Beberapa tahun terakhir, saya sering melewati jalan-jalan kecil yang dulu sunyi, lalu tiba-tiba menemukan sebuah sekolah baru berdiri di sana. Warnanya cerah, dindingnya masih wangi semen, dan spanduknya menjanjikan “pendidikan terbaik untuk masa depan”. Di banyak tempat, pemandangan serupa muncul seperti jamur setelah hujan. Sekilas, ini adalah kabar baik. Lebih banyak sekolah berarti lebih banyak kesempatan. Begitu, setidaknya, teori idealnya.
Namun semakin sering saya berjalan, kian saya merasakan keganjilan yang tidak bisa saya abaikan. Dari luar, sekolah-sekolah itu tampak seperti representasi kemajuan. Tetapi dari dalam, banyak yang ternyata hanya berisi ruang kelas seadanya, perpustakaan yang belum benar-benar perpustakaan, dan guru yang bekerja dengan gaji yang nyaris tidak memungkinkan mereka hidup layak. Gedungnya baru, tetapi visi pendidikannya belum tentu baru. Bahkan kadang tidak ada sama sekali.
Saya mulai bertanya-tanya: siapa sebenarnya yang paling berhasrat mendirikan sekolah-sekolah ini? Mengapa ledakan pendirian sekolah baru terasa begitu cepat, seperti diretas oleh dorongan yang mendahului perencanaan?
Dalam renungan itu, saya melihat sesuatu yang lebih dalam: semacam libido kelembagaan. Sebuah nafsu untuk mendirikan, memperluas, menguasai ruang, dan menempatkan nama tertentu dalam peta sosial. Bukan libido dalam makna sempit, tetapi dorongan untuk menandai kehadiran; untuk menunjukkan bahwa sebuah yayasan “berkembang”. Sekolah pun berubah menjadi monumen—bukan selalu menjadi tempat tumbuhnya pengetahuan.
Pendidikan, dalam situasi ini, kadang bergeser dari misi menjadi ambisi. Saya melihat lembaga yang mendirikan sekolah dengan semangat ekspansi, tetapi tidak menyiapkan laboratorium; yang merekrut guru dengan cepat, tetapi tidak menyediakan pelatihan atau kesejahteraan yang memadai. Ada guru yang saya temui, mengajar dari pagi hingga sore, lalu malamnya mencari tambahan dengan pekerjaan lain. Mereka mencintai mengajar, tetapi cinta itu diuji setiap kali mereka menghitung pengeluaran bulanannya.
Kita sering lupa bahwa kualitas sekolah tidak ditentukan oleh cat dinding atau spanduk berwarna cerah, melainkan oleh kondisi paling mendasar: ruang yang layak, buku yang tersedia, dan guru yang dihargai. Pendidikan tidak pernah dapat melompat melewati martabat guru. Jika guru hidup dalam kelelahan dan ketidakpastian, maka mutu pembelajaran pun tak mungkin nyata.
Saya khawatir kita sedang menciptakan ilusi kemajuan pendidikan. Dari kejauhan, kita melihat sekian banyak sekolah baru dan merasa bangga bahwa akses pendidikan tampak terbuka lebar. Tetapi ketika kita mendekat, kita melihat bahwa yang bertambah baru kuantitasnya, bukan kualitasnya.
Ilusi ini berbahaya karena membuat kita merasa sudah bekerja cukup keras, padahal yang kita lakukan baru menyentuh permukaan. Kita membangun bangunan, tetapi lupa membangun ekosistemnya. Kita menggaji guru, tetapi lupa menyejahterakan mereka. Kita membuat kelas, tetapi lupa menghidupkan pembelajaran.
Pendidikan yang sejati membutuhkan waktu, kesabaran, dan komitmen yang lebih panjang daripada masa pembangunan sebuah gedung. Ia memerlukan etika yayasan yang menomorsatukan manusia, bukan angka-angka pendaftaran. Ia memerlukan regulasi yang melindungi kualitas, bukan sekadar memeriksa kelengkapan administrasi. Dan yang paling penting, ia memerlukan perhatian pada guru—manusia pertama yang menentukan apakah sebuah sekolah benar-benar menjadi sekolah, atau hanya bangunan dengan papan nama.
Setiap kali saya melihat sekolah baru berdiri, saya tidak lagi langsung merasa bangga. Saya bertanya dalam hati: apakah di dalamnya ada ruang yang memberi kesempatan tumbuh bagi anak-anak? Apakah di sana ada guru yang dihormati? Apakah sekolah itu lahir dari kebutuhan, atau hanya dari nafsu memperbanyak?
Di balik deretan bangunan baru itu, kita sedang ditantang untuk tidak terpesona oleh tampilan, dan berani melihat substansi. Sebab pendidikan bukan tentang seberapa banyak sekolah berdiri, tetapi seberapa dalam ia menumbuhkan manusia.
