanya sangat jelas, perairan Laut Mediterania berwarna biru tua, sedangkan air di Samudra Atlantik berwarna biru terang.  Jadi, tingkat salinitas air laut sangat berpengaruh terhadap fenomena dua air laut yang tak menyatu ini.

Relevansi fenomena tidak menyatunya dua air laut dengan teori sains yaitu disebabkan adanya perbedaan suhu, kadar garam (salinitas), dan kerapatan air (densitas) yang menyebabkan perbedaan tegangan kedua permukaan aliran.

Tegangan permukaan terjadi karena adanya gaya tarik-menarik antara partikel atau molekul sejenis sebagai akibat peristiwa kelistrikan (listrik statik) sehingga seolah-olah terdapat selaput tipis yang memisahkan antara zat cair satu dengan yang lain, ditambah dengan hadirnya partikel-partikel ion positif dan negatif dalam cairan tersebut, akan memberikan pengaruh yang besar terhadap sifat terbentuknya lapis batas antara permukaan dua cairan. Selain itu perbedaan kadar garam menunjukkan perbedan kerapatan banyaknya ion-ion negatif dan positif yang dimiliki air laut.

Namun, belum lepas dari penemuan air laut yang tak bercampur. Fenomena lain yang lebih menakjubkan berhasil ditemukan. Dilansir dari laman geologinesia.com, fenomena sungai bawah laut ini pertama kali ditemukan oleh Yves Costeau, seorang ahli oceanografi asal Perancis di kawasan Cenote Angelita, Meksiko. Cenote merupakan lubang-lubang di perairan yang terbentuk secara alami karena runtuhnya batuan kapur yang mengekspos bagian bawah tanah. Curah hujan mengikis batuan kapur di gua-gua bawah tanah. Kemudian air hujan atau air bawah tanah mengisi bagian itu dan atap gua runtuh sehingga membentuk Cenote.

Secara umum, sungai merupakan aliran air yang berada di permukaan bumi, aliran sungai biasanya mengalir dari daerah dataran tinggi menuju ke daerah dataran rendah atau mengalir dari hulu menuju hilir. Namun, tak menutup kemungkinan adanya sungai dibawah permukaan bumi. Hingga saat ini, terkhusus di Indonesia kerap kali menggunakan sungai untuk aktivitas sehari-hari, mulai dari mencuci, mandi dan sebagai irigasi bagi lahan pertanian.

Ilustrasi Sungai Bawah Laut
http://wondermondo.com

Sungai bawah laut yang ditemukan oleh Yves Costeau di beri nama “Cenote Angelita”. Cenote Angelita terletak di tengah hutan tropis sekitar 17 kilometer dari kota Tulum dan berjarak 12 Km dari laut Karibia. Lubang permukaan (mulut) terbentuk akibat runtuhnya atap goa yang berdiameter sekitar 30 meter. Kedalaman maksimumnya mencapai 60 meter.

Pada kedalaman 30 meter jarak pandang tertahan oleh adanya lapisan keruh berwarna kecoklatan dengan ketebalan sekitar 1 meter. Dari foto-foto yang beredar terlihat banyak daun-daun dan pepohonan yang jumlahnya cukup banyak. Namun itu bukan menjadi bukti adanya pohon yang hidup di sana. Kondisi tersebut terjadi karena letak Cenote Angelita berada di daerah hutan yang disekitarnya terdapat banyak pepohonan. Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa batang pohon dan daun-daun yang ada di bawah laut berasal dari hutan tersebut. Lagipula sangat sulit untuk pohon besar hidup di kedalaman laut.

Terdapat pendapat mengenai sungai di dasar laut terjadi karena fenomena bernama Halocline ini. Keadaan ini disebabkan area vertikal yang letaknya berada di bawah laut. Pada area tersebut kandungan kadar garam berubah dengan cepat seiring perubahan kedalamannya. Jika diperhatikan, pada sungai bawah laut terdapat sebuah dinding pemisah antara air asin dan air tawar. Hal itu disebabkan oleh perubahan kadar garam yang berpengaruh terhadap kepadatan air. Sehingga ketika air asin dan air tawar bertemu, akan muncul semacam pembatas diantara keduanya. Itulah yang terjadi di selat Gibraltar dan di sungai bawah laut Cenote Angelita.

Melihat foto yang beredar tentang sungai bawah laut Cenote Angelita ternyata memang sangat indah, namun keindahan itu bukan berarti bisa dikunjungi oleh semua orang. Karena letak dan pengetahuan mengenai sungai bawah laut masih minim serta lokasinya yang terletak dibawah permukaan laut. Dengan begitu, sungai yang berada bawah laut bukanlah tempat yang aman bagi manusia. Umumnya letak sungai ini berada dikedalaman 60 meter dibawah laut.

Sehingga cukup membahayakan bagi manusia karena tekanan airnya yang cukup besar. Selain itu, letaknya yang jauh dari permukaan laut membuat kondisi lingkungannya sangat gelap. Ini akan sangat berbahaya, terdapat risiko para penyelam tidak bisa kembali ke daratan karena tersesat. Di dalamnya juga terdapat kandungan gas hidrogen sulfina yang tinggi dan berbahaya.

Rima Sinta Anugerah Permata Sari
Rima Sinta Anugerah Permata Sari
Saya seorang mahasiswi Jurusan Program Studi Pendidikan Geografi di Universitas Lampung
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.