Sabtu, April 17, 2021

Corona dan Parodi Masyarakat

Benarkan PNS Tidak Produktif?

Pengawai Negeri Sipil atau PNS dalam kacamata masyarakat luas memiliki stigma tak bagus lantaran kurang produktif, kurang kompeten dan malas bekerja meskipun berbagai upaya...

Bom Surabaya dan Upaya Pemerintah Melawan Terorisme

Kejadian teror yang menimpa warga Surabaya khususnya bagi umat kristen di Gereja Kristen Indonesia, Gereja Santa Maria, dan Gereja Pantekosta membuat seluruh masyarakat berduka...

Pembangunan Tanpa Identitas di Jawa Barat

'Belajar dari kasus bandung dan Purwakarta'Akademisi sering mengatakan kalau 'Pembangunan yang tidak berpihak pada identitas dan Kebudayaan sama saja dengan mengasingkan Rakyatnya di tanah...

Pengabdi Beasiswa

Perkembangan minat studi di Indonesia kian hari kian tinggi. Walaupun kelas menengah ekonomi Indonesia terus meningkat, namun tidak mengurangi tingginya warga Indonesia untuk dapat...
Baikuni Alshafa
alumnus Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Malang. saat ini aktif sebagai seketaris Bidang Maritim dan Agraria di Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM)

“Gara gara corona arek sekolah prei, dodolanku sepi, gak onok sing tuku, aku wes gak nduwe duwek. Yow opo iki lur”. (Karena corona anak sekolah libur, jualan saya sepi, tidak ada yang beli, aku gak punya uang. bagaimana ini saudara).

“Corona- corona, goro-goro awakmu masker dadi longko, regane dadi larang, ngalah ngalahne regone mutiara”. 0po maneh semprotan tangan iku wes podo larang. (Gara-gara corona masker jadi langka, harganya mahal bisa mengalahkan harganya mutiara. Apalagi hand sanitizer juga ikut mahal).Begitulah petikan sebagian dari candaan sekaligus curhatan, menyikapi situasi pandemi Covid 19 dimata masyarakat.

Parodi masyarakat yang dilakukan dibeberapa media sosial menggambarkan kondisi saat ini. Sekilas menghibur, namun disadari atau tidak menjadi kenyataan yang dirasakan olehnya.

Sejak Covid-19 dinyatakan masuk pada minggu pertama bulan Maret 2020,  melanda Indonesia. Jumlah pasien positif hingga kini menjadi 579 (bisa bertambah atau berkurang). Korban meninggal pun meningkat sementara ini sudah 49 orang, sedangkan yang sembuh 30 pasien.

Angka ini boleh diperdebatkan dan bisa dibandingkan dengan Negara-negara terjangkit Pandemi yang serupa, dimana kurang lebih 121 Negara, Dunia dibuat kacau.

Sontak pemerintah serta masyarakat berbondong bondong untuk sosial distance, itu penting sihh untuk mencegah pandemi semakin meluas. Namun mungkin ada yang luput tidak masuk dalam hitungan dan tanggungan Negara sejak wabah Corona ini melanda.

Dimana selain pencegahan dan membayar hutang semakin menumpuk sejalan dengan nilai tukar Rp16.500;00/U$D terhadap dolar.  Yang mungkin negara luput ialah, tapiii saya tulis diakhir ajah ya hihi..

Setiap negara yang terkena dampak, sudah pasti berupaya mengusir pandemi jahat ini dari kemurkaan nya dimuka bumi. Karena jika tak kunjung terusir, maka akan semakin membuat lumpuh perekonomian dunia.

Tanpa harus perang konvensional ala perang dunia kedua tempoe doeloe. Katanya menurut banyak literatur, perekonomian menjadi lumpuh serta krisis kemanusiaan menjadi akut. Semoga aja Indonesia tidak ikut lumpuh, dan tetap sehat.

Namun tanda itu mulai menuai gejala dirasakan oleh banyak orang, seperti parodi masyarakat diatas (parodi di medsos). Oke memang bener pemerintah dan sebagian stack holder mengkampanyekan untuk sosial distance (jaga jarak) dan diam di rumah, serta tempat-tempat keramaian dipaksa diberhentikan.

Bahkan tenaga medis pun dengan semangat keberaniannya membuat jargon “Biar saya yang disini, kalian dirumah saja”. Memang semestinya harus begitu. Ahlinya bekerja untuk menolong terjangkit positif Covid 19, yang bukan ahlinya (tenaga pendukung) cukup diam dirumah. Begitulah edialnya.

Namun menyambung tanggungan negara yang luput tadi, masih ada pertanyaan kecil yang nyumpel (ganjil) mewakil parodi diatas. Bagaimana mau diam dirumah jika untuk makan dirumah saja susah, Tolong dong negara bantu jawab.

Jika yang bekerja aja gajinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Bagaimana dengan orang yang pengangguran? Cukupkah bertahan dengan mengisolasi diri selama 14 hari dirumah? Siapa yang mau ngasih makan masyarakat jika semua harus diam dirumah. Dilematis. Kecuali pemerintah mau mensubsidi kebutuhan masyarakat, selama pandemi Covid 19 ini melanda, sehingga yang mengisolasi diri dirumah juga tercukupi untuk bertahan hidup.

Baikuni Alshafa
alumnus Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Malang. saat ini aktif sebagai seketaris Bidang Maritim dan Agraria di Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.