Minggu, April 18, 2021

Capres 2024: Anies atau Prabowo?

Reformulasi Tafsir Jihad

Salah satu doktrin Islam yang paling banyak menimbulkan kontroversi dalam penafsirannya adalah perintah jihad. Dalam kitab-kitab klasik, pembahasan tentang jihad selalu disatukan dengan kasus...

Cyberdemocracy Kekuatan Politik Alternatif

Kondisi sekarang memperlihatkan bagaimana publik telah masuk kepada tahap penggunaan internet sebagai instrumen counter power, melakukan kontestasi kekuasaan atas pemahaman dalam bernegara. Publik sedang melakukan...

Kurt Cobain, Grunge, dan Feminisme

Menikmati musik rock bagi sebagian orang dapat membangkitkan mood mereka pada saat bekerja bahkan mampu membelalakan mata saat mengantuk. Dentuman drum yang bertalu-talu dengan tempo yang...

Deforestasi Merusak Hutan Kalimantan

Secara harfiah deforestasi biasa diartikan sebagai kehilangan hutan. Terkait dengan deforestasi menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 70 tahun 2017 tentang tata...
Muhammad Rafiq
Alumni Fakultas Hukum Universitas Tadulako | Peminat politik hukum

Beberapa lembaga survei di awal 2020 berlomba-lomba mengeluarkan hasil survei Pilpres 2024 tentang siapa nama-nama yang bakal maju sebagai capres. Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan digadang-gadang menjadi kandidat terkuat.

Setidaknya ada tiga lembaga survei yang mengeluarkan hasil survei capres 2024, yakni Indo Barometer, Parameter Politik Indonesia (PPI) dan Politika Research and Consulting (PRC), serta Media Survei Nasional (Median). Ketiga lembaga itu menempatkan sosok Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan masuk dalam radar capres 2024.

Indo Barometer misalnya, menyatakan Prabowo paling teratas dengan elektabilitas 22,5 persen disusul Anies 14,3 persen. Kemudian survei PPI dan PRC, Prabowo berada di posisi teratas dengan tingkat elektabilitas 17,3 persen.

Survei yang dilaksanakan sejak awal Februari 2020 dengan tingkat kepercayaan 95 persen, menempatkan Prabowo Subianto berada di atas angina dari Sandiaga Uno. Sedangkan nama Anies Baswedan terhempas jauh selisihnya dengan Prabowo.

Sedangkan, dari hasil survei Median  menyebut Anies Baswedan dan Prabowo Subianto menjadi dua tokoh favorit untuk maju di Pilpres 2024. Dari hasil survei itu, Prabowo meraup 18,8 persen suara, sementara Anies Baswedan dengan 15,8 persen.

Kalangan pengamat, politisi hingga akademisi menilai ketiga hasil survei itu masih terlalu dini. Meski temuannya untuk mengantisipasi dinamika politik menjelang Pilpres 20204. Di sisi lain, ada upaya branding untuk mendongkrak popularitas dua nama itu.

Bahkan pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai ada upaya mempromosikan dan menjegal nama-nama tersebut. Tapi itu hal biasa dalam politik, segala sesuatu biasa saja berubah, bisa saja bertahan sampai waktunya tiba.

Meski begitu, sepasang mata kita tertuju kepada dua nama itu. Saat ini mereka digadang-gadang sebagai kandidat capres 2024. Sosok Anies Baswedan terus menjadi bahan pembicaraan saat kasus lem aibon hingga masalah banjir. Lalu Prabowo Subianto mendapat standing aplous karena kiprahnya memimpin kursi Menteri Pertahanan RI.

Masalah banjir membuat nama Anies Baswedan dicap tidak mampu mengurusi satu masalah itu. Segudang komentar dilayangkan dengan sedikit ‘bumbu’ politik, bahwa figur yang satu ini tidak cocok menjadi capres. Ini alasan sederhana merubah opini public dan kini masalah banjir menjadi mainan politisi.

Sedangkan sosok Prabowo Subianto sempat mendapat komentar miring saat dirinya tidak menjawab pertanyaan para anggota DPR RI soal anggaran pertahanan, upaya China merebut Pulau Natuna hingga komitmennya sebagai menteri pertahanan. Namun komentar itu tidak meruntuhkan elektabilitas sebagai menteri turun.

