OUR NETWORK
Rabu, Desember 8, 2021

Euro 2020: Mereka yang Melawan Batasan Pandemi

Audi Ahmad
Sarjana Psikologi Unair Dapat dihubungi lewat akun instagram: audiahmad_

Euro 2020 telah usai digelar selama kurang lebih empat pekan. Italia menjadi juara setelah memenangi seluruh pertandingan sejak fase grup hingga babak final. It’s coming home Rome. Juara yang diraih Italia tidak hanya bermakna bahwa skuad asuhan Roberto Mancini telah melakukan perjuangan selama luar biasa untuk bangkit dari keterpurukan usai hasil buruk di Piala Dunia 2018, tetapi juga dapat dilihat sebagai simbol bahwa penduduk Italia telah bangkit melawan pandemi yang menghantam Italia.

Kini, penduduk Italia tidak perlu lagi menggunakan masker ketika pergi karena angka kasus telah berbanding terbalik dengan angka vaksinasi yang semakin tinggi. Semangat di dalam lapangan dapat menjalar ke luar lapangan, sepak bola dapat memicu gairah yang sempat lesu usai pandemi meluluhlantahkan Italia.

Sebelum final, sepak bola juga menjadi simbol harapan bagi masyarakat Inggris untuk bangkit dari keterpurukan karena pandemi. Performa dari Hary Kane, dkk seolah dapat meyakinkan publik Inggris bahwa sepak bola akan kembali pulang ke rumah. Menjelang dan selama berlangsung Euro 2020, pemerintah Inggris pun membuka berbagai larangan dan pembatasan selama pandemi.

Angka kasus Inggris memang tidak sedikit, tetapi Inggris telah mampu mengendalikan kematian akibat Covid-19. Sepak bola membuat publik Inggris melepaskan beban akibat pandemi dan meraih kebahagiaan dengan berani berangan-angan setinggi mungkin dan menikmati suasana Euro 2020 dengan berkumpul di pub atau stadion.

Euro 2020 merupakan gelaran Euro yang melibatkan banyak negara sebagai tuan rumah. Dengan kata lain, banyak perjalanan atau mobilitas antarwilayah yang akan meningkat. Hal ini tentu menjadi masalah ketika banyak negara melakukan pembatasan perjalanan karena pandemi Covid-19.

Namun, negara-negara yang menjadi tuan rumah dan para suporter enggan menyerah dengan pandemi. Negara-negara tuan rumah menyiapkan sarana dan prasarana agar pandemi dapat terkendali. Selain itu, para suporter rela divaksinasi dan dicolok hidungnya untuk melakukan tes PCR sebagai syarat menonton langsung dari stadion. Sepak bola menjadi simbol harapan untuk nasib baik setelah pandemi berlangsung.

Salah satu hal yang menarik dari Euro 2020 adalah keputusan Hungaria yang membuka kapasitas Stadion Puskas Arena secara penuh. 100% bangku dapat ditempati oleh suporter, baik suporter timnas Hungaria maupun suporter dari negara lain. Keputusan untuk membuka 100% kapasitas stadion tentu bukan semata-mata karena gengsi dan angan-angan. Keputusan ini diambil karena hampir separuh penduduk Hungaria telah menerima vaksinasi. Hungaria berhasil mengendalikan pandemi dengan baik. Hal ini tidak terlepas dari Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban, seorang penggila sepak bola. Orban menggalakkan vaksinasi agar penduduk dapat menonton di stadion yang berkapasitas penuh.

Hungaria dapat menjadi contoh negara yang sukses dalam melawan pandemi. Angka vaksinasi tinggi, angka kasus dan angka kematian rendah. Angka vaksinasi yang tinggi merupakan sesuatu yang unik bagi negara sayap kanan seperti Hungaria. Pendukung ideologi sayap kanan cenderung memiliki sikap anti-vaksinasi (Baumgaertner dkk., 2018; Kempthorne & Terrizzi, 2021). Namun, semangat dan euforia dalam menyambut Euro 2020 mengalahkan sikap anti-vaksinasi. Pemerintah dan warga Hungaria sepakat untuk rela divaksinasi agar dapat menonton timnas Hungaria di stadion Puskas Arena. Tentu butuh penelusuran lebih lanjut mengenai motif olahraga dalam perubahan sikap terhadap vaksinasi. Namun, Hungaria dapat menjadi contoh bahwa olahraga, yaitu sepak bola dapat menjadi panglima dalam melawan pandemi Covid-19.

Semangat, euforia, gairah, dan harapan bahwa pandemi akan segera usai telah diperlihatkan selama Euro 2020 berlangsung. Sepak bola dapat menjadi hiburan bagi masyarakat yang telah jenuh dengan keadaan yang tidak menyenangkan selama pandemi berlangsung. Sepak bola menjadi simbol kebangkitan sebuah negara setelah melakukan perlawanan menghadapi pandemi. Stadion kembali penuh, suporter bergemuruh, dan kesedihan menjadi luruh.

Sepak bola menjadi alasan suatu negara untuk lebih berani melawan pandemi, bukan sebaliknya bahwa pandemi menjadi halangan dalam menyelenggarakan kegiatan sepak bola. Apakah olahraga atau sepak bola dapat menjadi panglima perlawanan Covid-19 di negara lain? Misalnya Indonesia yang memiliki semangat sepak bola yang tinggi dan juga akan menggelar PON Papua serta Piala Dunia U-20? Jawaban yang paling mungkin adalah semoga saja.

Audi Ahmad
Sarjana Psikologi Unair Dapat dihubungi lewat akun instagram: audiahmad_
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.