Keresahan adalah perasaan tidak tenang, gelisah, gugup, atau galau yang menimbulkan kekacauan batin, sering kali disertai gejala fisik seperti detak jantung cepat atau perilaku gugup. Keresahan juga bisa diartikan sebagai bagian hidup yang paling sering kita jauhi, padahal justru di situlah kita menemukan cermin paling jujur tentang diri. Inilah yang mengingatkan kita, bahwa rasa gelisah bukan sekadar gangguan emosional, melainkan tanda bahwa ada sesuatu dalam hidup yang sedang meminta perhatian. Kita harus berhenti sejenak dari kekacauan tuntutan kehidupan, lalu menatap baik-baik perasaan yang selama ini disembunyikan.
Inilah yang kami sebut sebagai pendekatan yang lembut, namun efektif dalam mencapai sasaran. Tidak ada ceramah berat atau teori rumit, tetapi refleksi-refleksi sederhana yang terasa dekat dengan pengalaman banyak orang, misalnya lelah karena ekspektasi, kehilangan arah, atau merasa harus terus terlihat baik-baik saja Intinya, kita semua adalah manusia yang tidak dituntut untuk selalu kuat, terkadang cukup dengan mengakui apa yang sedang dirasakan.
Pada akhirnya, perasaan gelisah dapat berfungsi sebagai pengingat bahwa keresahan bukanlah musuh yang harus dihindari, melainkan pesan penting yang menuntun kita menuju pemahaman diri yang lebih dalam. Dengan menyadari hal ini, kita sering kali dapat mendengar suara hati yang selama ini terabaikan. Selain itu, kita juga perlu menyediakan ruang bagi diri sendiri untuk menemukan jawaban atas keresahan tersebut. Jawaban ini dapat ditemukan melalui keberanian kita dalam membaca dan memahami makna yang tersembunyi di balik kegelisahan-kegelisahan kecil.
Menerima Diri
Menerima diri bukan sekadar memahami kelebihan, tetapi juga berdamai dengan bagian-bagian yang selama ini kita anggap mengganggu. Dalam konteks ini, penerimaan diri digambarkan sebagai proses lembut yang tidak memaksa, namun perlahan mengajak kita melihat bahwa ketidaksempurnaan bukan cacat, melainkan karakter. Sebab, tidak ada ruang untuk tumbuh jika kita sibuk memusuhi diri sendiri.
Proses menerima diri juga berarti mengakui bahwa kita tidak selalu kuat. Ada hari di mana gelisah datang tanpa pintu, dan tidak apa-apa jika kita tidak sanggup menampung semuanya. Justru dengan menerima keadaan tersebut, kita memberi ruang bagi diri untuk bernapas. Namun demikian, menerima diri bukan berarti berhenti memperbaiki, tetapi berhenti memaksa diri untuk selalu terlihat baik.
Pada akhirnya, penerimaan diri adalah dasar dari ketenangan. Saat kita berhenti mengukur diri dengan standar orang lain, kita mulai menemukan ritme hidup yang lebih jujur. Dengan kata lain, menerima diri bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari hubungan yang lebih sehat antara pikiran, perasaan, dan langkah-langkah kecil menuju hidup yang kita inginkan.
Pesan Tersembunyi
Setiap keresahan menyimpan pesan, tetapi sering kali kita terlalu sibuk menolak atau menutupinya sehingga tidak pernah sempat membacanya. Padahal, di balik setiap gelisah, ada sesuatu yang ingin diberitahukan, yaitu kebutuhan untuk istirahat, keinginan untuk berubah, atau sinyal bahwa ada batas yang selama ini kita biarkan dilanggar. Pesan-pesan ini hanya bisa terbaca jika kita berani menghadapinya.