Meskipun dua sosok itu terus diterjang badai, namun yang pasti masih menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Tidak menutup kemungkinan jelang kontestasi politik Pilpres, Anies Baswedan dan Prabowo Subianto menjadi kandidat Capres.

Mengenai analisis itu, ada baiknya kita menyimak hasil survey Indonesia Elections and Strategic (indEX) Research. Survei itu mempredksi PDIP kembali unggul di pemilihan legislatif. Terbukti hasil pemilu 2019 PDIP meraih elektabilitas 28,7 persen.

Sedangkan Gerindra membayangi dengan elektabilitas 14,3 persen. Lalu diikuti tiga parpol lainnya, yakni Golkar dengan persentase 9,4 persen, PKS 6,2 persen, dan PKB 5,1 persen.  Sementara untuk suara Demokrat diperkirakan sebesar 3,5 persen, disusul PPP (3,0 persen), Nasdem (2,6 persen), dan PSI (2,5 persen).

Jangan dilupa, PSI mengalami peningkatan elektabilitas jika dibandingkan perolehan suara pada Pileg 2019 lalu yang hanya meraih 1,89 persen. Meskipun tidak memiliki kursi di senayan, namun berhasil menguasai satu fraksi di DPRD DKI Jakarta.

Menarik dari ulasan itu, Gerindra perlu koalisi dengan PDIP jika ingin memenangkan Pilpres 2024. Entah nama yang muncul adalah Anies Baswedan atau Prabowo Subianto, namun yang pasti hanya ada satu nama. Wakilnya terserah siapa saja, mungkin Puan Maharani.

Wacana itu bisa saja terjadi mengingat Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon berharap perjanjian batu tulis PDIP dengan Gerindra dapat diwujudkan pada 2024. Perjanjian yang dibuat 2009 itu, salah satunya berisi PDIP akan mengusung Ketum Gerindra Prabowo Subianto sebagai capres di 2014.

Penggabungan kekuatan Gerindra dan PDIP itu sudah cukup kuat.  Selain itu, mungkin saja menambah koalisinya dengan PKS. Mengingat, PKS memiliki pemilih yang solid dan terorganisir.

Penjelasan Sekjend DPP Gerindra Ahmad Muzani tentang Prabowo Subianto yang bergabung dalam kabinet Jokowi bukan tanpa alasan. Salah satu visi saat kampanye Pilpres 2019, dicicil satu persatu. Salah satu misinya adalah soal pertahanan Negara.

Setelah misi itu dijalankan, ada kemungkinan menjajaki misi lainnya. Itu bisa terjadi mengingat Prabowo Subianto mendapat kepercayaan publik melalui jabatannya sebagai Menteri Pertahanan RI.

Di sisi lain, Anies Baswedan bisa jadi mendapat restu dari Gerindra untuk maju Capres. Hasil Lembaga Survei Median mengatakan mayoritas publik yang suka Aksi 212 memilih Gubernur Anies Baswedan sebagai Capres 2024. Optimisme juga datang dari Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI) yang mendukung Anies Baswedan sebagai capres. Meskipun pada akhirnya pada deklarasi.

Selain itu, Nasdem juga mengutarakan dukungan Anies Baswedan sebagai capres 2024. Walaupun mendapat cibiran dari Gerindra, namun yang pasti sudah memberikan efek magic bagi Anies Baswedan.

Pada akhirnya, entah Prabowo dan Anis berpasangan atau saling berlawanan, Pilpres 2024 menjadi panggung mereka. Sederet nama-nama yang masuk dalam radar lembaga survei, seperti AHY, Ganjar Pranowo, Trismaharani dan Ridwal Kamil, dimungkinkan hanya terpasang sebagai wakil presiden. Elektabilitas mereka belum mampu melampaui Anies Baswedan dan Prabowo Subianto.

Muhammad Rafiq
Alumni Fakultas Hukum Universitas Tadulako | Peminat politik hukum
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Perlukah Produk Riset Perguruan Tinggi Dipatenkan?

Salah satu tugas perguruan tinggi (PT) adalah melaksanakan penelitian atau riset sebagai bagian dari Tri Dharma PT. Produk-produk riset yang dihasilkan tentu saja berpotensi...

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.