Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Dibalik Curhat Soal Ujian Nasional | GEOTIMES
Jumat, April 16, 2021

Dibalik Curhat Soal Ujian Nasional

Siapakah Penentu Dinamika Politik Pilgub Jabar?

Dinamika politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Barat semakin menarik untuk diikuti. Situasi politik yang begitu cair dan isu-isu yang muncul sedikit berbeda...

Tahukah Kamu Khalid bin Walid Termasuk 5 Jenderal Terhebat Sepanjang Sejarah?

Pertanyaan mengenai siapa jenderal terhebat sepanjang zaman seakan tidak pernah ada habisnya. Jenderal dan penakluk legendaris seperti Aleksander Agung, Julius Caesar, hingga Jenghis Khan...

Memikirkan Sejarah Sekali Lagi

Sebentar lagi bulan Agustus. Agaknya bulan Agustus agaknya dapat menjadi bulan sejarah bagi Indonesia. Pasalnya, pada bulan ini orang-orang banyak diingatkan tentang proses berdirinya...

Sumpah Mahasiswa, Jangan Diingkari!

Jika kita mendengar perihal kata “sumpah”, hal yang telintas dalam pikiran kita pastilah sesuatu hal yang sangat bersifaf suci dan sakral. Dalam KBBI kata...
Kurniawan Adi Santoso
Guru SDN Sidorejo, Kab. Sidoarjo, Jatim

Sulitnya soal Matematika pada Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018 tingkat SMA banyak dikeluhkan para peserta. Mereka curhat di IG @kemdikbudri, dan @pustektekkom_kemdikbud. Hingga Mendikbud, Muhadjir Effendy meminta maaf atas soal Matematika yang sulit. Lebih lanjut beliau menegaskan, soal yang dibuat sudah sesuai dengan kisi-kisi.

Soal UN tahun ini memang dirancang beda dengan tahun sebelumnya. Soal berisikan daya nalar tingkat tinggi (high order thinking skills/HOTS). Berjenis pilihan ganda dan esai. Yang membuat soal pihak pemerintah dengan porsi 20 % – 25 %, yang 75 % – 80 % dari guru. Melihat perbedaan yang signifikan dari tahun lalu menjadi wajar bila hasil perakitan soal masih terdapat kekurangan. Yang kemudian diprotes peserta UN.

Saya mengutip beberapa komentar siswa yang bisa dipandang sebagai kesimpulan. “Bagaimana tidak capek belajar kisi-kisi keluarnya melenceng”. “TAHUN DEPAN TOLONG DIBUAT LEBIH SUSAHHH”. “Pak, tolonglah, ngapain saya ngitung jumlah gram NaCl yang ada dalam 1 ton bola salju, Pak. Indonesia kan tropis, Pak. Hadeuhhh lieur.”

Semua itu menunjukkan betapa siswa SMA itu punya daya nalar kritis. Dari curhatan di medsos kita bisa tahu persepektif siswa mengenai soal Matematika. Yakni soal tidak sesuai kisi-kisi, sulit dikerjakan, dan soal tidak relevan dengan keseharian siswa. Ini membuktikan telah terjadi perbedaan persepsi siswa dengan persepsi birokrat, pembuat soal.

Seringkali pemerintah terlalu ngebet menerapkan suatu kebijakan, tanpa dibarengi kesiapan yang matang. Polemik soal UN jelas keteledoraan pemangku pendidikan dan penyelenggara negara. Mestinya dipikirkan cara merancang dan membuat soal yang sesuai dengan kisi-kisi, tetapi juga mencakup tingkat kemampuan peserta didik. Sehingga tidak merugikan peserta UN.

Sebagaimana kita tahu, dalam membuat soal ujian mesti mengacu kisi-kisi soal yang sudah ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kisi-kisi UN yang ditetapkan BNSP sudah berdasarkan kriteria pencapaian standar kompetensi lulusan, standar isi, dan kurikulum yang berlaku. Bila ada soal yang tidak sesuai kisi-kisi, berarti ada yang salah dalam proses pembuatan soal.

Kesalahan dalam proses pembuatan soal jelas karena pihak pembuat soal tidak bisa menerjemahkan bahasa kisi-kisi. Ia kurang paham konteks yang diharapkan di kisi-kisi. Ia keliru menafsirkan tingkatan kognitif yang hendak diukur.

