Sabtu, Januari 31, 2026

Dilema Guru di Tengah Sensitivitas Zaman

Muhammad Farhanudin
Muhammad Farhanudin
Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhamamdiyah Surabaya
- Advertisement -

Dalam Undang-Undang Dasar Nomor 20 Tahun 2003 bahwa Tujuan dari Pendidikan Nasional Indonesia Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Lalu dalam hal ini siapa yang harus bertangung jawab untuk Pendidikan seorang anak? Semua harus bertanggung jawab tidak hanya di bebankan kepada guru saja Ketika menimba ilmu di sekolahan namun orang tua juga wajib unruk bertanggung jawab akan Pendidikan anaknya sendiri.

Sebagai orang tua harus menjadi contoh untuk anak-anaknya sendiri terlebih jika melakukan hal yang baik maka anak tersebut akan menirukannya dan jika melakukan yang sebaliknya maka hal tersebut akan di lakukan juga. Oleh karena itu perlunya kolaborasi antara guru dan orang tua, jika salah satu pihak tidak saling percaya, proses pendidikan kehilangan pijakan. Perlunya ruang seorang guru Ketika melakukan proses mendidik dengan benar dan Ketika guru tidak diberikan ruang untuk mendidik dengan benar, pendidikan berubah hanya menjadi formalitas tanpa jiwa.

Kenyataannya saat ini guru mendapatkan tuntutan serta tekan dari wali murid. Guru tidak boleh marah-marah, tidak boleh kasar, tidak boleh menghukum fisik, dan lain sebagainya. Tuntutan besar itulah, menjadikan guru harus rela serta Ikhlas untuk menghadapi tantangan yang semakin berat: masyarakat yang semakin sensitif, mudah tersulut emosi, dan cepat menghakimi.

Hari ini, guru tidak hanya mengajar. Mereka harus memastikan siswanya berperilaku baik, serta menjaga kesehatan mental siswanya, memenuhi administrasi panjang, dan menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang tua yang beragam. Namun dalam waktu yang sama, setiap tindakan mereka diawasi. Setiap kata dipertimbangkan, setiap gerak bisa disalah artikan.

Ketegasan yang dulunya menjadi bagian penting dalam membangun karakter, kini mudah dipandang sebagai kekerasan. Kepedulian yang dulunya dianggap perhatian tulus, kini bisa dicurigai sebagai tindakan melampaui batas. Guru seperti berjalan di atas jembatan kayu yang rapuh sedikit salah melangkah maka akan jatuh, seperti halnya guru jika salah dalam melangkah Maka reputasinya bisa jatuh.

Dalam praktik pendidikan, ketegasan adalah bagian penting dari membangun karakter disiplin siswa. Namun sekarang, ketika guru menegur siswa yang berisik, meminta siswa mengikuti aturan, atau memberikan batasan, mereka sering dianggap terlalu keras atau tidak sensitif terhadap “kondisi anak”. Guru dituntut menanamkan nilai disiplin, tetapi tidak boleh menaikkan suara.

Guru diminta bertanggung jawab atas perilaku siswa, tetapi tidak boleh terlihat menekan. Kebingungan ini membuat banyak guru memilih diam membiarkan perilaku siswa melewati batas daripada berisiko dianggap keras. Disisi lain, guru juga dituntut untuk peduli. Menanyakan kondisi siswa, membimbing secara personal, atau mendekatkan diri secara emosional dianggap sebagai bagian dari pendidikan holistik.

Namun ironisnya, kepedulian yang tulus pun kini menjadi ruang bahaya. Satu sentuhan spontan untuk menenangkan siswa bisa menjadi isu besar. Satu percakapan pribadi bisa disalahartikan. Satu bantuan ekstra bisa dianggap melampaui batas profesional. Guru ingin hadir secara manusiawi, tetapi sensitivitas zaman membuat mereka takut untuk menunjukkan empati.

Disisi lain juga guru diminta menjadi teladan sempurna tidak boleh salah, tidak boleh lelah, tidak boleh emosional, tidak boleh khilaf. Namun dalam kenyataan, di balik seragam dan papan tulis, guru tetaplah manusia mereka punya hati, punya niat baik, punya empati, dan punya kelemahan.Mereka bukan robot yang bisa sempurna tanpa salah. Mereka bisa salah ucap, bisa salah langkah, bisa salah memahami situasi.

- Advertisement -

Tetapi di era yang mudah menghakimi, kesalahan kecil bisa menghancurkan karier yang dibangun puluhan tahun. Sementara itu, dunia pendidikan terus mengajarkan pada siswa bahwa kesalahan adalah bagian dari belajar. Ironis sekali, guru yang mengajarkan hal itu justru tidak diberi kesempatan yang sama untuk memiliki ruang salah.Dulu, guru memiliki ruang aman dalam menjalankan tugas mendidik. Masyarakat menaruh kepercayaan penuh pada guru dan melihat mereka sebagai figur moral. Namun kini, ruang itu menyempit. Guru merasa selalu diawasi dalam bergerak bukan untuk dibantu, tetapi untuk dicari kesalahannya.Ada rasa cemas dan takut yang terus membayangi setiap harinya:

“Bagaimana jika orang tua salah paham?”

“Bagaimana jika rekaman potongan video disebarkan tanpa konteks?”

“Bagaimana jika niat baik saya dianggap sebagai pelanggaran?”

Kiranya begitu dibenak dalam hatinya. Ketakutan ini nyata, dan semakin membuat guru enggan terlibat lebih dalam pada perkembangan karakter siswa demi untuk mengamankan dirinya serta reputasinya.

Akhirnya Jika kita benar-benar ingin pendidikan maju, kita harus memulihkan sesuatu yang kini hilang yaitu menaruh kepercayaan kembali kepada guru dan memberikan ruang bebas. Pendidikan yang besar tidak lahir dari rasa takut. Pendidikan lahir dari kolaborasi, dari kepercayaan antara guru, orang tua, dan siswa. Tanpa kepercayaan, hubungan belajar-mengajar hanya menjadi rutinitas kosong tanpa kedalaman. Tanpa itu, tujuan Pendidikan untuk membentuk manusia seutuhnya akan sulit tercapai.

Orang tua harus kembali memahami bahwa guru tidak sedang mencari keuntungan pribadi namun mereka sedang menjalankan amanah besar untuk membentuk masa depan. Orang tua harus berhenti melihat guru sebagai musuh. Pemerintah harus berhenti membebani guru dengan tuntutan tanpa perlindungan. Pendidikan yang baik tumbuh dari kolaborasi, bukan kecurigaan dan ancaman.

Guru tidak meminta untuk dipuja, Mereka hanya ingin dipercaya. Mereka ingin memiliki ruang untuk menjadi manusia yang bisa tegas, bisa salah, bisa peduli, dan bisa bertumbuh bersama siswa. Jika kita ingin generasi yang kuat, berkarakter, dan beradab, maka kita harus menjaga mereka dan yang menanamkan karakter itu adalah guru.

Di tengah sensitivitas zaman ini, mari kita cukupkan tudingan dan mulai membangun kembali rasa percaya. Sebab pendidikan tidak akan pernah sehat bila gurunya hidup dalam ketakutan.Guru Adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, dan kita harus menghargai atas perjuangannya, banyak keringat yang menetes, banyak air mata yang menetes, banyak doa yang dilayangkan hanya untuk mencerdaskan anak bangsa.

Muhammad Farhanudin
Muhammad Farhanudin
Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhamamdiyah Surabaya
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.