Baru-baru ini, istilah “bed rotting” menjadi tren di media sosial. Istilah ini merujuk pada kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di kasur untuk menggulir layar ponsel, menonton serial, atau makan camilan sambil menghindari aktivitas sehari-hari. Kebiasaan ini digambarkan sebagai self-care dan pemulihan dari kelelahan rutinitas. Banyak orang memujinya sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya kerja yang serba produktif dan terlalu fokus pada hasil. Namun, di balik itu terdapat pola yang lebih mendalam, yaitu sebagian orang yang membenarkan kegagalannya menepati niat baik pada diri sendiri, termasuk niat sederhana seperti bangun pagi untuk berolahraga, dengan istilah yang terdengar modern, seperti listening to my body. Dengan begitu, kegagalan tersebut tampak sebagai keputusan yang bijak, bukan kelalaian.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal yang baru. Dua gagasan filsafat Yunani kuno, yaitu akrasia yang dibahas Aristoteles dan hedonisme Epicurus, sudah menyentuh persoalan ini lebih dari dua ribu tahun sebelum istilah bed rotting populer. Tulisan ini berargumen bahwa bed rotting tidak sepenuhnya keliru, tetapi berbahaya bila dijadikan pembenaran otomatis tanpa refleksi. Alih-alih menyalahkan diri sendiri sebagai pemalas atau memandang rebahan sebagai perawatan diri tanpa syarat, filsafat menawarkan cara berpikir yang jujur tentang mengapa kita terus kalah oleh kasur dan apa yang sebaiknya dilakukan.
Akrasia: Ketika Tahu yang Benar Tapi Tetap Kalah
Dalam Nicomachean Ethics (Buku VII), Aristoteles membahas secara sistematis akrasia, yaitu kondisi ketika seseorang tahu apa yang seharusnya dilakukan, tetapi gagal melakukannya karena kalah oleh dorongan sesaat. Persoalannya bukan kebodohan atau ketidaktahuan. Aristoteles menggambarkan pengetahuan si akratik seperti pengetahuan orang yang mengantuk atau mabuk. Ada, tetapi tidak sepenuhnya aktif ketika godaan datang. Orang yang akratik tahu bahwa olahraga itu baik untuk kesehatan, tetapi tetap menyerah pada kenikmatan sesaat dari kasur yang hangat.
Menurut Aristoteles, hal ini terjadi karena hasrat mengganggu cara pengetahuan itu dipakai dalam situasi konkret. Si akratik tetap meyakini bahwa olahraga itu baik, tetapi pada pagi yang dingin keyakinan itu kalah oleh keinginan untuk tetap hangat dan nyaman. Itulah akrasia, kegagalan mengendalikan tindakan sesuai dengan penilaian yang sebenarnya diyakini.
Persoalan ini masih dibahas hingga kini. Filsuf kontemporer Alfred Mele, misalnya mengulasnya dalam artikel “Weakness of Will and Akrasia” (2010), yang menunjukkan bahwa kegagalan menepati niat bukan sekadar masalah moral kuno, melainkan persoalan yang terus dikaji sampai sekarang.
Hedonisme Epicurus: Rebahan Bukan Otomatis Self-Care
Di sisi lain, ada Epicurus, filsuf Yunani yang terkenal dengan hedonisme, yaitu pandangan bahwa kesenangan adalah tujuan hidup manusia, seperti tertulis dalam suratnya kepada Menoeceus yang dilestarikan Diogenes Laertius (Buku X). Sekilas, gagasan ini terdengar seperti pembenaran filosofis untuk bed rotting, kejar saja yang membuat nyaman, urusan lain belakangan. Namun, pembacaan seperti itu terlalu menyederhanakan Epicurus.
Sebagaimana diuraikan dalam entri “Epicurus” di Stanford Encyclopedia of Philosophy, Epicurus membedakan kesenangan kinetik dan katastematik. Kesenangan kinetik muncul dalam proses atau aktivitas, misalnya rasa nyaman saat berbaring di kasur. Sementara itu, kesenangan katastematik adalah keadaan bebas dari rasa sakit atau kegelisahan, misalnya tubuh yang bugar dan pikiran yang tenang berkat kebiasaan berolahraga. Pembedaan ini perlu dibaca dengan hati-hati, yakni istirahat untuk memulihkan tubuh yang benar-benar lelah pun dapat mengantar pada kesenangan katastematik. Persoalannya bukan pada rebahan itu sendiri, melainkan pada apakah rebahan tersebut benar-benar memulihkan atau hanya menunda sesuatu yang sebenarnya kita tahu lebih baik dijalani.
