OUR NETWORK
Senin, Oktober 25, 2021

Covid-19 di Desa, Takdir Kematian Manusia?

Santri Itu Keren

Pinjol Merajalela, di Mana Lembaga ZIS?

Habis Gelap Terbitlah Terang

Sri Haryati Putri
Associate Researcher di JC Institute, Alumni SKK-ASM 3, Penggiat Sejarah Kontemporer

Setelah lebih dari sepekan lamanya saya “mengendap” di rumah saja, tanpa melakoni aktivitas seperti biasanya. Ya, aktivitas kerja serabutan, paling tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri.

Melihat keselamatan hidup manusia yang kian terancam, karena planet bumi yang sedang di landa wabah, akhirnya saya memutuskan untuk pulang kampung. Situasi dan kondisi sangat tidak memungkinkan bagi saya untuk melanjutkan riset di kota. Pastinya saya akan berhubungan dengan manusia dan orang banyak. Hal inilah yang mesti dihindari untuk situasi darurat seperti saat kini.

Di kampung, orang tua saya mempunyai warung kelontong yang menjual aneka gorengan. Ibu saya tetap membuka warung supaya dapur tetap ngepul dan perekonomian keluarga menjadi tidak terganggu.

Tetapi, saya terus mewanti-wanti agar mematuhi segala himbauan pemerintah seperti social dan physical distancing. Demi keselamatan dan upaya pencegahan penyebaran virus, penyemprotan disinfektan di setiap paginya menjadi tidak pernah alpa untuk dilakukan.

Seyogyanya, di kampung-kampung pandemi Covid-19 tidak terlalu mengganas seperti yang tengah terjadi di kota. Masyarakat kampung nyatanya masih bisa melakoni aktivitas seperti biasanya. Termasuk pergi bekerja ke sawah, melaut, berdagang, dan tetap nongkrong di lapau.

Bahkan ada yang tetap nekad mengadakan pesta pernikahan. Meskipun aktivitas masyarakat telah dibatasi oleh aparat, masih ada saja yang membandel untuk tetap keluar rumah tanpa ada kepentingan yang urgen. Apakah ini pertanda bahwa masyarakat desa kebal corona dan tidak takut mati?

Haruskah mereka melihat dengan mata kepala sendiri korban positif Covid-19, atau ada salah satu dari tetangga mereka yang terjangkit. Barulah kemudian mereka mempercayai dan waspada terhadap penyebaran virus yang mematikan tersebut. Wallahu alam jangan sampai itu terjadi.

Umumnya masyarakat desa memiliki dasar berfikir teologis yang serba tanggung. Mulai dari yang mengaku paling beriman, hingga menjadi manusia pembela agama dengan mengorbankan segenap jiwa raga.

Sehingga, mereka merasa paling benar dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang melarang sholat Jumat bagi kaum Adam. Padahal kalaupun ditanya soalan dasar ayat alquran yang melandasi pemikirannya, pastilah mereka akan gagap menjawabnya. Apalagi kewajiban sholat lima waktu, tidak jarang dari mereka masih sering absen mendirikannya.

Tidak lucu juga rasanya lembaga sekaliber MUI, yang di bawahi oleh ulama-ulama kompeten yang tiada diragukan lagi keintelektualannya mengeluarkan fatwa keliru terhadap kemaslahatan hidup orang banyak.

Begitulah pandangan masyarakat desa saya dalam menghadapi pandemi Covid-19. Berdasarkan hasil riset saya terhadap puluhan pengunjung yang duduk berjam-jam bahkan hanya yang singgah untuk membeli jualan ibu saya.

Mereka mendadak menjadi manusia paling beriman dan menutup telinga terhadap kebenaran yang disampaikan oleh para pakar. Mereka senantiasa berpasrah dan menyerahkan nasib sepenuhnya pada Yang Maha Kuasa. Usaha-usaha agar bisa terhindar dari wabah ini tidak dilakukan, dan himbauan-himbauan dari pemerintah sepenuhnya tidak diindahkan.

Hal ini tentu sangat tidak dianjurkan oleh syari’at. Pasrah terhadap takdir juga tidak elok untuk diterapkan. Tuhan selalu menyuruh hambanya untuk selalu berusaha, termasuk berusaha agar melindungi diri dari wabah penyakit menular ini.

Kenyataannya, Covid-19 ini tidak boleh diremehkan penularannya. Penduduk bumi pun  geger dan seluruh penjuru dunia santer membicarakan keganasan virus ini. Virus mematikan tersebut terbukti telah merenggut ratusan ribu nyawa manusia di seluruh dunia. Meski tidak tampak secara visual, Covid-19 atau yang lebih di kenal dengan virus corona, nyatanya telah membuat manusia kehilangan akal dan kewalahan untuk mengantisipasinya.

Kasus virus corona yang menimpa Indonesia, terbilang cukup memprihatinkan. Pasalnya, dari hari ke hari statistik jumlah manusia yang terinfeksi, mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Semenjak awal bulan Maret, di kala presiden mengumumkan ada dua WNI yang terjangkit, hingga kini angka tersebut melonjak tajam melebihi angka 3000 jiwa. Berita-berita di televisi selalu menayangkan penambahan ratusan korban positif dan puluhan manusia meninggal akibat virus Covid-19 per harinya.

Melihat kondisi negara yang sedang tidak baik-baik saja, nurani siapa yang takkan tersentuh. Siapa pun yang berfikiran waras pasti sesak di kala melihat korban berjatuhan silih berganti. Tetapi, jangan jadikan kejadian tersebut, sebagai alasan bahwa ini adalah kehendak Tuhan, upaya-upaya untuk mem proteck diri tidak dilakukan. Nabi pun juga prepare dan menyiapkan ketahanan tubuh yang kuat sebelum berperang di medan juang. Jangan sampai salah satu dari kita nantinya menjadi korban, karena  terlalu mengganggap enteng wabah Covid-19 ini.

Mari dukung pemerintah untuk melakukan langkah-langkah strategis dalam mengatasi penyebaran Covid-19 ini. Sejauh ini evaluasi dari kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah,  masih belum membuahkan hasil yang menggembirakan. Hal ini disebabkan oleh masyarakat yang masih ngeyel dan tidak mentaati peraturan.

Di manapun warga negara Indonesia berada, baik yang tinggal di kota maupun di desa, baik pemerintah pusat maupun daerah. Mari bersatu  melawan pandemi ini dengan melakukan jaga jarak, menerapkan pola hidup sehat, lingkungan yang bersih dan rajin cuci tangan. Virus akan mati dengan sendirinya apabila kita juga siaga untuk menghadapinya.

Hidup dan matinya manusia adalah turut andil dari manusia itu sendiri. Tuhan hanya menuruti mekanisme yang telah ada. Termasuk kita bisa meninggal akibat coronavirus apabila kita tidak mengindahkan himbauan dari pihak berwenang. Jangan katakan anda meninggal karena Covid-19 itu adalah takdir, apabila anda masih tetap beraktivitas kongkow-kongkow ria tidak jelas berketentuannya.

Itu mati konyol namanya. Walaupun tinggal di kampung jangan santuy lagi yah, karena virus tidak memandang siapa kamu dan di mana kamu tinggal, untuk itu jangan gegabah.

Sri Haryati Putri
Associate Researcher di JC Institute, Alumni SKK-ASM 3, Penggiat Sejarah Kontemporer
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.