Senin, Februari 16, 2026

Epstein Files dan Wajah Telanjang Kekuasaan Global

Agil Maulana Firmansyah
Agil Maulana Firmansyah
Alumni Fisip Universitas Wiraraja
- Advertisement -

Rilis dokumen yang dikenal publik sebagai Epstein Files bukan sekadar lanjutan dari skandal kriminal seorang individu. Ia adalah peristiwa politik global—sebuah momen ketika arsip, catatan, dan jejak administratif membuka lapisan paling jujur dari relasi antara kekuasaan, uang, dan kekebalan hukum. Dunia tidak sekadar dikejutkan oleh nama-nama yang muncul, melainkan oleh satu kesadaran yang lebih mengganggu: bahwa kejahatan bisa tumbuh subur di jantung sistem yang mengklaim diri paling beradab.

Jeffrey Epstein telah lama diposisikan sebagai simbol kejahatan seksual terorganisir. Namun, Epstein Files menggeser fokus dari “si pelaku” menuju “ekosistem” yang memungkinkan kejahatan itu berlangsung begitu lama. Dokumen-dokumen tersebut—terlepas dari perdebatan tentang konteks dan validitas masing-masing berkas—menunjukkan satu pola berulang: kedekatan antara elite politik, ekonomi, dan jaringan sosial yang tertutup rapat dari pengawasan publik.

Di sinilah persoalan utamanya. Skandal Epstein bukan sekadar soal moral individu, tetapi tentang struktur kekuasaan global yang memungkinkan impunitas. Dunia modern sering membanggakan supremasi hukum, transparansi, dan akuntabilitas. Namun ketika kasus ini mencuat, yang tampak justru paradoks: hukum bekerja cepat dan tegas pada mereka yang tak memiliki kuasa, tetapi melambat—atau bahkan lumpuh—saat berhadapan dengan elite.

Epstein Files memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak selalu beroperasi secara vulgar. Ia bekerja dalam bentuk relasi, undangan eksklusif, penerbangan privat, yayasan filantropi, dan jaringan sosial kelas atas. Inilah wajah kekuasaan global yang jarang dibicarakan secara terbuka: bukan dominasi dengan senjata, melainkan dengan akses. Akses pada ruang tertutup, pada aparat hukum, pada narasi publik.

Reaksi dunia terhadap rilis dokumen ini juga patut dicermati. Alih-alih mendorong pembongkaran sistemik, diskursus publik justru cepat terpolarisasi. Sebagian larut dalam teori konspirasi, sebagian lain sibuk membela atau menyangkal keterlibatan tokoh tertentu. Akibatnya, isu yang lebih mendasar—yakni kegagalan sistem global dalam melindungi korban dan menindak kejahatan elite—tenggelam dalam hiruk-pikuk sensasi.

Di titik ini, Epstein Files seharusnya dibaca sebagai kritik keras terhadap demokrasi prosedural. Demokrasi modern kerap direduksi menjadi pemilu, statistik partisipasi, dan retorika kebebasan. Namun kasus Epstein menunjukkan bahwa demokrasi tanpa kontrol terhadap kekuasaan ekonomi dan sosial hanya melahirkan ilusi keadilan. Ketika elite dapat bergerak lintas negara, lintas hukum, dan lintas tanggung jawab moral, maka kedaulatan hukum menjadi rapuh.

Bagi negara-negara berkembang—termasuk Indonesia—kasus ini menyimpan pelajaran penting. Kita sering menganggap skandal semacam ini sebagai urusan “Barat” atau “dunia mereka”. Padahal, struktur ketimpangan global membuat negara-negara di Selatan Global justru sering menjadi korban tidak langsung: dari aliran dana gelap, jaringan kejahatan transnasional, hingga standar ganda dalam penegakan hukum internasional.

Lebih jauh, Epstein Files juga mengungkap kegagalan media global arus utama. Bertahun-tahun sebelum kasus ini meledak, rumor dan laporan tentang Epstein telah beredar. Namun banyak yang diabaikan, diperkecil, atau dianggap terlalu sensitif. Di sini, kita melihat bagaimana media—yang seharusnya menjadi pilar keempat demokrasi—juga bisa tunduk pada tekanan kekuasaan dan kepentingan.

Yang paling menyedihkan, tentu saja, adalah posisi korban. Dalam pusaran diskursus elite dan dokumen, suara korban kerap terpinggirkan. Padahal merekalah inti dari tragedi ini. Epstein Files seharusnya menjadi momentum global untuk memusatkan kembali perhatian pada korban, bukan pada sensasi nama besar. Keadilan tidak diukur dari seberapa terkenal pelakunya, melainkan dari sejauh mana sistem berpihak pada yang paling rentan.

Pada akhirnya, Epstein Files memperlihatkan wajah telanjang kekuasaan global: dingin, eksklusif, dan sering kali kebal dari konsekuensi. Ia menantang kita untuk bertanya dengan jujur—bukan siapa saja yang terlibat, tetapi sistem seperti apa yang memungkinkan semua ini terjadi.

- Advertisement -

Jika dunia gagal membaca peristiwa ini sebagai alarm struktural, maka skandal Epstein hanya akan menjadi satu dari sekian banyak arsip gelap yang dilupakan. Namun jika ia dijadikan titik refleksi bersama, Epstein Files bisa menjadi awal dari tuntutan global yang lebih berani: transparansi yang nyata, hukum yang setara, dan kekuasaan yang benar-benar diawasi.

Karena pada akhirnya, peradaban tidak runtuh karena kurangnya hukum, tetapi karena hukum hanya berlaku bagi mereka yang tak memiliki kuasa.

Agil Maulana Firmansyah
Agil Maulana Firmansyah
Alumni Fisip Universitas Wiraraja
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.