Epicurus juga tidak menyarankan manusia mengejar kesenangan sesaat semata. Ia justru mendorong pengendalian diri dan kesediaan menahan rasa sakit atau menunda kepuasan demi kesenangan yang lebih besar, sebagaimana dibahas dalam jurnal “Happiness in the Garden of Epicurus”. Dalam konteks olahraga pagi, kelelahan sesaat dapat dipandang sebagai harga yang layak dibayar demi tubuh yang sehat dan pikiran yang lebih jernih. Dengan kata lain, jika bed rotting dijadikan solusi tunggal dan terus-menerus untuk mengatasi lelah, hal itu bertentangan dengan semangat hedonisme Epicurus, yang menuntut kebijaksanaan dalam memilih kesenangan, bukan penyerahan diri pada kenyamanan sesaat.
Ketika Dua Teori Ini Bertemu
Jika ditarik benang merahnya, akrasia dan hedonisme Epicurus membahas persoalan yang sama dari dua sudut pandang. Akrasia menyoroti kegagalan bertindak, yaitu seseorang tahu apa yang baik, tetapi kalah oleh dorongan sesaat. Hedonisme Epicurus menyoroti ketepatan dalam memilih kesenangan, seperti kenyamanan seperti berbaring bukanlah sesuatu yang salah, tetapi tidak boleh mengorbankan ketenangan dan kesehatan yang lebih bertahan lama.
Di titik inilah tren bed rotting menarik untuk dilihat kembali. Beristirahat dan mencari kenyamanan tentu bukan sesuatu yang salah, terutama ketika tubuh dan pikiran memang membutuhkan jeda. Namun, kenyamanan sesaat juga dapat membuat seseorang menunda aktivitas yang sebenarnya ingin atau perlu dilakukan. Seorang psikolog klinis di Northwell Health bahkan mengingatkan bahwa bed rotting yang berlebihan dapat menjadi bentuk penghindaran yang dilabeli perawatan diri. Karena itu, persoalannya bukan pada apakah seseorang memilih beristirahat atau tidak, melainkan pada bagaimana ia memahami kebutuhan tersebut dan menyadari alasan di balik pilihannya.
Penutup: Langkah Strategis di Tengah Tren Perkembangan
Ini bukan ajakan untuk menghakimi siapa pun yang lemah dan butuh istirahat. Rebahan sesekali jelas wajar dan perlu. Yang perlu dikritisi adalah ketika bed rotting berubah dari jeda sesaat menjadi kebiasaan permanen yang dibenarkan tanpa refleksi, sampai-sampai niat sesederhana olahraga pun ikut jadi korban.
Dari akrasia, kita belajar bahwa niat saja tidak cukup untuk melawan godaan sesaat, apalagi ketika ponsel membuat kita betah berlama-lama di kasur. Dibutuhkan strategi konkret, seperti menyiapkan baju olahraga sejak malam, meletakkan ponsel dan alarm jauh dari jangkauan tangan, atau membuat janji olahraga bersama teman, supaya niat tidak semudah itu dibatalkan.
Dari hedonisme Epicurus, kita belajar membedakan secara lebih jujur kenyamanan sesaat dari kesenangan yang benar-benar memulihkan dan bertahan lama, sebelum melabeli setiap bentuk rebahan sebagai self-care. Pertanyaan sederhana yang bisa membantu “Apakah rebahan ini benar-benar memulihkan, atau justru cara untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya ingin kita hindari?” Filsafat, pada akhirnya, bukan sekadar teori berat yang jauh dari tren masa kini. Lewat akrasia dan hedonisme, kita punya alat untuk menilai ulang tren seperti bed rotting secara lebih kritis, alih-alih ikutan memujanya begitu saja.
