Fenomena FOMO di Kalangan Remaja: Takut Tertinggal di Era Digital

Ahmad Zamzami
Ahmad Zamzami
saya seorang mahasiswa UIN Siber Syekh Nur Jati Cirebon
- Advertisement -

Di era digital saat ini, kehidupan remaja sudah sangat dekat dengan media sosial. Hampir setiap hari, mereka melihat berbagai aktivitas orang lain melalui layar ponsel. Mulai dari gaya hidup, pencapaian, hingga momen kebahagiaan yang dibagikan secara terbuka. Dari situ muncul sebuah fenomena yang dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out). Fenomena ini semakin sering terjadi dan perlahan memberi pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan remaja.

FOMO membuat seseorang merasa harus selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Ketika melihat sesuatu yang dianggap menarik, muncul dorongan untuk ikut, meskipun sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Rasa takut dianggap tertinggal membuat remaja tanpa sadar sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Jika hal ini terus terjadi, lama-kelamaan bisa menjadi kebiasaan yang sulit dihindari.

Salah satu penyebab utama munculnya FOMO tentu saja media sosial. Di sana, kehidupan sering terlihat sempurna. Banyak orang hanya menampilkan sisi terbaik dari hidup mereka, seperti liburan, pencapaian, atau hal-hal yang menyenangkan. Remaja yang melihat hal tersebut sering kali lupa bahwa apa yang ditampilkan belum tentu sepenuhnya sesuai dengan kenyataan. Akibatnya, muncul perasaan bahwa hidup orang lain terlihat lebih baik.

Di sisi lain, masa remaja memang merupakan fase pencarian jati diri. Pada tahap ini, seseorang biasanya lebih peka terhadap penilaian orang lain. Ketika melihat orang lain tampak lebih sukses atau lebih bahagia, rasa tidak percaya diri bisa muncul. Dalam kondisi seperti ini, FOMO sering menjadi semacam “jalan pintas” untuk merasa setara, yaitu dengan mengikuti tren atau gaya hidup yang sedang populer.

Fenomena ini juga memengaruhi cara remaja memandang kesuksesan. Tidak sedikit yang mulai mengukur keberhasilan dari apa yang terlihat di media sosial, seperti jumlah pengikut atau banyaknya “like”. Padahal, hal-hal tersebut tidak selalu mencerminkan kualitas diri seseorang. Akibatnya, remaja bisa merasa tertinggal, padahal sebenarnya mereka sedang berada dalam proses yang baik. Jika dibiarkan, cara pandang seperti ini bisa mengalihkan fokus dari hal-hal yang lebih penting, seperti belajar dan pengembangan diri.

Dampak dari FOMO tidak bisa dianggap sepele. Salah satu yang paling terasa adalah munculnya tekanan dalam diri. Remaja merasa harus selalu aktif, selalu mengikuti tren, dan tidak boleh ketinggalan. Kondisi ini bisa membuat mereka lelah secara mental karena terus berusaha memenuhi standar yang sebenarnya tidak realistis.

Selain itu, FOMO juga memengaruhi cara mengambil keputusan. Banyak remaja melakukan sesuatu bukan karena kebutuhan pribadi, tetapi karena ingin mengikuti apa yang sedang ramai. Misalnya, membeli barang yang tidak terlalu diperlukan atau ikut kegiatan tertentu hanya agar terlihat sama dengan orang lain. Jika terus terjadi, hal ini bisa membentuk pola hidup yang kurang sehat.

Dari sisi emosional, dampaknya juga cukup terasa. Terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain bisa membuat seseorang merasa tidak cukup baik. Perasaan ini kadang muncul pelan-pelan, tetapi bisa bertahan lama jika tidak disadari. Remaja menjadi lebih mudah cemas, gelisah, dan kurang percaya diri. Mereka merasa selalu tertinggal, padahal setiap orang punya waktu dan prosesnya masing-masing.

Dalam hubungan sosial, FOMO juga membawa perubahan. Banyak remaja lebih fokus pada bagaimana mereka terlihat di media sosial dibandingkan dengan hubungan nyata. Momen yang seharusnya dinikmati justru lebih sering didokumentasikan. Akibatnya, hubungan yang terjalin bisa terasa kurang dekat dan tidak terlalu mendalam.

Jika dipikirkan lebih jauh, FOMO sebenarnya berkaitan dengan rasa kurang puas terhadap diri sendiri. Ketika seseorang belum bisa menerima dirinya, ia akan lebih mudah terpengaruh oleh kehidupan orang lain. Media sosial hanya memperkuat perasaan tersebut. Jadi, masalahnya bukan hanya dari luar, tetapi juga dari dalam diri.

- Advertisement -

Untuk mengatasi hal ini, langkah awal yang penting adalah belajar mengenal dan menerima diri sendiri. Remaja perlu memahami bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda. Apa yang terlihat di media sosial tidak bisa dijadikan ukuran utama kebahagiaan atau kesuksesan. Dengan pemahaman ini, tekanan yang dirasakan bisa berkurang.

Selain itu, penggunaan media sosial juga perlu dikontrol. Tidak semua hal harus diikuti. Mengurangi waktu bermain media sosial atau memilih konten yang lebih positif bisa membantu mengurangi rasa FOMO. Cara sederhana ini bisa memberikan dampak yang cukup besar jika dilakukan secara konsisten.

Peran keluarga juga tidak kalah penting. Orang tua bisa menjadi tempat yang nyaman untuk berbagi dan berdiskusi. Ketika remaja merasa didengar, mereka tidak akan terlalu bergantung pada pengakuan dari luar. Lingkungan yang positif juga dapat membantu mereka berkembang dengan lebih sehat.

Pada akhirnya, FOMO adalah salah satu dampak dari perkembangan zaman yang tidak bisa dihindari. Namun, bukan berarti harus dibiarkan begitu saja. Dengan kesadaran dan pengendalian diri, remaja tetap bisa mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan arah.

Hidup tidak harus selalu sama dengan orang lain. Setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Yang terpenting bukan seberapa terlihat hebat di media sosial, tetapi bagaimana seseorang bisa merasa cukup, nyaman, dan berkembang sesuai dengan dirinya sendiri.

Ahmad Zamzami
Ahmad Zamzami
saya seorang mahasiswa UIN Siber Syekh Nur Jati Cirebon
Facebook Comment
- Advertisement -