Ini lantaran kurangnya pelatihan pembuatan naskah ujian. Sedangkan waktu pengerjaan pembuatan soal relatif singkat. Hal itu yang membuatnya kurang menguasai materi dan kreativitas penulisan soal. Akibatnya soal yang dihasilkan tidak sinkron dengan kisi-kisi.

Soal Matematika yang sulit dikerjakan siswa adalah soal HOTS. Sekitar 10 % disediakan soal yang mendorong siswa agar dapat bernalar tingkat tinggi yakni kemampuan berpikir kritis, evaluatif, dan kreatif. Okelah, bila soal HOTS dimaksudkan untuk meningkatkan standar pendidikan. Sebab pendidikan kita masih berada di peringkat 62 dari 72 berdasarkan laporan PISA 2015.

Namun persoalannya, dalam keseharian guru masih memakai pembelajaran berpikir di level tingkat rendah (lower order thinking skill)/LOTS. Siswa hanya dilatih menjawab soal secara cepat dan tepat. Tak ayal, bila kemudian siswa kesulitan menjawab tipe soal HOTS.

Soal Matematika tidak terkait dengan kehidupan di sekitar siswa. Ini menandakan pihak pembuat soal kurang mampu mendekatkan soal Matematika dengan kehidupan sehari-hari. Matematika masih dipandang sebagai hal yang teoritis dan seabrek rumus-rumus. Padahal, ujian itu menilai kemampuan siswa mereproduksi pengetahuan Matematika, melainkan juga kemampuan siswa mengekstrapolasi pengetahuan Matematika dan menerapkannya dalam menghadapi situasi kehidupan.

Melihat terus munculnya keluhan soal UN yang sulit dari tahun ke tahun, berarti sudah waktunya memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia. UN dengan menyedot anggaran cukup besar yang diagendakan sebagai bagian upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan, kualitasnya harus terus ditingkatkan.

Perbaikan

Peningkatan kualitas UN hendaknya diawali dengan perbaikan proses pembelajaran. Proses pembelajaran harus diarahkan menuju HOTS. Siswa tidak melulu fokus berlatih mengerjakan soal-soal UN dari tahun-tahun sebelumnya dan mengikuti uji coba (try out). Terlebih Matematika harus diarahkan pada pembelajaran yang sesuai dengan potensi siswa dan menyangkut permasalahan sehari-hari. Sehingga seperti yang dikatakan Ausebel (dalam Dahar, 1988:137), dapat tercapai pembelajaran bermakna.

Guru-guru dilatih hingga terampil membuat soal. Program pelatihan pembuatan soal harus dimasifkan, baik oleh komunitas guru seperti KKG/MGMP maupun dinas pendidikan setempat. Pelatihannya harus sampai tuntas. Tidak kejar tayang seperti yang selama ini terjadi dengan alasan keterbatasan anggaran. Padahal alokasi dana pendidikan 20 persen dari APBN dan APBD.

Soal UN harus disusun oleh guru-guru yang berpengalaman dan terlatih. Soal yang disusun oleh guru ditelaah oleh dosen-dosen dari perguruan tinggi. Dengan begitu, hasilnya berkualitas sesuai standar kompetensi lulusan yang telah ditetapkan.

Soal UN harus dibakukan terlebih dahulu. Ujian yang belum dibakukan dipandang kurang dapat mencapai tujuan pengukuran itu sendiri (Sax, 1974). Oleh karena itu, soal UN seharusnya diujicobakan terlebih dahulu pada sampel yang cukup besar. Kemudian berdasarkan data yang diperoleh, diadakan analisis untuk menentukan validitas maupun reliabilitas soal secara keseluruhan. Sehingga soal UN benar-benar bisa mengukur hasil belajar siswa.

Yang tak kalah penting, meminimalisasi bahkan meniadakan gangguan teknis maupun kebocoran soal mutlak dilakukan. komitmen UN lebih berintegritas harus dijunjung tinggi semua pihak. Dalam pelaksanaanya harus mengedepankan kejujuran.

Kita berharap curhat siswa tak sekedar dianggap hal biasa-biasa saja oleh guru maupun pemerintah. Perbaikan kualitas UN mutlak dilakukan. Bila ini dilakukan niscaya berdampak pada peningkatan mutu pendidikan. Semoga!

Kurniawan Adi Santoso
Guru SDN Sidorejo, Kab. Sidoarjo, Jatim
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.