Sabtu, Mei 8, 2021

Chairil di Sekitar Sjahrir

Open House dan Silaturahmi Senyap

Seperti biasanya, pada saat Hari Raya Idul Fitri, sejumlah pejabat negara menggelar acara Open House di kediamannya masing-masing. Acara gelar griya ini dimaksudkan sebagai...

Pemilu Partisipatif untuk Pemilu Demokratis

Integritas penyelenggara dan proses penyelenggaraan Pemilu adalah prasyarat penting dalam Pemilu, agar hasil dari pelaksanaan pemilu mendapat legitimasi secara konstitusional dari seluruh rakyat. Dalam kaitan...

Syariat dalam Kristen

Pertanyaan-pertanyaan seperti “Kok kamu enak ya ibadah cuma seminggu sekali, “orang Kristen apa sih makanan yang haram?” dan yang paling sering “nggak ada puasa...

Fatwa Mendiang Osama bin Laden

Dalam segala bentuknya, fundamentalisme adalah iman yang sangat reduktif. Dalam kecemasan dan ketakutan mereka, kaum fundamentalis sering mendistori tradisi yang coba mereka bela. Mereka...
Donny WS
Pembelajar sepanjang hayat.

Kita baru saja kehilangan Sapardi. Namun, kita juga memperingati hari lahir Chairil Anwar setiap tanggal 26 Juli. Ada yang datang dan pergi. Juli adalah bulan puisi.

Selama hidupnya, Chairil menyumbang corak baru dalam penulisan puisi dalam hal bentuk dan isi. Chairil berani keluar jalur dari tatanan sajak Pujangga Baru yang formal, lalu membuatnya menjadi lebih maju, bebas, dan modern.

Setiap tahun Chairil terus diburu, dibicarakan, dan dirayakan. Mengapa Chairil begitu fenomenal? Ada banyak faktor yang melatarbelakanginya. Salah satunya adalah peran dan pengaruh yang sangat besar dari Sutan Sjahrir.

Sjahrir dan Sastra Dunia

Saat masih tinggal di Medan, Chairil belum membaca karya-karya penyair Eropa. Menurut penelusuran Damiri Mahmud (2014), Chairil baru membacanya ketika tinggal di rumah Sjahrir dan melahap semua buku di perpustakaan pribadinya yang punya banyak koleksi buku sastra Belanda dan penyair Eropa lainnya seperti Marsman, Slauerhoff, E. du Perron, dan lainnya. Sjahrir menjadi pintu masuk Chairil bisa bergaul ke sastra dunia.

Sebagaimana dikisahkan Des Alwi (2008) dan Abu Bakar Loebis (1992), Chairil sangat suka membaca di depan lemari buku Sjahrir hingga berjam-jam lamanya atau sambil menunggu makan siang. Chairil memang seorang pembaca yang rakus.

Chairil beruntung pernah tinggal di rumah Sjahrir. Karena, selain pejuang dan pemikir, Sjahrir merupakan peminat sastra. Sjahrir bisa menjadi sparring partner Chairil dalam masalah kebudayaan dan sastra. Sjahrir punya pengetahuan yang luas tentang sastra Belanda dan Eropa. Sjahrir juga turut menyumbang pemikirannya tentang sastra dalam beberapa tulisannya yang terbit di majalah Pujangga Baru tahun 1933-1938. Dalam beberapa tulisannya itu, Sjahrir mengajak para sastrawan bergaul dengan karya pujangga besar dunia.

Selain itu, Sjahrir juga menegaskan bahwa sastrawan harus mempelajari kehidupan rakyat seluas-luasnya dan mengenal secara dekat. Hal ini sangat memengaruhi Chairil yang kemudian hidup di antara dua batas pergaulan: kaum intelektual dan rakyat jelata. Pergaulannya memang tanpa sekat dan batas. Misalnya, Chairil bersahabat dengan tokoh-tokoh bangsa, komponis, sastrawan, dan pelukis ternama. Chairil suka mampir ke sanggar para seniman, walaupun hanya sekadar menumpang makan, meminjam uang, atau mendeklamasikan sajak-sajaknya.

Tidak hanya bergaul dengan kalangan intelektual, Chairil sering juga suka bergaul dengan tukang becak, tukang loak, ikut tidur di kaki lima dengan para pengemis, bersenda gurau dengan mbok-mbok di gubuk, dan keluar masuk tempat lokalisasi bertemu pelacur Pasar Senen atau Pasar Kembang di Yogyakarta. Hal ini dilakukannya hanya untuk mengambil bahan, bahasa, dan inspirasi dalam menulis sajak yang bersumber dari kehidupan rakyat lapisan bawah.

Modal Sosial dan Intelektual

Di luar lapangan kesusastraan, Sjahrir secara langsung dan tidak langsung memengaruhi Chairil dalam aktivitas politik, filsafat, dan kebangsaan. Chairil sangat beruntung ketika hijrah dari Medan ke Batavia tahun 1941, langsung menumpang di tempat Sjahrir. Saat itu, Sjahrir sebagai tokoh politik sudah mempunyai modal sosial dan intelektual yang baik.

