Senin, Mei 17, 2021

Bukan Kuantitas, Tapi Kualitas Petani 4.0

Cak Imin dan Balihonya

Di sebuah pagi yang gerimis, di sebuah warung kopi Bu Supinah, sekumpulan anak muda tiba-tiba menyeletuk “Cak Imin, mendeklarasikan diri jadi Cawapres”. Kemudian hujan...

Hanya di Indonesia, Politik Hoax Kalah

Kemurkaan terhadap Jokowi semakin bertambah-tambah. Strategi proganda firehouse of falsehood tidak berdaya mengalahkan figur yang terlanjur stigma plonga-plongo ini. Komisi Pemilihan Umum (KPU) secara resmi...

Pilpres 2019: Geliat Oligarki dalam Pesta Demokrasi

Sejak 1999, Indonesia telah memulai proses elektoralnya secara lebih terbuka. Pemilihan Umum April mendatang merupakan kali kelima dalam sejarah Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden....

Puan Maharani dan Capaian Prestatif Pembangunan Pendidikan

Soal kerja dan kinerja Puan Maharani, maka (lagi-lagi) kita harus berpatokan pada angka, data, dan fakta di lapangan. Tentu semuanya memerlukan proses untuk menuju...
Rahmat Zuhair
Mahasiswa Institut Pertanian Bogor

Era disrupsi 4.0 memaksa sebuah peradaban untuk menjadi pelari yang sangat cepat dari pada yang lainnya, era dimana slogan “Siapa cepat dia dapat” patut untuk disematkan.

Pendiri bangsa ini mengatakan bahwa masalah pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa, tentu itu akan menjadi sebuah pengingat bagi kita bahwa untuk mempertahankan suatu kehidupan kita tidak dapat dipisahkan dari yang namanya pertanian.

Keberlangsungan sebuah bidang dalam menyokong kehidupan adalah tergantung dari apakah bidang tersebut mampu menghasilkan sebuah manajemen resiko ketika bidang tersebut tidak dapat lagi bergerak atau dengan kata lain orang orang yang berkecimpung didalamnya berkurang karena batasan umur ataupun hal hal lain yang tidak diduga.

Sektor pertanian saat ini menjadi fokus perhatian pemerintah. Kementerian pertanian dalam sebuah artikel mengatakan bahwa akan mempersiapkan sejumlah 1 juta petani millenial (merdeka.com, Januari 2019)

Menjadi seorang petani adalah pekerjaan yang mulia (secara filosofisnya seperti itu) tetapi ketika dipandangan dengan realitas yang terjadi dimasyarakat khususnya di Indonesia, menjadi petani adalah pekerjaan yang tidak memberikan pemasukan yang kurang secara ekonomis dan rendah secara klasifikasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Merupakan PR besar bagi pemerintah khususnya Kementerian Pertanian untuk menyiapkan pertanian masa depan yang tetap dapat memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Berdasarkan hasil survey LIPI hampir tidak ada anak petani yang ingin menjadi petani. Sekitar 4% usia 15-35 tahun berminat menjadi petani. Dan yang lebih mencengangkan adalah dari jumlah petani yang ada sebanyak 65% merupakan masyarakat usia 45 tahun keatas.

Sebuah musibah jangka panjang yang dialami Indonesia jika hal ini dibiarkan terus menerus. Tetapi solusi menambah atau mengarahkan setiap anak muda untuk menjadi buruh tani ataupun petani (yang langsung terjun ke sawah) adalah solusi yang keliru di era 4.0 ini. Jadi solusi yang bagaimana yang harus diambil?

Pengubahan paradigma pertanian pada era 4.0 ini menjadi sangat penting yaitu mengubah dari pertanian konvensional menjadi pertanian yang efisien dan efektif dengan menggunakan pendekatan teknologi informasi yang tersedia di era sekarang.

Ketika pemerintah gagal menyiapkan generasi penerus dibidang pertanian dapat dikatakan bahwa 20 tahun yang akan datang pemerintah telah gagal menjamin keutuhan dan kelangsungan hidup bangsa Indonesia.

Pendekatan persiapan generasi pengelola pertanian di era sekarang bukan dengan melahirkan sebanyak banyaknya buruh tani yang langsung memanggul pacul dan menanam di sawah, tetapi dengan memastikan bahwa disuatu wilayah atau desa terdapat tenaga ahli (usia muda) yang mengerti cara cara menggunakan drone dan manajemen farm farm ataupun lahan lahan pertanian.

Ketika petani millenial itu mampu berlari diera yang memaksa kita untuk berlari ini dengan kecepatan yang tinggi maka sebuah sektor pertanian impian dan berkelanjutan akan dirasakan oleh Indonesia di 20 tahun yang akan datang. Yang diperlukan oleh pertanian saat ini adalah sumberdaya manusia yang berkompeten dan tersertifikasi.

Rahmat Zuhair
Mahasiswa Institut Pertanian Bogor
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.