Keresahan tidak datang untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memberi arah. Kita harus memandang gelisah sebagai kompas emosional. Misalnya, kecemasan yang muncul berulang kali bisa jadi bukan musuh, tetapi alarm bahwa kita berada di jalur yang tidak sesuai dengan nilai personal. Dengan membacanya sebagai pesan, bukan ancaman, kita dapat melakukan koreksi hidup yang lebih bijak.
Intinya, pesan tersembunyi dari keresahan sering kali sederhana, yaitu dengarkan dirimu, lihat kebutuhanmu, dan berikan ruang untuk berubah. Keresahan mungkin tidak menyenangkan, tetapi ia jujur. Dan kejujuran inilah yang membuatnya layak diperhatikan. Dengan demikian, pesan-pesan kecil ini bisa menjadi pijakan untuk langkah-langkah yang lebih bermakna.
Mendengarkan Emosi yang Diabaikan
Secara tajam menyoroti kecenderungan sosial yang umum terjadi, seperti keinginan untuk selalu menampilkan citra “baik-baik saja” di hadapan publik dan lingkungan. Di balik upaya keras ini, tersembunyi sebuah realitas internal yang bertolak belakang, yaitu penimbunan gejolak perasaan, kegalauan yang mendalam, ketakutan yang tak terucapkan, serta berbagai bentuk ketidakpastian eksistensial. Keadaan ini menciptakan pemutusan antara diri luar yang terlihat tegar dan diri dalam yang penuh pergolakan.
Kita didorong untuk menghentikan tindakan perlawanan yang secara otomatis kita lakukan terhadap munculnya emosi yang dianggap tidak nyaman atau negatif. Alih-alih merespons dengan berusaha menutupinya dengan pengalihan, kita harus mulai mempraktikkan pemberian ruang yang otentik bagi emosi-emosi tersebut. Biarkan emosi-emosi tersebut “berbicara” atau menyampaikan pesannya.
Emosi yang sering dianggap mengganggu, seperti rasa gelisah yang menusuk, kesedihan yang tak beralasan, kecemasan yang melumpuhkan, atau kebingungan yang berkepanjangan, seringkali secara gegabah kita anggap sebagai ‘musuh’ yang harus segera disingkirkan. Padahal, justru di dalamnya terkandung pesan-pesan penting mengenai aspek-aspek kehidupan kita yang belum terselesaikan, kebutuhan yang terabaikan, dan ketakutan yang mendominasi. Dengan mendengarkan sinyal ini, kita beralih dari menyembunyikan masalah menjadi memahami akar penyebabnya, membuka jalan menuju penyembuhan dan pertumbuhan diri yang sesungguhnya.
Perjalanan hidup tidak pernah benar-benar tentang menghilangkan keresahan, tetapi tentang menemukan cara yang lebih bijak untuk memahaminya. Sebab itulah, setiap orang memiliki prosesnya sendiri, dan tidak ada satu pun bentuk emosi yang perlu kita anggap sebagai kegagalan. Justru melalui pergulatan itulah kita bisa mengenal diri dengan lebih jujur.
Pada dasarnya, ketenangan tidak datang dari menolak rasa sakit, melainkan dari keberanian untuk menatap langsung apa yang selama ini kita hindari. Keresahan, kegelisahan, bahkan rasa kehilangan arah, semuanya adalah bagian yang sah dalam perkembangan diri. Dengan menerima pesan-pesan yang muncul dari dalam diri, kita bukan hanya merawat emosi, tetapi juga membangun fondasi untuk hidup yang lebih sehat secara mental dan spiritual.
Kita bisa mengingatkan diri sendiri bahwa hidup tidak harus terburu-buru dan tidak selalu harus sempurna. Ada nilai dalam melambat, merenung, dan mendengar suara hati yang sering kita abaikan. Maka, ingatlah bahwa setiap keresahan membawa peluang untuk tumbuh, dan bahwa diri kita layak untuk dipahami, diterima, dan dipeluk, bahkan pada hari-hari paling berat sekalipun.
*) Ma’ruf Atmojo Supriatna, Mahasiswa Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Muhammdiyah Malang
