OUR NETWORK
Kamis, Agustus 18, 2022

Fenomena Citayam Fashion Week

Avatar
Mohammad Abidin
GURU MAN 2 LAMONGAN

Citayam Fashion Week begitu fenomenal menjadi fenomena baru perilaku remaja sekarang. Bermula di kawasan Citayam Sudirman Jakarta para  remaja berkumpul pamer fashion dengan gaya casual, trendy dan menarik. Fashion week semakin boming ketika pejabat dan artis papan atas tertarik datang meramaikan dan ikut aksi lenggak-lenggok di catwalk jalanan. Tak ayal seketika menghangat di sosial media. Menjadi perhatian publik dan memancing reaksi pro dan kontra.

Ada yang mencacat mengganggu kenyamanan pengguna jalan membuat jalur transportasi demikian macet tapi banyak juga yang mendukung sebagai bentuk apresiasi positif para remaja dalam mengasah kreatifitas bidang fashion.

Fenomena ini diperkirakan tidak hanya menjadi trending perilaku remaja di perkotaan besar saja tapi berpotensi dilakukan oleh remaja di daerah. Termasuk merambah ke sekolah dan madrasah.

Dugaan meluber ke madrasah adalah wajar mengingat madrasah menjadi tempat komunitas anak usia remaja berkumpul. Secara psikologi mereka  rentan terhadap pengaruh lingkungan. Mereka sudah masuk dalam kehidupan yang menggelobal. Melalui media tidak ada fenomena baru yang lepas dari pengamatan mereka. Termasuk fenomena Citayam Fashion Week.

Peserta didik memang tidak seketika mempraktekkan fashion week ala Citayam waktu proses pembelajaran berlangsung tapi bukan berarti semangat mereka mengaktualisasi kemampuan bidang fashion sebagaimana remaja Citayam lakukan menjadi mati. Tetap terpendam dalam kesadaran mengintip kesempatan untuk keluar dan mengekspresikan.

Dalam teori perubahan budaya yang paling sulit berubah adalah sistem kepercayaan sementara yang paling rentan berubah adalah teknologi material. Fashion week ala Citayam kiranya masuk dalam pemahaman teknologi material bidang busana. Ada semangat meniru, ada semangat menduplikasi atas nama kreatifitas busana.

Dengan tertib pakaian yang sudah ditentukan memang membatasi peserta didik tidak bebas berbusana lagi ala Citayam tapi siapa yang menduga ketika jam istirahat berlangsung  dengan seragam itu mereka beraksi lenggak-lenggok di catwalk jalanan menuju kantin madrasah dan memancing perhatian temannya untuk mensupport dan memberi apresiasi.

Sukses dicoba untuk satu dua peserta didik memancing lainnya untuk melakukan hal yang sama. Karena aksi lenggak-lenggok hanya butuh keberanian mental dan sedikit kelincahan. Tidak berbayar alias gratis bahkan sedikit menunjukkan eksistensi diri berbakat dalam dunia modeling.

Jika benar fenomena itu mewujud di madrasah maka penanganan yang dilakukan harus tepat sasaran.

Madrasah adalah tempat mendidik dan mengarahkan serta pengembangan minat bakat dan kemampuan. Tidak menekan, melarang dan mengekang tumbuh suburnya potensi baik terkait bakat dan kemampuan yang dimiliki setiap peserta didik.

Aksi lenggak-lenggok di catwalk jalanan buah dari ekspresi kreatif yang tidak dimiliki oleh semua peserta didik. Berani beraksi menandakan dirinya punya potensi untuk dikembangkan lebih lanjut dalam ketrampilan tata busana dan memperagakannya. Aksi catwalk jalanan suatu saat akan berubah menjadi aksi catwalk di pentas resmi dalam kompetisi yang bergengsi mendulang prestasi ketika mendapat sentuhan pembinaan program yang memberdayakan. Semacam pengembangan ketrampilan tata busana yang memiliki ekuivalensi dengan fenomena Citayam.

Mitigasi potensi dari bakat terpendam dalam diri peserta didik kadang dapat ditengarai dari perilaku mereka yang terlihat beda dari perilaku pada umumnya. Ada yang menonjol, ada kejutan menarik perhatian yang dipertontonkan ke publik secara alamiah. Tanpa perintah tanpa rekayasa. Perilaku itu demikian mengalir muncul sebagai ekspresi diri yang bebas dan lugas. Dan fenomena Citayam berpotensi dijadikan inspirasi dan motivasi dengan melakukan imitasi.

Aksi lenggak-lenggok di catwalk jalanan jangan cepat dicurigai sebagai porno aksi. Karena keduanya tidak mirip dan tidak sama.  Lenggak-lenggok di catwalk jalanan mengutamakan modis, casual dan trendy. Melatih ketrampilan aksi dan keseimbangan emosi tanpa basa basi. Sementara porno aksi lebih mengumbar aurat diri memancing syahwat orang lain.

Demikianlah pendidikan sepatutnya diarahkan dengan selalu memberi harapan tidak mematikan. Memberi inspirasi tidak  selalu mencurigai. Menuntun potensi berkembang ideal menuju prestasi dengan program pembinaan yang mengarahkan dan memberdayakan.

Avatar
Mohammad Abidin
GURU MAN 2 LAMONGAN
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.