Ketika teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memahaminya, pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa yang paling cepat beradaptasi, melainkan siapa yang paling siap mengelola konsekuensinya. Kecerdasan artifisial (artificial intelligence atau AI) menghadirkan tantangan tersebut bagi bank sentral. Meskipun teknologi ini menawarkan peluang untuk meningkatkan efisiensi dan kemampuan analisis, AI juga menuntut lembaga untuk memikirkan kembali cara mereka menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan.
Tantangan ini mengemuka dalam konferensi South East Asian Central Banks (SEACEN) di Bali pada 5 Oktober 2026. Bank Indonesia menekankan pentingnya pendekatan yang terkoordinasi ant bank sentral untuk membangun tata kelola AI yang tepercaya, memperkuat sistem pembayaran, dan menjaga ketahanan keuangan kawasan. Pesannya jelas, merespons AI tidak cukup hanya dengan memperkenalkan teknologi baru. Bank sentral juga harus memperkuat kapasitas kelembagaan untuk memahami dan mengantisipasi perubahan yang dibawa oleh AI.
Secara tradisional, bank sentral mengandalkan data ekonomi, kerangka analisis, dan pertimbangan kebijakan untuk menjalankan mandatnya. AI berpotensi memperluas kemampuan tersebut. Teknologi ini dapat membantu mengolah data dalam jumlah besar, mengidentifikasi pola, dan mempercepat analisis ekonomi. Dalam sistem pembayaran, AI juga dapat mendukung pendeteksian transaksi tidak wajar dan meningkatkan efisiensi operasional.
Namun, kemampuan mengolah data dengan cepat tidak serta-merta menghasilkan keputusan yang lebih baik. Kinerja AI tetap bergantung pada kualitas data, metode yang digunakan, serta kemampuan manusia untuk menafsirkan hasilnya secara tepat. Pola yang terlihat meyakinkan belum tentu membuktikan adanya hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu, AI seharusnya berfungsi sebagai alat analisis, bukan pengganti pertimbangan profesional dan akuntabilitas para pembuat kebijakan.
Di sinilah tantangan sesungguhnya bagi bank sentral bermula. Mereka tidak hanya perlu memahami apa yang dapat dilakukan AI, tetapi juga mengetahui batasan-batasannya. Adopsi teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia, tata kelola data yang baik, pengawasan yang efektif, serta kemampuan untuk menguji dan mengevaluasi hasil yang dihasilkan AI. Tanpa fondasi tersebut, penerapan AI justru dapat menambah kompleksitas dalam pengambilan keputusan kebijakan, alih-alih memperbaikinya.
Sebagian pihak mungkin berpendapat bahwa bank sentral perlu sangat berhati-hati dan menunggu hingga teknologi AI menjadi lebih matang. Pandangan ini memiliki dasar yang kuat, terutama karena keputusan bank sentral dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi yang luas. Namun, menunda seluruh bentuk adopsi AI juga bukan tanpa risiko. Teknologi terus berkembang, sementara tuntutan analisis dan pengawasan semakin kompleks. Pendekatan yang lebih proporsional adalah menguji penerapan AI secara bertahap, mengevaluasi manfaat dan risikonya, serta mempertahankan pengawasan manusia sesuai dengan tingkat kepentingan setiap keputusan.
Tantangan lainnya adalah keterbatasan pendekatan yang hanya mengandalkan kemampuan masing-masing negara. Ekosistem AI dan keuangan semakin saling terhubung melalui penyedia teknologi, arus data, dan transaksi lintas batas. Perbedaan kapasitas pengawasan antarnegara dapat mempersulit upaya menangani risiko yang melampaui yurisdiksi nasional. Karena itu, kerja sama regional semakin menjadi kebutuhan strategis, bukan sekadar pelengkap diplomasi kelembagaan.
SEACEN dapat berperan sebagai wadah untuk berbagi pengalaman, mengembangkan kapasitas kelembagaan, dan mempertemukan perspektif kebijakan bank sentral di seluruh kawasan. Melalui dialog dan penelitian kolaboratif, negara-negara dapat mempelajari pendekatan yang terbukti efektif sekaligus mengidentifikasi risiko yang mungkin belum muncul di yurisdiksi mereka sendiri. Kerja sama semacam ini tidak mengharuskan setiap negara menerapkan kebijakan yang identik. Kondisi dan prioritas nasional akan tetap berbeda, tetapi prinsip-prinsip bersama dalam mengelola risiko dapat dikembangkan secara kolektif.
Pada akhirnya, memperkuat respons terhadap AI bukan berarti menjadikan seluruh proses bank sentral bergantung pada teknologi. Sebaliknya, kehadiran AI justru membuat pemahaman terhadap mandat kelembagaan, pengembangan keahlian manusia, dan jaminan akuntabilitas keputusan menjadi semakin penting. Seorang pelaut dapat menggunakan radar untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang perairan di sekitarnya, tetapi pengalaman dan pertimbangan tetap diperlukan untuk menentukan arah pelayaran yang tepat.
Konferensi SEACEN menjadi pengingat bahwa kesiapan menghadapi AI harus dibangun secara berkelanjutan. Bank sentral perlu tetap adaptif tanpa meninggalkan prinsip kehati-hatian, mendorong inovasi tanpa melemahkan pengawasan, serta memperkuat kapasitas domestik sembari memperdalam kerja sama regional. Di era ketika perubahan teknologi sulit dibendung, institusi yang paling tangguh belum tentu merupakan institusi yang paling cepat mengadopsi AI, melainkan institusi yang paling siap mengatur dan mengelola penggunaannya.
