“Kita hidup di zaman yang menjunjung tinggi akan kebebasan. Semua orang didorong untuk tampil, berbicara, dan bekerja tanpa henti. Dan rasanya, generasi sekarang lebih bebas jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelummnya.”
Begitulah kira-kira pandangan Byung-Chul Han atas kondisi masyarakat “modern” saat ini, dikutip dalam bukunya The Burnout Society (2010). Han merupakan filsuf berdarah Korea yang menaruh banyak perhatiannya pada perkembangan dunia digital. Han acapkali mengkritik budaya digital, media sosial, dan bagaimana cara kerja kapitalisme modern. Ia melihat masyarakat modern saat ini tidak lagi dikendalikan oleh sistem yang kasar dan menakutkan, sebagaimana sistem dalam sekolah, penjara, kantor, dan lainnya. Melainkan, adanya sebuah sistem yang mendorong untuk terus-menerus menjadi lebih baik, lebih ideal, dan lebih “produktif”.
Tidak jauh sebenarnya jarak antara Han dan Foucault. Namun, pemikirannya bertolak belakang. Bagi Foucault, masyarakat modern dibentuk oleh kedisiplinan, sekolah mengajarkan kepatuhan, pabrik-pabrik menuntut untuk teratur, rumah sakit mengatur tubuh, dan penjara menghukum orang-orang yang melakukan pelanggaran. Dan pesan yang disampaikan didalamnya adalah “kamu tidak boleh…”. Kalimat ini mengandung batas yang jelas antara yang dizinkan dan yang dilarang.
Memang saat ini larangan masih ada, namun suasananya sangatlah berbeda. Larangan tidak begitu terasa. Yang kentara saat ini adalah dorongan positif, “kamu bisa…”. Kamu bisa sukses jika kamu berusaha, kamu bisa sehat jika disiplin, kamu bisa terkenal jika konsisten membangun citra. Seolah-olah dunia memberikan ruang tanpa batas bagi semua orang.
Jika hanya melihat secara sekilas mata, maka akan terdengar seperti berita yang turun dari surga, karena tidak ada lagi tembok yang menghalangi untuk mencapai sesuatu di zaman sekarang. Namun, Han melihat terdapat kejanggalan didalamnya. Menurutnya, ketika semua orang diyakini bahwa mereka “bisa”, maka ketika mereka mendapati kegagalan, itu akan menjadi beban pribadi. Kesalahan akan dianggap bersumber dari dirinya sendiri, bukan lagi pada sistem.
Berangkat dari sinilah, kemudian “tekanan” mulai bekerja. Tekanan bukan lagi sebagai paksaan dari luar, melainkan sebagai tuntutan yang dibuat oleh dirinya sendiri. Kita “harus” bergerak, “memperbaiki diri”, dan terus “membuktikan kemampuan”.
Han menyebut zaman saat ini sebagai zaman “Achievement Society”. Dimana kita tidak lagi diperintah untuk patuh, melainkan didorong untuk berprestasi. Kita tidak lagi dikontrol oleh larangan, melainkan oleh ambisi. Dan ambisi sangat berbeda dengan larangan, ambisi tidak pernah mengenal kata “cukup”.
Akibatnya menurut Han adalah munculnya kelelahan yang khas, yang berbeda dari kelelahan yang dirasakan oleh zaman-zaman sebelumnya. Kelelahan yang bukan hanya sebatas fisik, melainkan juga kelelahan batin.
Tekanan yang Bersumber dari Dirinya Sendiri
Dulu, orang merasa tertekan karena aturan dari luar, atasan yang galak, aturan kantor yang ketat, atau norma sosial yang keras, sekarang bentuk tekanannya muncul dari dalam diri. Tidak ada yang benar-benar memaksa kita bekerja sampai tengah malam, tetapi kita merasa bersalah jika tidak melakukan. Tidak ada yang memaksa kita membuka media sosial setiap jam ataubahkan menit, tetapi kita takut tertinggal informasi atau trend yang sedang viral.
