Kamis, Februari 19, 2026

Belajar Bahasa dan Wawasan Dunia

Richard Poeh
Richard Poeh
Pengajar di Universitas Pelita Harapan Tangerang
- Advertisement -

Bahasa merupakan bagian dari keberadaan makhluk hidup yang secara natural perlu dan harus berinteraksi. Manusia secara khusus diketahui mengalami proses perkembangan dalam menggunakan bahasa, seiring berkembangnya peradaban dan kebudayaan. Dapat diperdebatkan mana yang memengaruhi mana, tetapi setidaknya asumsi dari tulisan ini adalah bahwa di mana terjadi perubahan cara, dinamika, dan gaya hidup, maka terjadilah perubahan di dalam bahasa itu sendiri. Ini mengandaikan juga perubahan tersebut tidak terjadi secara netral meskipun selalu natural.

Ketidaknetralan tersebut membuat pembelajaran bahasa turut tidak netral. Dimulai dari motivasi seorang pelajar dalam belajar bahasa yang memiliki muatan nilai, sampai beragam konteks penggunaan bahasa yang mendorong pengguna bahasa untuk menghasilkan produk, memberikan makna, sampai bertindak. Ini semua akan dipengaruhi oleh posisi pembelajar dan pengguna bahasa.

Berbicara mengenai motivasi, pandangan mengenai apa yang dinilai berharga akan menjadi pendorong seseorang untuk belajar bahasa. Ada yang belajar karena terkagum akan kompleksitas dan kerapian bahasa yang bersumber pada anggapan adanya kemungkinan bahasa dipelajari. Yang lain mendekati bahasa karena mereka menyadari bahwa dengan bahasa, ada benefit yang diperoleh, dari sekadar kekaguman sampai kemungkinan mendapatkan penghasilan yang baik. Di sini kita berbicara tentang bagaimana seseorang yang terampil berbicara dan menulis akan dipandang baik oleh orang lain, dan ini membuka kesempatan untuk mereka memperoleh tanggung jawab dan kepercayaan untuk mengerjakan sesuatu.

Keterampilan menggunakan bahasa merupakan sesuatu yang sangat penting karena ini berkaitan dengan bagaimana kita memandang dunia ini. DUnia ini tidak hanya sekadar sebagai objek atau benda yang apa adanya, tetapi karena kita melihat kegunaan dari benda sekaligus tantangan yang muncul akibat adanya benda (Peterson: 2019, 261). Dengan kata lain, dunia ini menghadirkan dirinya sebagai sesuatu yang dapat kita manfaatkan sekaligus sesuatu yang harus kita hadapi (Peterson: 2019, 216).

Pendapat Jordan B.Peterson, terlepas dari kontroversi yang ia munculkan, membantu kita memahami aspek kegunaan bahasa yang tidak netral ini. Ia berkata bahwa ketika kita berhadapan dengan orang lain, kita melihat mereka sebagai pihak yang akan kita ajak berkomunikasi dan bahkan bekerja sama (262). Itulah mengapa kita perlu memastikan bahasa kita jujur dan sekaligus presisi. Ini terkait bagaimana kita menjalani dan memaknai apa yang akan menjadi tujuan hidup kita. Orang lain adalah bagian yang tidak terhindari di dalam hidup kita, dan mereka juga yang akan membantu atau menghalangi kita untuk bertumbuh dan mencapai tujuan tertinggi hidup kita. Kita mendorong orang untuk bernegosiasi dipengaruhi oleh bagaimana kita menggunakan bahasa kita. Ini sebabnya, memperhatikan bagaimana kita mengartikulasikan bahasa kita menjadi sangat penting.

Sebagai konsekuensi, dalam memaknai hidup, bahasa turut menjadi penting. Makna hidup memang akan dihadapi dan dijalani secara individu, tetapi ia perlu diasah melalui interaksi dengan orang lain. Interaksi inilah yang membuat keterampilan berbahasa menjadi sangat penting.

Tentu akan berbeda jika kita memandang hidup ini harus sepenuhnya terlepas dari orang lain, bahwa orang lain tidak perlu menjadi bagian yang memengaruhi hidup kita. Walaupun sangat sulit dipertahankan menurut saya, pandangan ini tetap mencerminkan adanya posisi yang tidak netral, yang tidak bermuatan nilai sama sekali. Sekali kita terjun di dalam kehidupan ini, segalanya menjadi tidak netral. Karena bahasa adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses perjalanan hidup kita, belajar bahasa pun akan menjadi tidak netral.

Di sinilah pentingnya setiap pembelajar dan pengajar bahasa memahami wawasan dunia. Wawasan dunia adalah cara pandang seseorang mengenai realita ini. Ini semacam lensa yang kita gunakan dalam memaknai setiap aspek dalam kehidupan yang kemudian memengaruhi bagaimana kita bereaksi dan beraksi terhadapnya. Wawasan dunia acapkali dikaitkan dengan pertanyaan besar kehidupan seperti dari mana asal dunia ini, apa tujuan dan makna hidup manusia, ke mana kita akan pergi setelah meninggal, dan apa yang menjadi dasar moralitas manusia.

Dalam belajar bahasa, tujuan keberadaan manusia menjadi relevan untuk mengarahkan kita dalam menggunakan bahasa. M

Richard Poeh
Richard Poeh
Pengajar di Universitas Pelita Harapan Tangerang
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.