OUR NETWORK
From Korea With Love Concert
Jumat, Desember 9, 2022
From Korea With Love Concert

Dari Literasi Rendah Sampai Maraknya Berita Hoaks

Shendy Ferdianto
Mahasiswa aktif S1 Akuntansi di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta
From Korea With Love Concert

Kurangnya literasi pada masyarakat Indonesia membuat banyak berita hoaks semakin menyebar. Salah satu penyebab penyebaran tersebut, banyaknya masyarakat Indonesia yang menyebarkan berita tanpa tahu kebenarannya. Sebelum kita membahas lebih jauh, apakah anda tau apa itu literasi?

Menurut UNESCO, literasi adalah seperangkat keterampilan yang nyata, terutama dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks didapat oleh siapa dan dari siapa. Sederhananya, literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis agar dapat berpikir kritis. Namun seiring berjalannya zaman, literasi mulai digunakan dalam artian yang lebih luas.

Literasi adalah jendela dunia, karena dengan literasi kita dapat mengetahui banyak informasi yang belum kita ketahui dan mendapatkan informasi yang valid kebenarannya. Namun nyatanya, kondisi literasi di Indonesia sangat memprihatinkan terutama di kalangan remaja, banyak remaja Indonesia yang masih belum ada kesadaran dalam pentingnya literasi.

Terlebih remaja merupakan generasi penerus bangsa, yang dimana harus mampu berpikir kritis dan berwawasan luas. Hal ini membuat peringkat literasi di Indonesia dalam data Laman Kementerian Dalam Negeri menampilkan bahwa Indonesia berada di posisi ke-62 dari 70 negara. Kemudian menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Ini menunjukan bahwa hanya ada 1 dari 1000 orang yang rajin membaca, data tersebut menempatkan Indonesia di peringkat terendah kedua versi UNESCO.

Fakta mengejutkannya, meski minat baca buku orang Indonesia rendah, data wearesocial pada bulan Januari 2017 mengungkap bahwa orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih  9 jam per hari. Sudah tidak dipungkiri lagi dalam hal kecerewetan di media sosial, orang Indonesia menempati urutan ke 5 di dunia. Dari data tersebut, Jakarta adalah kota paling cerewet di dunia maya karena sepanjang hari aktivitas tweet dari akun Twitter yang paling ramai melebihi Tokyo dan New York. Data laporan ini didapat berdasarkan dari hasil riset Semiocast yaitu sebuah lembaga independen di Paris.

Pada gadget memang banyak informasi atau berita fakta yang mudah didapatkan. Namun, sayangnya rakyat Indonesia lebih percaya dengan portal-portal fake news dan akun-akun penyebar hoax.

Dalam data KemenKominfo menyebutkan bahwa ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terverifikasi sebagai penyebar informasi palsu. Data ini membuktikan bahwa internet telah salah dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk menyebarkan berita-berita negatif yang biasanya mudah dipercayai oleh masyarakat Indonesia, dan tentu saja hal ini dapat meresahkan publik. Dari data tersebut, masyarakat Indonesia harus lebih teliti dalam mempercayai suatu berita.

Penyebaran berita hoax tentunya semakin marak di era digital, cepatnya penyebaran informasi ini membuat masyarakat sulit untuk memilih informasi yang bisa dipercaya. Salah satu jenis saluran yang paling banyak berkontribusi dalam penyebaran berita hoax adalah media sosial. Dari data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukan bahwa pengguna media sosial terbanyak ada pada usia 13-18 (99,16%) dan urutan kedua usia 19-34 (98,64%), dari data tersebut sudah diketahui bahwa jika ada isu yang tidak benar akan secepat apa informasi itu menyebar.

Berikut ada beberapa informasi atau berita hoax yang pernah terjadi di Indonesia :

1. Dwi Hartonto Penerus Habibie

Dwi mengaku bahwa dia pernah membuat roket bernama TARAV7s dan memenangkan lomba riset teknologi antar lembaga penerbangan dan antariksa di Jerman dan masih banyak lagi. Namun, kenyataannya ia tidak pernah memenangkan lomba tersebut bahkan ia bukanlah peserta.

