OUR NETWORK
Sabtu, Juli 24, 2021

Bedanya Nasib Kurir Tahun 1949 Dengan Kurir Tahun 2021

Yoggi Bagus Christianto
Mahasiswa FKIP UNS

Di tengah pandemi, dunia sedang dilanda kebingungan. Ingin keluar rumah membeli barang dan makanan tentu di ada aturan yang melarang atau diam di rumah dengan memanfaatkan gofood nanti dikira pemalas atau tidak mandiri. Memang sangat susah menjadi manusia yang manusia di tengah pandemi. Perilaku yang buruk dihakimi, perilaku yang baik dicurigai.

Di bulan Mei 2021 telah beredar banyak video amatir yang memperlihatkan perilaku kasar customer online shop terhadap kurir/pengantar produk online shop. Perilaku kasar menunjukan atas dasar barang yang diterima tidak sesuai dengan ekspektasinya. Perilaku kasar biasanya dilakukan dengan mencaci, melempar barang, marah-marah bahkan hingga mengguyurkan air kepada seorang kurir.

Betapa malangnya kurir yang bekerja seperti tidak ada harga dirinya bahkan dianggap layaknya babu bahkan babi. Mereka rela menggowes sepeda motornya dengan sisi kanan dan sisi kiri penuh dengan paketan barang orang. Kepercayaan ini sangat besar yang di tanggung oleh kurir, belum lagi masih hidup diantara Covid-19 yang merebak. Kalimat, “misi, pakeeet..” manis di telinga customer, namun ketika paket di buka, apa daya seorang kurir di caci karena barang tidak rekomended.

Kurir di era sekarang memang memiliki tingkat derajat yang sangat rendah di atas pengangguran. Namun berbeda kurir-kurir di zaman penjajahan dan sekitar kemerdekaan. Mereka sangat disanjung-sanjung karena tugasnya yang begitu mulia. Para kurir berbondong-bondong membawa pesan-pesan kemerdekaan bahkan melompati pagar dan melewati para tentara yang sedang bertukar peluru. Sangat menegangkan hidup di masa peperangan, apalagi tugas para kurir. Jika tertangkap, hukuman penjara patut disyukuri daripada peluru menyasar di dalam tubuh kurir.

Peristiwa Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta mengingatkan pentingnya tugas kurir dalam mempertahankan kemerdekaan RI karena mengingat bahwa negara Indonesia kala itu baru lahir.

Pada tahun 1949, serdadu Belanda telah mengepung kota Yogya di segala penjuru serta kekuasaan Hamengku Buwono IX terbatas hanya di dalam Keraton saja, lantas bagaimana hubungan Hamengku Buwono IX atau yang masa kecilnya bernama Dorojatun dengan tokoh-tokoh negara seperti Ir. Soekarno, Moh. Hatta dan yang lainnya. Tentu menggunakan kurir yang gesit melewati medan peperangan. Pihak luar terutama para pejuang dan gerilyawan sangat menunggu komando dari mahasiswa alumni Univesitas Leiden (HB IX).

Peran kurir sangat besar termasuk melalui mereka komunikasi ke dan dari luar kota dapat berjalan dengan gesit dari pos yang satu ke pos yang lainnya. Melalui para kurir, Hamengku Buwono IX dapat mengirim pikirannya melalui tulisan kepada para menteri-menteri lainnya seperti Kusnan, Ir. Dr. Juanda, dr. Halim dan juga para pemimpin militer bahkan hingga Panglima Perang Sudirman.

Keadaan Yogya pada kala itu memang menegangkan, pada siang hari keadaan seperti tentram dan para serdadu Belanda berani untuk berada di pos-pos penjagaan, namun ketika malam tiba para serdadu Belanda tak berani berkeluyuran karena ada “hantu-hantu bersenjata” yang ada untuk menembaki tentara Belanda kemudian beberapa waktu akan lenyap seperti hantu. Kemudian para serdadu Belanda berani membalas dendam keesokan harinya dengan menerobos kampung-kampung untuk membabati jiwa tak bersalah.

Hal ini menunjukan peran penting seorang kurir dalam membawa pesan kepada para pemimpin lainnya untuk menyusun siasat dalam rangka menggusah Belanda.

Di samping mereka berlarian bahkan kucing-kucingan, pernah para kurir ini benar-benar dalam keadaan menegangkan. Setelah Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, para serdadu Belanda masuk ke dalam Keraton menemui Hamengku Buwono IX untuk dimintai pertanggungjawaban. Kurang beruntungnya ketiga kurir Panglima Besar Sudirman berada di dalam Keraton yang membawa pesan mengenai peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 untuk disampaikan ke Hamengku Buwono IX, namun kebetulan nyawa mereka selamat dikarenakan seragam yang mereka pakai menyerupai “abdi dalem” Keraton sehingga pandangan mata serdadu Belanda kurang mengawasi apalagi kondisi hati serdadu Belanda kala itu sedang panas hati.

Peristiwa tersebut menampilkan tugas dan tanggungjawab para kurir yang menegangkan dan memiliki tanggungjawab yang sangat besar, berbeda dengan keadaan saat ini, para kurir tidak di hargai oleh para customer. Sayang sekali, nasib kurir berbeda antara masa lalu dengan masa sekarang, padahal tanggungjawab yang dipikul sama namun bedanya respon pihak yang dituju.

Yoggi Bagus Christianto
Mahasiswa FKIP UNS
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.