Modal sosialnya yaitu jaringan aktivis politik, sastrawan, pemuda pergerakan, dan lainnya. Banyak sekali tokoh-tokoh yang datang ke tempat Sjahrir hanya untuk diskusi. Melalui forum diskusi inilah terkadang Chairil dikenalkan oleh Sjahrir. Sedangkan, modal intelektual adalah pengetahuan Sjahrir dalam hal filsafat dan politik yang sangat luas.

Sjahrir, seperti halnya Chairil, juga seorang kutu buku. Sjahrir pengagum filsafat Nietzsche, eksistensialisme, dan Barat. Chairil senang mempunyai lawan debat dalam masalah filsafat. Sjahrir merupakan mentor pertamanya dalam filsafat sebelum penyair L.K Bohang.

Dalam sepucuk suratnya kepada istrinya tanggal 17 Maret 1936, Sjahrir menulis: “Nietszche itu kebudayaan. Nietszche itu seni. Nietszche itu jenius.” Selain itu, dalam suratnya tanggal 31 Desember 1936, Sjahrir mempunyai pikiran tentang konsep Barat: “Barat bagiku berarti kehidupan yang menggelora, kehidupan yang mendesak maju, kehidupan dinamis. Itulah sifat Faust, sifat yang kusukai.” Jika kita melacak beberapa sajak, prosa, dan pemikiran Chairil kental sekali pengaruh Nietzsche, eksistensialisme, dan Barat. Dalam hal ini, ada kemiripan corak pemikiran antara Chairil dan Sjahrir: kebebasan individu.

Chairil beruntung mendapatkan akses sosial dan intelektual dari Sjahrir. Chairil bisa dengan mudah diterima oleh jaringan Sjahrir. Chairil jadi mempunyai banyak teman dari berbagai kalangan. Hal ini kemudian yang menyebabkan Chairil aktif berjejaring dengan pemuda-pemuda kemerdekaan di markas pemuda Menteng 31, Prapatan 10, dan Cikini 71.

Jejak-Jejak Chairil

Di zaman pendudukan Jepang, Jepang melakukan penyegelan radio. Hal ini bertujuan untuk alat propaganda dan kontrol politik. Semua siaran radio luar negeri diputus, kecuali radio Jepang yang ada di bawah pengawasan Nippon Hoso Kyokai. Jika ada yang ketahuan mendengarkan radio luar negeri, hukumannya bisa dibunuh Kempetai.

Sjahrir mempunyai radio gelap bermerek Philips yang tidak disegel dan disembunyikan dalam lemari di kamar tidurnya. Sjahrir mendapatkan radio gelap itu dari Chairil.  Chairil mendapatkan radio tersebut dari perempuan Indo-Belanda seharga 125 gulden yang sedang kesulitan ekonomi. Sebelum tahun 1945, Chairil dan Des Alwi memang pernah dimodali Sjahrir untuk usaha jual beli barang bekas. Salah satu yang dibeli adalah radio tersebut dan digunakan Sjahrir untuk kegiatan memantau siaran BBC London atau VOA (Voice of America).

Pada tanggal 10 Agustus 1945, dari radio yang diberikan Chairil, Sjahrir mendapat berita penting: “Amerika Serikat telah menjatuhkan bom atom kedua di Nagasaki dan pemerintah Jepang mendapat ultimatum Sekutu agar menyerah saja sebab kalau tidak akan dibom atom lagi”.

Sjahrir meminta Chairil untuk menginformasikan berita ini kepada kalangan pemuda pergerakan, seniman pro kemerdekaan, dan lainnya. Dalam kisah di buku Soebadio Sastrosatomo (1995), Chairil datang pukul 10.00 WIB ke Komite Bahasa Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur No 23. Chairil menemui Soebadio untuk menyampaikan pesan ini. Soebadio lalu meneruskan pesan ini kepada simpul-simpul pemuda pergerakan lainnya yang berujung kepada peristiwa Rengasdengklok dan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Chairil terbukti mengambil peran dalam upaya kemerdekaan Indonesia. Tanpa peran Chairil, kemungkinan peristiwa Rengasdengklok dan pembacaan proklamasi kemerdekaan tidak akan terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Ada beberapa jejak-jejak Chairil di balik kemerdekaan Indonesia. Sekarang kita tahu, Chairil tidak hanya penyair, tapi juga pejuang.

Kini, di hari ulang tahunnya, Chairil ada baiknya kita posisikan bukan sebagai mitos tentang kejalangan, tapi sebagai ide. Chairil sebagai ide. Ide tentang kebebasan, pikiran maju, keberanian, ketekunan, dan kreativitas.

Selain itu, kita juga harus selalu ingat dibalik “kebesaran” Chairil, jangan pernah melupakan sosok Sjahrir.

Donny WS
Pembelajar sepanjang hayat.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.