2. Baim Wong Transfer Duit

Kasus ini mungkin masih terjadi di Indonesia, ada oknum yang mengatasnamakan Baim Wong. Oknum tersebut menelepon korban dan berkata bahwa korban mendapatkan hadiah dari Baim Wong dan akan mentransfer uang jika mengikuti arahan dari oknum tersebut. Padahal, oknum tersebut ingin mengambil uang yang ada di rekening korban.

Terjadinya hoax tersebut tentunya ada faktor penyebabnya. Faktor-faktor tersebut terjadi karena banyak hal, yang terutama adalah karena perkembangan teknologi yang membuat setiap orang mudah untuk menerima dan menyebarkan informasi. Berikut adalah faktor-faktor penyebab berita hoax:

1. Rasa ingin tahu

Sesuatu yang menarik perhatian akan membuat rasa ingin tahu seseorang semakin tinggi. Jika rasa ingin tahu nya untuk mencari informasi yang lebih detail dan valid kebenarannya, maka itu memiliki dampak positif. Namun, jika rasa ingin tahu itu, untuk menyebarkan berita hoax yang belum dicari informasi detailnya, maka itu memiliki dampak negatif

2. Teknologi Modern

Hal- hal seperti gawai, internet, jaringan seluler, dan lain lain. Semua itu memudahkan penyebaran informasi yang berlangsung dengan cepat. Walaupun memiliki kelebihan dengan mudah menyampaikan informasi. Namun, dampak negatifnya sangat membahayakan publik, seperti mudah untuk membuat dan menyebarkan berita tidak benar (hoax)

3. Bias Informasi

Mudahnya mengakses internet membuat orang hanya membaca dan menyebarkan informasi tanpa mengecek informasi tersebut sudah benar atau belum. Bias informasi adalah dimana para pembaca hanya percaya pada informasi yang diyakini saja. Jika ada informasi lain yang lebih faktual maka seseorang itu akan lebih percaya dengan informasi yang sudah diyakini.

4. Rendahnya literasi

Tentunya rendahnya literasi di Indonesia ini juga salah satu faktor penyebab hoax. Orang yang rendah literasi akan membaca suatu berita hanya dari judulnya atau yang terpampang di kesimpulan berita. Tanpa melihat keseluruhan isi berita dan mencari berita yang lebih detail, karena biasanya beberapa berita ada yang membuat kesimpulan berita berbeda dengan isi berita atau biasa disebut clickbait.

Dari faktor tersebut, ada beberapa akibat yang dapat terjadi seperti banyak generasi muda yang menjadi generasi pemalas, kurangnya pengetahuan yang dimiliki, tidak bisa berpikir kritis , dan penyebaran berita hoax yang semakin luas. Penyebaran berita hoax dikarenakan banyak masyarakat Indonesia yang membaca berita atau mendapatkan informasi tanpa tau kejelasannya dan menyebarluaskan berita tersebut secara digital maupun mulut ke mulut.

Solusi yang harus dilakukan untuk mengurangi atau mencegah hal tersebut adalah dengan membaca berita secara keseluruhan dan menelusuri lebih dalam tentang kejelasan informasi atau berita tersebut. Jika sudah mengetahui kebenaran informasi tersebut, baru bisa disebarluaskan kecuali jika informasi tersebut belum diketahui kebenarannya atau mengandung privasi suatu orang maka jangan disebarluaskan.

lain yang harus dilakukan untuk mencegah hal hal tersebut adalah pemberian sosialisasi kepada masyarakat Indonesia, tentang bahayanya informasi hoax dan pentingnya pendidikan literasi agar terhindar dari informasi yang salah atau tidak diketahui kebenarannya.

Shendy Ferdianto
Mahasiswa aktif S1 Akuntansi di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.