Sabtu, Mei 8, 2021

Buruh “Yang Salah” dalam Wacana Kesetaraan Demokrasi

Mengutuk Israel, AS, dan Yahya

Umat Islam terlalu sering mengutuk Israel dan Amerika Serikat (AS) bahkan telah over dosis. Dalam kasus Palestina, mengutuk Israel sia-sia saja. Israel tidak memiliki...

Menalar Nikah Siri

Isu nikah siri atau nikah di bawah tangan alias tidak dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah kembali mengemuka setelah Aris Wahyudi pemilik situs nikahsirri.com, mendeklarasikan...

Membela Gus Muwafiq dari Hoaksnya NU Garis Lurus

Saat tulisan ini dibuat, di media daring sedang menyeruak kontroversi ceramah Gus Muwafiq yang seolah "merendahkan Nabi Muhammad". Kontroversi itu dikarenakan isi potongan video...

“Literation Cycle” dan Anti Sentimen dalam Al-Qur’an (1)

Al-Qur’an merupakan pedoman ajaran agama Islam. Al-Qur’an berisikan pesan, tuntunan dan jalan terbaik dari Allah SWT. yang tiada hentinya dilakukan proses telaah oleh umat...
Avatar
Nihaya Rina
Penulis Independent

Seakan tidak pernah lepas perselisihan antara buruh dan demokrasi di Indonesia. Problematika Omnibus Law yang terus menarik pita suara para aktivis dan buruh untuk semakin merongrong penolakan.

Pandemi covid-19 segera mengambil alih lainnya, menurut Federasi Serikat Buruh Lintas Pabrik (FBLP) sebanyak 800 anggota mereka dirumahkan tanpa upah dan dilansir dalam media lain sebanyak 2.084.593 buruh mengalami imbas ekonomi dan 241.341 buruh di PHK. Dibalik kerisuhan mengenai buruh pemikiran Jacques Ranciere seorang filsuf Prancis menemukan relevansinya dalam menjajaki labirin pembahasan demokrasi, korban, mereka yang termarjinalkan, emansipasi dan politik.

Berangkat dari pemikiran Ranciere, Sri Indiyastutik terpesona untuk mengangkatnya ke dalam refleksi bukunya untuk menjelaskan persoalan disensus demokrasi dan buruh hari ini. Kontemplasi simetris dengan pertanyaan yang selalu dipertanyakan tiap tahun di May Day yang selalu sama, mengapa dominasi elite langgeng dalam tatanan kehidupan masyarakat demokratis yang mewacanakan kesetaraan.

Berawal dari Ranciere menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pemerintah Prancis melakukan kekerasan terhadap demostran imigran Al-Jazair yang meminta di menuntut di hentikannya perang.

Nyatanya, tingkah laku aparat keamanan justru tidak memberikan keamanan semestinya dengan adanya pemukulan dan pembunuhan terhadap demonstran. Setelah kejadian tersebut banyak publikasi buah pemikiran Ranciere mengenai kesetaraan. Baru-baru ini Jokowi akan melakukan kebijakan pembukaan lahan baru akibat pandemic covid-19. Konflik agraria antara warga dan aparat bukanlah hal baru, Ranciere mungkin akan menarasikan hal ini setiap kali pembukaan lahan jika ia tinggal di Indonesia.

Benih awal pertumbuhan Ranciere dapat diawali melalui pendefnisian the wrong dan kesetaraan. Sri Indiyastutik mengartikan the wrong sebagai yang salah. Dengan elaborasi bahwa mereka adalah orang-orang yang menjadi bagian dalam tatanan sosial, tetapi tidak ada dalam tatanan dapat dibayangkan mereka adalah para buruh, petani Kendeng, buruh Megariamas hingga konflik Omnibus Law.

Mereka yang dianggap mengganggu tatanan sosial elite karena menolak pembangunan pabrik. Sementara itu menurutnya kelompok yang dihitung adalah mereka yang menempati bagian-bagian dalam tatanan sosial dan mengampu peran yang dianggap berguna, kaum elite ekonomi hingga elite pejabat memiliki peran ini.

Kasus aksi menyemen kaki para petani Kendeng dengan tuntutan terhadap proyek yang menurut peneliti akan merusak daerah, merusak penyimpanan air dan mengancam pasokan air bersih. Para petani Kendeng adalah contoh the wrong, karena keberadaannya dianggap mengganggu berjalannya proyek semen dan argumentasi mereka terhadap pelestarian tertolak karena tidak cukup memadai disandingkan dengan pakar proyek yang menganggap itu bukanlah masalah.

Permasalahan paling mendasar mendukung lainnya adalah kurangnya emansipasi intelektual dalam tatanan sosial kita dan dilanggengkan seperti itu. Privilege terhadap intelektual seseorang berdasarkan asal “lulusan sekolah” masih kental diukur dibandingkan pengalaman langsung tanpa pendidikan formal. Hal ini menemukan relevansinya pada saat kasus Kendeng lolos Amdal (analisis dampak lingkungan) yang digunakan perusahaan dan di “iya” kan pemerintah setempat.

Padahal dibalik itu debu semen yang dibawa angin ke pemukiman warga akan mengancam kesehatan hingga ancaman gangguan air yang berujung gagal panen bagi para petani lokal. Emansipasi intelektual dapat menghasilkan kesetaraan akal budi bagi setiap manusia terutama para kaum buruh. Kesetaraan sebagai sesama manusia yang hidup.

Cukup jelas acapkali yang terjadi di masyarakat buruh adalah logika dibalik pembagian tempat, perang, fungsi dan kelayakan. Perselisihan yang dilakukan the wrong bukanlah tentang identitas. Mereka bersuara karena merasakan dampak negatif dan kerugian ekonomi bahkan hingga ancaman kebutuhan primer karena pendapat mereka luput dihitung agar menjadi bagian dari tatanan sosial.

Demokrasi adalah disensus, perselisihan, ungkap Ranciere. Inilah panggilan kepada orang-orang yang berpetuslsng menemukan kesetaraan dan berlapang dada menerima perbedaan.

Avatar
Nihaya Rina
Penulis Independent
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.