Dalam satu dekade terakhir, istilah mental health atau kesehatan mental telah bertransformasi dari sekadar terminologi medis menjadi “bahasa ibu” bagi Generasi Z. Namun, di balik populernya istilah ini, muncul perdebatan sengit di ruang publik: Apakah Gen Z benar-benar generasi yang rentan secara psikologis, ataukah mereka adalah korban dari sistem dunia yang kian tidak manusiawi?
Fenomena ini tidak bisa dipandang sebelah mata dengan sekadar melabeli mereka sebagai “generasi stroberi” yang lembek. Kita perlu membedah anatomi kegelisahan ini secara profesional dan objektif.
Gen Z adalah generasi pertama yang lahir dan tumbuh dengan algoritma sebagai pendamping hidup. Media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan cermin identitas. Di sini, paradox pertama muncul. Melalui layar ponsel, mereka terpapar pada standarisasi kesuksesan global yang absurd. Mereka tidak lagi bersaing dengan teman sekelas, melainkan dengan jutaan orang di seluruh dunia yang memamerkan kurasi kehidupan terbaik mereka.
Paparan konstan terhadap gaya hidup “pencapaian instan” ini menciptakan apa yang disebut sebagai Status Anxiety. Tekanan untuk menjadi “luar biasa” sebelum usia 25 tahun telah menjadi beban kognitif yang melelahkan. Ketika realita hidup tidak seindah feed Instagram, muncul rasa kegagalan eksistensial yang berujung pada kecemasan akut.
Secara makro, Gen Z menghadapi tantangan zaman yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Krisis iklim yang kian nyata, ekonomi yang tidak stabil akibat disrupsi teknologi, hingga lapangan kerja yang kian kompetitif dan tidak menentu menciptakan rasa tidak aman (insecurity) yang kronis.
Mereka adalah generasi yang dituntut untuk terus “berlari” dalam ketidakpastian. Di dunia profesional, mereka menghadapi budaya hustle culture yang memuja produktivitas hingga titik nadir. Ironisnya, di tengah tuntutan performa yang tinggi, mereka sering kali menemui jalan buntu dalam hal kepemilikan aset atau stabilitas finansial jangka panjang. Beban masa depan ini adalah pemicu utama burnout di usia dini.
Salah satu kemajuan besar Gen Z adalah keberanian mereka mematahkan stigma kesehatan mental. Mereka lebih terbuka mencari bantuan profesional. Namun, hal ini sering kali disalahartikan oleh generasi yang lebih tua sebagai bentuk kelemahan. Terjadi gap empati di sini; di mana generasi terdahulu yang tumbuh dalam kultur “ketangguhan fisik” sulit memahami “ketangguhan mental” yang dibutuhkan di era digital.
Kita harus mengakui bahwa dunia saat ini menuntut daya tahan mental yang berbeda. Jika dahulu tantangannya adalah bertahan hidup secara fisik, kini tantangannya adalah bertahan hidup dari banjir informasi dan tekanan ekspektasi digital yang tak pernah tidur.
Kesehatan mental Gen Z bukan hanya urusan individu atau komunitas tertentu, melainkan tanggung jawab kolektif.
- Pemerintah dan Kebijakan: Perlu ada integrasi layanan kesehatan mental yang terjangkau dan mudah diakses hingga ke tingkat akar rumput.
- Dunia Usaha: Perusahaan harus mulai menyadari bahwa kesejahteraan mental karyawan adalah investasi, bukan beban operasional. Kebijakan kerja yang fleksibel dan manusiawi adalah kunci.
- Pendidikan: Kurikulum pendidikan kita perlu menyisipkan manajemen emosi dan literasi digital sejak dini agar anak muda tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi tangguh secara psikologis.
Menyederhanakan isu mental Gen Z sebagai “manja” adalah sebuah kenaifan intelektual. Mereka adalah produk dari zamannya—zaman yang bergerak terlalu cepat dengan tuntutan yang terlalu tinggi. Menghargai kesehatan mental bukan berarti melegitimasi kelemahan, melainkan sebuah strategi bertahan hidup yang bijak.
Sudah saatnya kita berhenti menghakimi dan mulai mendampingi. Karena pada akhirnya, ketahanan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonominya, tetapi juga dari kesehatan jiwa generasi penerusnya.