Kita hidup dalam suasana persaingan yang halus. Kita ingin terlihat aktif, produktif, dan terus berkembang. Kita tidak ingin dianggap kalah. Tanpa sadar, kita membandingkan diri dengan teman lama, rekan kerja, bahkan orang yang tidak kita kenal di internet. Melihat pencapaian orang lain sering membuat kita merasa harus melakukan lebih banyak.
Menurut Byung-Chul Han, keadaan ini adalah bentuk self-exploitation, yaitu ketika seseorang mengeksploitasi dirinya sendiri. Jika dalam Marx, ia membedakan peran budak dan peran tuan, maka dalam kasus ini, Han menyebutnya budak sekaligus tuan. Dimana diri menjadi tuan untuk hasrat yang tak pernah padam, sedangkan badan menjadi budak yang bekerja tanpa mengenal waktu.
Tekanan seperti ini terasa lebih “lembut” karena tidak datang dari luar. Ia muncul dalam bentuk ambisi, motivasi, dan keinginan untuk berhasil. Namun karena datang dari dalam, tekanan itu sulit dihentikan. Tidak ada jam kerja yang jelas. Tidak ada batas yang tegas antara waktu kerja dan waktu istirahat. Bahkan saat sedang bersantai, pikiran kita masih dipenuhi rencana dan kekhawatiran untuk bekerja.
Kita tidak lagi lelah karena terlalu banyak “tidak boleh” atau larangan sistem. Melainkan kita lelah karena terlalu banyak “bisa”, dan merasa harus memanfaatkan semua kemungkinan itu sekaligus untuk mencapai libido yang tiada ujung.
Tidak Ada Ruang bagi Kata “Cukup”
Di zaman sekarang, hampir semua hal dinilai dari seberapa “berguna” dan “menghasilkan” sesuatu. Produktivitas tidak lagi terbatas pada pekerjaan di kantor atau usaha mencari nafkah. Ia masuk ke hampir seluruh bagian hidup kita.
Tubuh misalnya, saat ini tidak hanya cukup sebatas sehat saja. Melainkan harus ideal, cantik dan ganteng, dan harus terus dipoles. Langkah kaki dihitung, kalori dicatat, jam tidur dipantau. Pikiran juga harus selalu fokus dan efisien. Jika sulit berkonsentrasi, kita merasa ada yang salah dan harus segera diperbaiki.
Waktu luang pun tidak benar-benar bebas. Liburan harus tetap produktif, belajar hal baru, membaca buku pengembangan diri, mengikuti kursus daring. Hobi tidak lagi sebatas kesenangan dan hiburan, melainkan harus diarahkan untuk komoditas yang bisa menguntungkan. Bahkan pertemanan kadang dinilai dari manfaatnya; apakah bisa menambah relasi, membuka peluang, atau memperluas jaringan.
Dalam suasana tersebut, kita jarang merasa cukup. Setiap kali satu target tercapai, muncul target berikutnya. Standar terus naik. Media sosial memperlihatkan orang-orang yang tampak lebih berhasil, lebih mapan, dan lebih produktif. Tanpa sadar, kita ikut menyesuaikan ukuran keberhasilan kita berdasarkan apa yang kita lihat.
Produktivitas akhirnya bukan lagi sekadar soal bekerja dan menghasilkan uang. Ia berubah menjadi ukuran nilai diri. Orang yang sibuk dianggap penting. Orang yang jadwalnya penuh dianggap sukses. Sebaliknya, orang yang lebih santai sering dicurigai dan dianggap sebagai orang yang malas dan kurang berambisi dalam hidup.
Akhirnya, “Kebebasan” saat ini barangkali dapat diartikan ketika kita bisa memilih untuk tidak selalu mengejar, tidak selalu mengikuti tren yang sedang viral, dan tidak selalu untuk menjadi pribadi untuk orang lain.
