Senin, Mei 17, 2021

Detik-Detik Jelang Debat Ronde Pertama

Nasionalisme Indonesia dan Permasalahan Papua

Dalam buku Indonesian Political Thinking 1945-1965, Cornell University Press (2007), Herbert Feith memberikan gambaran yang cukup baik mengenai bagaimana pentingnya peran pemuda yang terdidik dalam membentuk sebuah...

Merawat Tradisi Bakda Kupat di Tengah Pandemi Covid-19

Tahun 2021, Masyarakat Indonesia ditengah pandemi covid-19 yang masih berlangsung dan juga di dalam bulan suci ramadan kita dihadapkan situasi yang tidak menentu. Pemerintah...

Corona dan Pembudayaan E-Learning

Virus corona atau coronavirus disease (COVID-19) ditetapkan World Health Organization (WHO) sebagai pandemi atau wabah global. Pemrintah menetapkan sebagai sebagai bencana nasional. Berbagai kebijakan...

Menuju Pendidikan yang Memerdekakan

"Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah menganggap dirinya lebih tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya...
Muhammad Nasir
Alumni Sekolah Anti Korupsi Indonesia Corruption Watch

Tak berapa lama lagi Indonesia akan menyelenggarakan pesta akbar demokrasi nasional, yakni pemilihan umum tepat pada 17 april 2019, Pemilu serentak dalam pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia.

Pemilih akan diberi daulat penuh untuk menentukan pilihannya, tentang siapa yang akan mereka beri mandat untuk memimpin bangsa ini lima tahun kedepan. Terkhusus pada pemilihan presiden dan wakil presiden.

Berbeda halnya pada masa orde baru pemilihan kepemimpinan bangsa hanya “wakil” mereka di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang bisa menentukan presiden dan wakil presiden, pasca runtuhnya orde baru melalui amandemen konstitusi di era reformasi seluruh rakyat berhak bersuara untuk mengunakan hak pilihnya.

Sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 1 Ayat (2) UUD NRI 1945 “Kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar serta diperkuat oleh Pasal 6A Ayat (1) Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat.

Situasi yang sangat terbuka hari ini memberikan ruang yang lebih luas bagi pemilih untuk menilai calon pemimpin mereka, dan calon pemimpin harus mampu meyakinkan pemilih bahwa program, visi dan misinya mampu membawa perubahan yang signifikan bagi tanah air.

Moment menarik sekaligus dinanti-nanti akan disuguhkan ke hadapan khalayak, salah satu rangkaian paling krusial dalam proses pelaksanaanpemilihan umum, secara terbukadipentaskan ajang adu gagasan bagi calon presiden dan wakil presiden, ajang bagi calon pemimpin bangsa untuk menyampaikan dan mengemas pikirannya dengan rasional untuk peluang mendapatkan kepercayaan rakyat, yakni Debat Pilpres.

Tradisi yang muncul pasca reformasi yang sedikit banyak dapat memberikan pendidikan politik dan membuka kesempatan rakyat untuk lebih mengenali lebih dalam tokoh yang ikut berkompetisi dalam pilpres.

Konsumsi Intelektual Publik

Tepat tanggal 17 Januari 2019 debat perdana akan dilangsungkan dan disiarkan secara serentak melalui berbagai media di tanah air, dengan temapada ronde pertama seputar hukum, HAM, korupsi dan terorisme akan menjadi sangat layak untuk menjadi konsumsi publik. Untuk mengetahui dan mengukur sejauh mana penguasaan dan pemahaman kandidat seputar masalah terkait tema yang ditentukan danbagaimana solusi yang ditawarkan melalui gagasan yang akan di paparkan oleh masing-masing pasangan calon.

Pertarungan gagasan diatas mimbar terbuka, tentunya memiliki peranan penting agar para pemilih dapat menilai siapa yang lebih layak memimpin bangsa ini dalam lima tahun mendatang. Dengan konsep ini jua rasionalitas pemilih di uji melalui mekanisme yang realistis kritis, karena era keterbukaan saat ini telah terjadi pergeseran orienstasi pemilih dalam pemilu yang mengarah pada kecenderungan rasional karena alasan kepentingan praktis pemilih.

Penetrasi Komunikasi Politik

Debat Capres-Cawapres bukan sekedar penyampaian program-program yang ditawarkan oleh masing-masing kandidat, melainkan sebagai ajang menarik simpati publik dan memperlebar propabilitas ketertipilihan calon.

Harold Laswell mengungkapkan untuk memahami komunikasi setidaknya melibatkan lima unsur, Who say, What in. What Chanel To, Whom With, What Effect? dan Charles H Cooleymengungkapkan komunikasi sebagai mekanisme eksistensial manusia untuk berhubungan dengan orang lain dalam waktu dan ruang yang mereka miliki.

Interaksi politik disimpulkan oleh Aristoteles sebagai interaksi yang terjadi didalam suatu kelembagaan yang dirancang untuk memecahkan masalah sosial dan menentukan serta membentuk tujuan negara, maka melalui debat dengan siaran luas media ini akan potensial menjadi komunikasi yang merangkul luas berbagai kalangan untuk tersampaikannya informasi politik dalam sebuah proses debat capres-cawapres.

Memenangkan Pemilu berarti mendapatkan suara pemilih dengan jumlah terbanyak, keputusan pemilih tergantung sejauh mana kemampuan kandidat meyakinkan pemilih, dengan aktor utama yang lawas menciptakan laga classic dengan dibumbui wajah baru orang kedua yang tentunya akan menambah cita rasa dibandingkan pemilu periode lalu.

Kandidat dapat tampil menunjukkan kapasitasnya dalam meyakinkan konstituen melalui penyampaikan solusi yang telah dilakukan oleh petahana (incumbent) maupun solusi-solusi lebih progresif yang akan disampaikan dan ditawarkan oleh penantang.

Karena debat akan jadi sangat penting untuk dalam usaha “pemasaran” ide-ide kandidat untuk meraup simpati pemilih serta mendongkrak elektabilitasnya melaui pesan persuasif bahwa ia adalah orang yang paling tepat untuk menjadi nahkoda republik ini selama kepemimpinan lima tahun kedepan.

Agar Debat Bermanfaat

Sebagai Bangsa yang telah menisbatkan jalan sebagai negara demokrasi maka perbedaan pendapat didepan publik adalah hal yang lumrah dan sangat wajar terjadi, perbedaan bukanlah alasan untuk berpecah belah namun menjadi alasan yang kuat untuk senantiasa selalu berbenah menjadi bangsa yang lebih baik kedepannya.

Animo dan dukungan fanatis masyarakat yang sangat besar terhadap masing-masing kubu jangan sampai menjadi alasan untuk saling memaki ataupun melukai, jadikan momentum ini sebagai pergulatan pikiran yang semakin mendewasakan mental bangsa melalui persepsi terukur terkait jalannya demokrasi di Indonesia. Jadikan pula momentum ini untuk saling mengoreksi bukan saling membenci karena lawan berdebat adalah kawan berfikir.

Muhammad Nasir
Alumni Sekolah Anti Korupsi Indonesia Corruption Watch
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.